SUASANA di Istana Negara, Jakarta, pada Kamis (6/8/2026) terasa bergetar oleh iklim pemikiran strategis dan dialog kebangsaan tingkat tinggi.
Di hadapan sekitar 150 profesor, peneliti senior, akademisi unggulan, serta jajaran pimpinan tinggi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pengarahan langsung yang memadukan visi besar geopolitik, otokritik tajam terhadap realitas nasional, hingga insiden panggung yang menghadirkan momen unik tak terlupakan.
Pertemuan puncak antara Kepala Negara dan para profesor ini menegaskan satu pesan sentral: penguasaan sains dan inovasi adalah benteng utama kedaulatan bangsa.
Di tengah pemaparannya mengenai pentingnya penguasaan teknologi tinggi untuk menjaga martabat Republik, muncul momen kontroversial ketika Presiden Prabowo mulai menyinggung isu yang amat sensitif: dinamika geopolitik global, daya tawar penangkal (deterrence effect), serta pembelajaran strategis dari potensi pengembangan teknologi nuklir yang kerap memicu ketegangan internasional, sebagaimana terjadi pada kasus Iran.
Dinamika pembahasan geopolitik dan daya tawar kedaulatan yang sedang berlangsung hangat tersebut mendadak diwarnai kejutan teknis ketika perangkat mikrofon yang digunakan Presiden Prabowo mendadak mati.
Insiden terputusnya saluran suara di tengah pidato kepresidenan ini sempat memicu suasana tegang sekaligus hening di antara para profesor dan insan peneliti yang hadir di aula utama Istana.
Kendati demikian, gangguan teknis tersebut sama sekali tidak mematahkan alur pemikiran sang Presiden.
Dengan ketenangan dan keluwesannya, Prabowo tetap melanjutkan pesannya di hadapan para profesor, menegaskan kekuatan kedaulatan sesungguhnya dari sebuah bangsa tidak terletak pada kerasnya alat pengeras suara, melainkan pada kejelasan visi politik, keberanian kepemimpinan, dan kemandirian penguasaan ilmu pengetahuan yang tidak bisa dibungkam oleh tekanan atau keterbatasan apa pun.
Baca juga: Ketika Marwah Adat Dipinjam Kekuasaan
Setelah melintasi batas-batas pembahasan geopolitik dan sains canggih, alur pidato Presiden Prabowo bergeser menukik ke ranah kebanggaan publik yang sangat dekat dengan hati masyarakat luas: prestasi olahraga nasional sebagai cermin kedaulatan dan disiplin bangsa.
Dengan nada emosional yang memancarkan rasa kesedihan, keprihatinan, sekaligus kekecewaan mendalam, Prabowo melontarkan otokritik terbuka mengenai realitas sepak bola Indonesia di panggung internasional.
Beliau membenturkan fakta historis dan geografis yang sangat kontras untuk mengetuk kesadaran para profesor dan peneliti yang hadir.
"Negara sekecil Cape Verde masuk Piala Dunia, tetapi kita tidak, saya sedih," ungkap Presiden Prabowo di hadapan para intelektual BRIN.
Ungkapan ini bukan sekadar keluhan sentimentil, melainkan sebuah metafora tajam mengenai pentingnya disiplin, tata kelola, dan pembinaan sistematis berbasis riset.
Mengapa sebuah negara kepulauan kecil di lepas pantai barat Afrika dengan populasi tidak lebih dari setengah juta jiwa mampu menembus putaran final ajang olahraga terbesar di bumi, sementara Indonesia dengan populasi mencapai lebih dari 280 juta jiwa dan sumber daya melimpah masih terus berjuang di pinggiran kualifikasi?
Jawaban atas pertanyaan retoris tersebut dapat dirunut secara mendalam melalui pemikiran Mariana Mazzucato, seorang ekonom terkemuka dunia dan Chair in the Economics of Innovation and Public Value di University College London (UCL).






Komentar (0)