HARIAN.FAJAR.CO.ID, MAKASSAR — Penguatan budaya literasi menjadi perhatian serius pemerintah di tengah perkembangan teknologi digital yang semakin pesat. Penyediaan buku bacaan bermutu dinilai menjadi salah satu langkah penting untuk meningkatkan kemampuan literasi masyarakat, khususnya peserta didik.
Hal tersebut disampaikan Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Pusat, Hafidz Muksin, dalam Podcast Harian Fajar Makassar di Graha Pena Makassar, Jumat (7/8/2026). Hafidz mengatakan, berdasarkan berbagai indikator, termasuk hasil studi PISA dan asesmen nasional, kemampuan literasi masyarakat Indonesia masih membutuhkan perhatian bersama.
“Kalau kita melihat kondisi literasi bangsa kita, memang masih memerlukan perhatian yang sangat serius. Salah satu penyebab utamanya adalah akses terhadap sumber bacaan yang bermutu dan sesuai jenjang masih terbatas,” ujar Hafidz.
Menurutnya, buku memiliki peran penting dalam meningkatkan budaya membaca. Karena itu, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa terus melakukan berbagai program untuk mendekatkan buku bacaan berkualitas kepada masyarakat.
Hafidz menjelaskan, Badan Bahasa memiliki empat program prioritas, yakni peningkatan kecakapan literasi, pemartabatan bahasa dan sastra Indonesia, pelestarian bahasa dan sastra daerah, serta penginternasionalan bahasa Indonesia.
Tahun ini, pemerintah mendistribusikan sebanyak 5,5 juta eksemplar buku bacaan bermutu ke sekolah-sekolah di seluruh Indonesia. Buku tersebut disalurkan kepada lebih dari 18 ribu sekolah dasar dan lebih dari 6 ribu sekolah menengah pertama.
Namun, Hafidz menegaskan, keberhasilan program tidak hanya diukur dari jumlah buku yang dikirim, tetapi bagaimana buku tersebut benar-benar digunakan oleh siswa dan sekolah.
“Buku yang aman bukan berarti tersimpan rapi di lemari. Buku yang aman adalah buku yang digunakan siswa, dibaca di pojok baca, perpustakaan, maupun di kelas,” katanya.
Ia mengungkapkan, hasil evaluasi menunjukkan sekolah yang menerima buku bacaan bermutu mengalami peningkatan indeks literasi dibanding sekolah yang tidak mendapatkan program tersebut.
Kepala Balai Bahasa Provinsi Sulawesi, Toha Machsum, mengatakan program penyediaan buku bacaan bermutu menjadi langkah penting dalam membangun ekosistem literasi di daerah.
“Literasi itu bukan hanya membaca teks, tetapi bagaimana anak-anak mampu memahami, mengolah informasi, dan menghasilkan pemikiran. Karena itu, ketersediaan buku bermutu sangat penting,” ujar Toha.
Ia menjelaskan, Balai Bahasa Provinsi Sulawesi terus mendorong penguatan literasi melalui kolaborasi dengan pemerintah daerah, sekolah, komunitas, dan masyarakat.
Kepala Dinas Pendidikan Kota Makassar, Achi Soleman menyampaikan apresiasi kepada Badan Bahasa yang telah menyalurkan buku bacaan bermutu untuk sekolah-sekolah di Makassar.
“Alhamdulillah Makassar mendapatkan cukup banyak buku. Tahun ini ada 78 sekolah yang menerima bantuan buku bacaan,” ujar Achi.
Menurutnya, buku-buku tersebut akan dimanfaatkan untuk mendukung program sekolah ramah anak sekaligus meningkatkan minat baca siswa.
Ia menilai buku cerita anak memiliki peran besar dalam membangun karakter peserta didik. Melalui cerita sederhana, anak dapat belajar nilai disiplin, kejujuran, tanggung jawab, hingga keberanian.
Dinas Pendidikan Makassar juga terus mendorong inovasi literasi di sekolah. Salah satunya melalui program Jendela Literasi (Jeli), yakni penyediaan buku bacaan di sekitar ruang kelas agar siswa terbiasa membaca sebelum pembelajaran dimulai.
Selain itu, Dinas Pendidikan Makassar akan mengembangkan program “Surga Literasi” atau Sudut Keluarga Literasi yang menyasar anak usia dini dan siswa sekolah dasar kelas rendah.
“Orang tua nantinya ikut terlibat dengan membacakan buku cerita kepada anak. Ini penting untuk menambah kosakata sekaligus memperkuat kedekatan emosional antara orang tua dan anak,” jelas Achi.






Komentar (0)