DI PERMUKAAN, dua hasil survei yang muncul nyaris bersamaan pada pertengahan 2026 tampak saling bertolak belakang.
Survei Konsumen Bank Indonesia per Juni 2026, menunjukkan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) sebesar 117,8, sementara Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) mencapai 126,4, keduanya masih berada jauh di atas batas optimistis (100).
Artinya, sebagian besar masyarakat masih percaya, kondisi ekonomi dan prospek beberapa bulan ke depan relatif baik.
Namun, pada saat yang hampir bersamaan, survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) memperlihatkan fenomena berbeda.
Tingkat kepuasan terhadap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto turun dari 81,2 persen menjadi 51,1 persen hanya dalam waktu sembilan bulan.
Penurunan lebih dari 30 poin persentase tentu bukan sekadar fluktuasi statistik, melainkan sinyal adanya perubahan persepsi publik terhadap kinerja pemerintahan Kabinet Merah Putih.
Pertanyaannya, apakah kedua survei tersebut saling bertentangan?
Jawabannya justru tidak. Keduanya dapat sama-sama benar karena mengukur dua dimensi psikologis masyarakat berbeda.
Yang satu mengukur ekspektasi ekonomi rumah tangga, sedangkan yang lain mengukur evaluasi politik terhadap pemerintah.
Dalam ilmu perilaku konsumen, kedua dimensi tersebut memang tidak selalu bergerak searah. Paradoks inilah yang menarik untuk dibaca lebih dalam.
Kesalahan sering terjadi dalam membaca hasil survei adalah menganggap seluruh indikator publik mengukur sama. Padahal tidak demikian.
Baca juga: Kenapa Dokter Dilarang Nyinyir?
Bank Indonesia mengukur bagaimana rumah tangga memandang kondisi ekonomi saat ini serta prospek ekonomi beberapa bulan mendatang.
Fokusnya adalah konsumsi, pendapatan, kesempatan kerja, dan rencana pembelian barang tahan lama.
Sebaliknya, survei SMRC menggali evaluasi kepuasan masyarakat terhadap kinerja pemerintah.
Di sini yang dinilai bukan semata-mata kondisi ekonomi pribadi, melainkan efektivitas kepemimpinan, kebijakan publik, komunikasi pemerintah, penegakan hukum, stabilitas politik, hingga kemampuan memenuhi janji kampanye.
Dalam psikologi sosial, seseorang dapat mengatakan: "Ekonomi keluarga saya masih cukup baik."
Tetapi pada saat yang sama juga berkata: "Saya kurang puas terhadap cara pemerintah mengelola negara." Tidak ada kontradiksi di sana. Justru itulah kompleksitas perilaku manusia.
Richard Thaler, peraih Nobel Ekonomi, menjelaskan manusia menggunakan mental accounting dalam mengevaluasi kehidupan.
Masyarakat memiliki "rekening psikologis" yang berbeda-beda. Ada rekening untuk kondisi ekonomi keluarga.
Ada rekening untuk pelayanan publik. Ada rekening untuk politik. Ada pula rekening untuk harapan masa depan.
Akibatnya, seseorang dapat merasa penghasilannya relatif aman karena pekerjaan masih tersedia, tetapi tetap kecewa terhadap kenaikan biaya hidup, pelayanan pemerintah, atau berbagai kebijakan yang dianggap belum menyentuh persoalan sehari-hari.
Dalam perspektif ini, optimisme ekonomi tidak otomatis menghasilkan kepuasan politik bernada simetris.
Daniel Kahneman dan Amos Tversky melalui Prospect Theory menjelaskan, manusia jauh lebih sensitif terhadap kerugian dibandingkan dengan keuntungan.





Komentar (0)