jpnn.com, JAKARTA - Anggota Komisi IX DPR RI Muhammad Haris merasa prihatin dengan fenomana tenaga kesehatan (nakes) yang memberi komentar jahat bagi seorang pasien BPJS Kesehatan, Yurizal Tri Chaerawan yang mengeluhkan lama waktu perawatan di media sosial.
"Saya sangat prihatin melihat seorang pasien yang sedang berjuang melawan penyakit justru mendapat komentar yang merendahkan dari oknum tenaga kesehatan," kata dia kepada awak media, Jumat (7/8).
BACA JUGA: Nakes di Tasikmalaya Hina Pasien BPJS, Dedi Mulyadi Minta Disanksi Berat
Diketahui, Yurizal melalui akun @yurizaltrich di Threads mengeluhkan lama waktu pelayanan di sebuah rumah sakit sebagai pasien BPJS.
Keluhan Yurizal menuai reaksi netizen yang juga berstatus nakes dengan komentar jahat agar pasien BPJS Kesehatan tak banyak berbicara.
BACA JUGA: Pemkab Jembrana Hadirkan Kredit PMI Tanpa Bunga dan Rumah Singgah Pasien
Haris mengingatkan seseorang ketika berada di rumah sakit sedang butuh pertolongan dan tak pantas dicibir secara jahat.
"Apa pun situasinya, pasien adalah manusia yang sedang membutuhkan pertolongan dan penguatan, bukan cibiran ataupun perundungan," ujarnya.
BACA JUGA: ASMIHA 2026, Dokter Jantung Indonesia Kompetitif, Mengapa Pasien Pilih Luar Negeri?
Haris menegaskan kritik atau keluhan pasien seharusnya dipandang sebagai masukan untuk memperbaiki kualitas pelayanan.
Menurut legislator fraksi PKS itu, keluhan pasien jangan dianggap sebagai serangan terhadap profesi tenaga kesehatan.
"Keluhan pasien adalah bagian dari evaluasi pelayanan. Respons yang tepat ialah mendengarkan, mengevaluasi, lalu memperbaiki, bukan membalas dengan komentar yang melukai. Empati itu bagian yang tidak terpisahkan dari profesionalisme tenaga kesehatan," kata Haris.
Haris mendorong organisasi profesi, rumah sakit, dan institusi pendidikan kesehatan menjadikan kasus Yurizal sebagai momentum memperkuat pembinaan karakter, etika profesi, serta literasi bermedia sosial bagi nakes.
"Tindakan segelintir oknum yang menunjukkan sikap tidak berempati tidak boleh dibiarkan mencederai kepercayaan publik terhadap profesi yang sangat mulia ini. Harus ada evaluasi dan pembinaan yang serius agar kejadian serupa tidak terulang," ujarnya.
Selain menyoroti aspek etika nakes, Haris meminta pemerintah, BPJS Kesehatan, dan rumah sakit mengevaluasi layanan di rumah sakit terkait waktu lama bagi pesien memperoleh ruang perawatan.
"Jangan sampai masyarakat merasa bahwa menggunakan BPJS berarti harus menerima waktu tunggu yang panjang tanpa kepastian," ujar Haris.
Menurutnya, pelayanan kesehatan yang baik harus mampu menghadirkan kepastian, kecepatan, dan rasa aman bagi masyarakat.
"Persoalan ketersediaan tempat tidur, tata kelola rujukan, dan koordinasi antar fasilitas kesehatan harus terus dibenahi agar pelayanan semakin cepat dan berkualitas," katanya.
Haris berharap tragedi yang dialami Yurizal menjadi pengingat bahwa pelayanan kesehatan tidak hanya diukur dari kecanggihan fasilitas atau keberhasilan tindakan medis, tetapi juga dari penghormatan terhadap martabat pasien.
"Jangan sampai ada lagi pasien yang merasa sendirian ketika mencari pertolongan. Tragedi ini harus menjadi pelajaran bagi kita semua untuk menghadirkan layanan kesehatan yang lebih manusiawi," pungkas Haris. (ast/jpnn)
Redaktur : M. Adil Syarif
Reporter : Aristo Setiawan





Komentar (0)