Sosiolog: Rokok Ilegal Murah dan Tekanan Teman Bikin Remaja Merokok

kompas.com
4 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS.com - Harga rokok ilegal murah dan tekanan lingkungan pergaulan menjadi dua faktor yang saling menguatkan dalam mendorong remaja mulai merokok.

Sosiolog Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Rakhmat Hidayat menilai, fenomena tersebut tidak bisa dilihat semata-mata sebagai persoalan pilihan individu.

Kemudahan memperoleh rokok, termasuk melalui penjualan secara eceran, menciptakan kondisi yang membuat remaja semakin mudah mencoba dan mempertahankan kebiasaan merokok.

Menurut Rakhmat, persoalan tersebut merupakan isu besar jika dilihat dalam konteks yang lebih luas.

Ia merujuk pada Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 yang dilakukan Kementerian Kesehatan.

Baca juga: Rokok Ilegal Menyasar Remaja, Dijual Sembunyi-sembunyi di Jakarta

Berdasarkan data tersebut, sekitar 7,4 persen dari total 70 juta perokok aktif di Indonesia berusia 10-18 tahun.

Kelompok usia 15-19 tahun menjadi penyumbang terbesar.

Sementara itu, data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan prevalensi perokok usia 15-19 tahun meningkat dari 9,36 persen pada 2022 menjadi 9,84 persen pada 2024.

“Jadi saya mendapatkan data dari riset saya bahwa tema ini sebenarnya menarik ya dan ini bukan persoalan, bukan menjadi isu yang kecil tetapi menjadi isu yang besar sebenarnya,” kata Rakhmat saat dihubungi Kompas.com, Jumat (7/8/2026).

Di sisi lain, harga rokok di Indonesia juga relatif murah. Rakhmat menyebut harga rokok di Indonesia termasuk dalam 10 termurah di dunia, dengan rata-rata sekitar Rp 28.050 per bungkus pada 2024 atau sekitar Rp 1.078 per batang jika dibeli secara eceran.

Menurut dia, kondisi tersebut tidak terlepas dari struktur tarif cukai yang masih berlapis dan relatif rendah dibandingkan sejumlah negara tetangga.

“Kalau dibandingkan dengan negara-negara yang lain ya dari pengalaman saya tinggal studi tinggal di Eropa atau di Asia memang harga rokok mereka sangat mahal dan Indonesia termasuk negara yang paling murah ya dalam harga rokok itu,” ujar dia.

Harga Murah Membuka Ruang

Rakhmat mengatakan, harga tidak semata-mata harus dipahami sebagai angka ekonomi.

Dalam perspektif sosiologis, harga juga menentukan struktur kesempatan seseorang untuk melakukan suatu perilaku.

Ketika sebatang rokok dapat dibeli dengan harga kurang dari Rp 1.000 atau sekitar Rp 1.000, ambang ekonomi untuk mencoba rokok menjadi sangat rendah.

Kondisi tersebut terutama berpengaruh bagi remaja yang memiliki uang saku terbatas.

“Jadi sebenarnya harga kalau kita bicara soal harga itu kalau dalam perspektif sosiologis itu bukan semata-mata angka ekonomi ya. Tetapi angka itu atau harga itu dipahami sebagai penentu struktur kesempatan,” kata Rakhmat.

Baca juga: Dinkes DKI Ungkap 54.405 Anak Sekolah Punya Faktor Risiko Merokok

Ia menyebut kondisi material di sekitar individu yang membuka atau menutup ruang bagi suatu perilaku sebagai enabling structure.

Artinya, seseorang bisa melakukan suatu tindakan bukan hanya karena niat pribadi, tetapi juga karena lingkungan material membuat tindakan tersebut mudah dilakukan.

Dalam konteks rokok, struktur tersebut semakin kuat ketika rokok dapat dibeli secara batangan.

Rakhmat menilai praktik penjualan rokok secara ketengan menjadi salah satu pintu masuk utama bagi remaja untuk mengakses rokok.

Dengan membeli beberapa batang, remaja tidak perlu mengeluarkan uang sebesar harga satu bungkus.

“Praktik penjualan rokok ketengan atau batangan yang secara empiris terbukti menjadi pintu masuk utama remaja mengakses rokok karena tidak perlu mengeluarkan uang sebesar harga satu bungkus penuh,” ujarnya.

