Pasar Saham Indonesia Menggeliat di Awal Semester II-2026

kompas.id
3 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS — Pasar saham Indonesia mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan pada semester kedua 2026 setelah tertekan sepanjang paruh pertama tahun ini. Indeks Harga Saham Gabungan bahkan masuk jajaran pasar saham dengan kinerja terbaik di Asia dalam sebulan terakhir.

Kendati demikian, pelaku pasar menilai penguatan tersebut masih merupakan fase pemulihan sehingga keberlanjutannya akan ditentukan oleh stabilitas kebijakan ekonomi dalam negeri dan perkembangan kondisi global.

Data Sinarmas Sekuritas dan Bloomberg menunjukkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat sekitar 7,2 persen dalam satu bulan hingga 6 Agustus 2026. Pada penutupan perdagangan Jumat (7/8/2026), IHSG bahkan kembali mencatatkan kenaikan ke level 6.400.

Penguatan tersebut menempatkan Indonesia sebagai salah satu pasar saham dengan performa terbaik di kawasan Asia setelah sebelumnya tertinggal pada Mei-Juni. Pada periode sebulan terakhir, imbal hasil IHSG berada di urutan kedua teratas setelah Indeks Hang Seng yang menguat sekitar 8 persen, dibanding sebelas indeks komposit di berbagai negara di kawasan regional Asia.

Meski demikian, Sinarmas menilai, kenaikan itu dinilai belum sepenuhnya menandakan berakhirnya tekanan di pasar. Faktor eksternal seperti arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (The Fed), perkembangan konflik geopolitik, pergerakan harga komoditas, hingga dinamika politik dan kebijakan ekonomi di dalam negeri masih berpotensi memicu volatilitas.

Keberlanjutan tren positif juga dinilai bergantung pada konsistensi kebijakan pemerintah, stabilitas nilai tukar rupiah, serta arah kebijakan moneter, termasuk proses suksesi Gubernur Bank Indonesia.

Pandangan tersebut sejalan dengan penilaian Bursa Efek Indonesia (BEI). Senior Analyst PT BEI Fikrian Naufal H, dalam paparan di acara Media Connect di Jakarta, Jumat (7/8), mengatakan, perbaikan pasar saham RI mulai terlihat sejak awal Juli.

Menurut Fikrian, dari titik terendah pada akhir Juni hingga akhir Juli, IHSG telah menguat sekitar 10,5 persen. Valuasi saham Indonesia pun kini berada pada level yang menarik karena penurunan harga tidak diikuti penurunan laba emiten.

"Yang terjadi sekarang harga saham turun, tetapi earnings perusahaan masih baik. Ini menunjukkan valuasi pasar sedang berada pada level yang relatif murah," katanya.

Optimisme tersebut didukung oleh kinerja perusahaan tercatat. Berdasarkan laporan keuangan triwulan I-2026, laba bersih seluruh emiten meningkat sekitar 32 persen dibandingkan laporan keuangan tahunan 2025. Sementara laba emiten anggota indeks LQ45 tumbuh hampir 14 persen. Sebanyak 74 persen perusahaan tercatat masih membukukan laba bersih.

Selain itu, aktivitas perdagangan di pasar saham juga tetap meningkat. Hingga Juli 2026, nilai transaksi harian rata-rata mencapai sekitar Rp 22,5 triliun.

Dibandingkan tahun sebelumnya, nilai transaksi tumbuh sekitar 24 persen, frekuensi transaksi naik 41 persen, dan volume perdagangan meningkat sekitar 30 persen.

"Artinya pasar kita sebenarnya masih sangat likuid meskipun berada di tengah ketidakpastian dan volatilitas," ujar Fikrian.

Mengenai prospek semester kedua, Fikrian menilai ruang penguatan pasar masih terbuka, terutama bagi saham-saham berkapitalisasi besar yang tergabung dalam indeks LQ45. Menurut dia, setelah proses rebalancing indeks pada Juli kemarin, arah pasar akan kembali ditentukan oleh perkembangan makroekonomi dan fundamental emiten.

Sama seperti semester pertama 2026, Fikrian mengatakan bahwa tekanan terhadap pasar tetap akan berasal dari konflik geopolitik di Timur Tengah, tingginya inflasi global, kebijakan suku bunga tinggi di oleh The Fed di Amerika Serikat, serta keluarnya dana asing (outflow) dari pasar negara berkembang.

"Outflow yang terjadi merupakan akumulasi dari berbagai sentimen, baik global maupun domestik. Bukan hanya dipicu oleh satu faktor," kata Fikrian.

Menurut dia, The Fed berpotensi mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama sehingga menarik aliran modal keluar dari negara berkembang, termasuk Indonesia.

Selain faktor global, pasar juga dibayangi perubahan proyeksi lembaga pemeringkat, pelemahan rupiah, kenaikan suku bunga Bank Indonesia, hingga penantian hasil peninjauan indeks oleh penyedia indeks global MSCI.

Meski demikian, Fikrian menilai fondasi ekonomi Indonesia masih kokoh. Pertumbuhan ekonomi tetap berkisar 5 persen, inflasi terjaga, cadangan devisa masih memadai, dan rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) perbankan masih sekitar 2 persen atau jauh di bawah ambang batas 5 persen.

"Secara fundamental ekonomi Indonesia masih sangat baik," ujarnya.

Pada kesempatan sama, Director PT Samuel Tumbuh Bersama, Tae Yong Shim, mengingatkan investor agar tidak terburu-buru menyimpulkan bahwa pasar telah keluar dari fase tekanan. Menurut dia, sebagian sentimen negatif seperti isu MSCI dan ketidakpastian kebijakan pemerintah memang telah tercermin dalam harga saham.

Akan tetapi, risiko kenaikan suku bunga dinilai belum sepenuhnya diperhitungkan pasar. Baik Bank Indonesia maupun The Fed memang belum mengubah suku bunga acuannya, tetapi arah kebijakan ke depan masih belum pasti.

"Kenaikan sekitar 10 persen dalam sebulan memang membuat Indonesia menjadi salah satu pasar saham dengan kinerja terbaik. Namun, mengingat pasar telah turun sangat dalam sejak awal tahun, rebound itu belum cukup untuk menyimpulkan bahwa seluruh risiko telah berlalu," ujar Shim.

Karena itu, Samuel Tumbuh Bersama masih mempertahankan sikap konservatif terhadap pasar saham. Dalam strategi alokasi asetnya, porsi investasi saham dibatasi sekitar 10-15 persen dari total aset investasi.

Sementara itu, ia menyarankan agar penempatan dana lebih banyak diarahkan pada kas berdenominasi dolar AS dan instrumen pendapatan tetap. Aset itu baik diakumulasi sampai terdapat kepastian mengenai arah suku bunga dan kondisi ekonomi global.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Kuota Ditambah! War Tiket Upacara HUT ke-81 RI di Istana Merdeka Dibuka Lagi 8-9 Agustus 2026
• 4 jam lalu
0
thumb
IHSG Ditutup Menguat 1,04 Persen ke 6.409,65
• 5 jam lalu
0
thumb
Kapolri Siap Jembatani Aspirasi Buruh, Minta Jaga Keamanan dan Ketertiban
• 58 menit lalu
0
thumb
10 Tiang Listrik Roboh di Jalan Manyar Gresik, Beberapa Kendaraan Tertimpa
• 7 jam lalu
0
thumb
KPK dalami pemberian Blueray Cargo kepada pegawai Bea Cukai
• 22 jam lalu
0
Berhasil disimpan.