Padahal, menurut Rakhmat, terdapat aturan yang melarang penjualan rokok secara satuan maupun dalam kemasan kecil di bawah 20 batang.

Namun, keberadaan aturan tersebut belum otomatis mengubah kondisi di lapangan.

“Faktanya bahwa aturan tersebut tidak otomatis mengubah struktur sosial di lapangan selama tidak ada sanksi tegas dan pengawasan konsisten,” kata dia.

Warung-warung kecil yang menjadi titik kontak paling dekat dengan kehidupan sehari-hari remaja juga sering kali tidak memiliki insentif maupun kapasitas pengawasan untuk menegakkan aturan mengenai batas usia pembelian rokok.

Rakhmat menilai, kondisi itu menunjukkan adanya kesenjangan antara regulasi formal dan praktik sosial yang berlangsung sehari-hari.

“Fenomena rokok murah yang mudah diakses remaja sebenarnya adalah cerminan dari kesenjangan antara regulasi formal dan praktik sosial yang berlaku,” ujarnya.

Menurut Rakhmat, harga rokok yang murah sangat berpengaruh terhadap terbentuknya budaya merokok di kalangan remaja.

Baca juga: Bunker di Sekolah Swasta Jaksel Sudah Diperiksa Polisi, Berisi Senpi Laras Panjang dan Narkoba

Pengaruh tersebut berlangsung melalui dua mekanisme.

Pertama, harga murah secara langsung menurunkan hambatan ekonomi untuk mencoba rokok dan kemudian menjadi perokok reguler.

Ia merujuk pada riset yang dikutip Kementerian Kesehatan yang memperkirakan kenaikan harga rokok hingga 100 persen berpotensi menekan konsumsi remaja hingga 60 persen.

Angka tersebut, menurut dia, menunjukkan kelompok usia remaja sangat sensitif terhadap harga, bahkan lebih sensitif dibandingkan perokok dewasa yang sudah mengalami ketergantungan secara fisiologis.

Kedua, harga murah mempercepat proses normalisasi sosial.

Ketika rokok mudah dijangkau secara ekonomi dan mudah ditemukan secara fisik, misalnya di warung dekat sekolah, gerobak pinggir jalan, atau tempat yang memungkinkan pembelian secara batangan, rokok tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang istimewa atau terbatas bagi orang dewasa.

Rokok kemudian menjadi bagian dari lanskap keseharian.

“Jadi ini sebenarnya saya melihatnya ada fenomena rokok itu mengalami proses domestikasi, dari simbol yang tadinya dibatasi ruang dan waktu menjadi obyek konsumsi biasa yang hadir di mana-mana,” kata Rakhmat.

Ia membandingkan kondisi tersebut dengan sejumlah negara di Eropa dan Asia yang menurutnya menjual rokok melalui toko-toko resmi, bukan di warung atau pinggir jalan seperti yang mudah ditemukan di Indonesia.

Baca juga: 995 Senpi di Sekolah Swasta Jaksel Disebut Airsoft Gun, Dibeli untuk Latihan Atlet Menembak

Karena itu, harga murah tidak hanya mempermudah transaksi.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

Harga juga ikut mengubah makna sosial rokok.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Mitsubishi Fuso Perkuat Standar Karoseri untuk Tingkatkan Keselamatan Kendaraan Niaga
• 18 jam lalu
0
thumb
Marc Klok Bakar Semangat Timnas Indonesia Jelang Duel Hidup-Mati, Singapura Siap-siap Menangis
• 21 jam lalu
0
thumb
Danantara Bidik Perampingan 34 Anak Perusahaan Telkom (TLKM) Selesai pada 2027
• 17 jam lalu
0
thumb
Faktor Pendukung Biaya Kepemilikan Kendaraan Suzuki Tetap Kompetitif
• 6 jam lalu
0
thumb
Erick Thohir Tegaskan Timnas Indonesia di Piala AFF 2026 Belum Tampilkan Kekuatan Terbaik: Banyak Pemain di Eropa Tidak Bisa Berpartisipasi
• 9 jam lalu
0
Berhasil disimpan.