Selama beberapa tahun terakhir Banyuwangi bertransformasi menjadi daerah tujuan wisata utama di ujung timur Pulau Jawa. Garis pesisirnya yang panjang pun memunculkan potensi wisata pantai yang melimpah. Namun, mewujudkan hal itu bukanlah tanpa tantangan.
Salah satu yang sedang merintis wisata tersebut adalah Pantai Kalitopo di Desa Sumberkencono, Kecamatan Wongsorejo. Pantai di pesisir timur Kabupaten Banyuwangi yang berhadapan langsung dengan Pulau Bali itu baru dibuka untuk wisata sejak lima bulan terakhir.
Jaraknya sekitar 35 kilometer arah utara pusat kota Banyuwangi, menyusuri akses jalan nasional menuju Surabaya. Lokasinya tak jauh dari Taman Nasional Baluran di Kabupaten Situbondo, yang memang berbatasan langsung dengan Kecamatan Wongsorejo.
Pembina Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kalitopo Eko Setiawan menceritakan, Pantai Kalitopo tadinya merupakan lahan tidur di kawasan perkampungan nelayan. Warga kemudian berinisiatif mengubahnya menjadi pantai wisata.
Hal ini didorong kondisi kehidupan nelayan yang hanya bisa efektif melaut selama enam bulan dalam setahun. Saat cuaca buruk, aktivitas mencari ikan otomatis terhenti total yang sekaligus berarti menyetop penghasilan mereka.
“Dengan adanya tempat wisata ini, para nelayan tetap bisa mendapat penghasilan meski cuaca laut sedang buruk. Para istri mereka juga bisa membuka usaha makanan-minuman di pantai dan mendapat penghasilan tambahan,” ujar Eko, Sabtu (1/8/2026).
Selain itu, warga juga terinspirasi langkah desa-desa tetangga di pesisir Wongsorejo yang sukses membangun pariwisata berbasis pantai. Salah satu yang sudah mapan adalah Pantai Bangsring yang kondang dengan wisata bawah lautnya.
Gotong royong warga pun mulai membuahkan hasil. Pantai itu secara bertahap dipercantik dengan berbagai fasilitas untuk pengunjung. Tidak ada pungutan retribusi untuk menikmati pantai itu selain biaya parkir kendaraan.
Saat ini, Eko mengatakan, setiap sore pantai dikunjungi sekitar 150 orang. Pada akhir pekan dan momen liburan, jumlah pengunjung bisa melonjak dua kali lipat.
“Warga bisa mendapat penghasilan tambahan Rp 100.000-Rp 200.000 per hari,” ucapnya.
Dia menambahkan, Kalitopo juga menawarkan wisata bahari berupa diving dan wisata dirgantara paratrike atau wahana terbang rekreasional menggunakan parasut dengan motor baling-baling. Ada pula edukasi perkebunan, perikanan, dan peternakan.
Selain jadi solusi abrasi, bakau ini juga akan menambah estetika daya tarik pantai.
Namun, pengembangan Pantai Kalitopo masih menyisakan sejumlah tantangan, salah satunya adalah abrasi yang menggerus bibir pantai. Karakteristik ombak lumayan deras di pantai yang menghadap Laut Bali tersebut.
Persoalan itu pun berupaya dijawab melalui kolaborasi dengan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) Universitas Gadjah Mada (UGM). Para mahasiswa selama 50 hari melaksanakan berbagai program kerja, termasuk di antaranya untuk mengatasi abrasi Pantai Kalitopo.
Mahasiswa koordinator program, Afif Jundy Maulana, menjelaskan, solusi utama mengatasi abrasi adalah memanfaatkan tanaman mangrove jenis bakau hitam. Sebanyak 50 bibit bakau bantuan Kementerian Kehutanan tersebut ditanam di Pantai Kalitopo.
Namun, bibit tak ditanam langsung di tanah pantai, melainkan menggunakan medium inkubasi keranjang. Hal ini untuk mencegah bibit rusak sebelum berkembang karena dihantam ombak dan pasang-surut air laut yang tinggi.
Dengan ditanam di keranjang bambu yang ditancapkan di pasir pantai, bibit bakau dapat bertahan hingga akarnya kuat mencengkeram tanah. “Selain jadi solusi abrasi, bakau ini juga akan menambah estetika daya tarik pantai,” tutur Jundy.
Tak cukup di situ, kawasan pantai yang masih gersang juga ditanami kelapa genjah. Mahasiswa bersama warga menanam sebanyak 200 bibit kelapa tersebut. Mereka menanam pula sejumlah bibit pohon cemara untuk menambah variasi penghijauan.
Di luar itu, terdapat satu masalah lain yang bersumber jauh dari pantai, yakni sampah. Sampah-sampah dari hulu terbawa ke Pantai Kalitopo oleh sebuah kali yang bermuara di pantai tersebut.
Eko mengatakan, pihaknya sudah berulang kali membersihkan pantai dari sampah, tetapi selalu muncul kembali karena sumbernya di hulu kali belum tertangani.
Perlu diupayakan pengolahan sampah di tempat wisata.
“Ini juga yang masih menjadi PR (pekerjaan rumah) kami. Kami berharap UGM bisa turut membantu memberikan edukasi kepada masyarakat di wilayah hulu agar tak membuang sampah sembarangan ke kali karena akan terbawa ke pantai,” ujarnya.
Persoalan sampah ini juga dirasakan di Pantai Bimorejo di wilayah desa tetangga yang masih berada di Kecamatan Wongsorejo. Di pantai itu, mahasiswa KKN-PPM UGM melaksanakan program bersih-bersih pantai dan membangun sebuah insinerator mini.
Meski bukan solusi permanen, hal ini menjadi jawaban sementara terhadap pengelolaan sampah di lokasi yang belum memiliki fasilitas pengolahan sampah tersebut.
Dosen pembimbing lapangan UGM Siti Muti’ah Setiawati mengatakan, problem pengelolaan sampah bukan hanya terjadi di kedua desa tujuan KKN-PPM UGM tersebut, tetapi juga dialami banyak desa lain di Banyuwangi.
Namun, persoalan sampah di Kalitopo dan Bimorejo perlu menjadi perhatian khusus mengingat lokasinya sebagai destinasi wisata. Hal ini tak bisa hanya ditangani oleh mahasiswa, melainkan membutuhkan upaya bersama dengan masyarakat dan pemerintah daerah setempat.
“Perlu diupayakan pengolahan sampah di tempat wisata,” katanya.
Camat Wongsorejo, Mohammad Mahfud, mengakui upaya pengelolaan sampah di wilayah tersebut belum maksimal. Selain belum ada fasilitas pengolahan sampah yang berjalan, kesadaran masyarakat terhadap sampah juga perlu ditingkatkan.
Dia mengatakan, masih banyak warga yang membuang sampah ke kali-kali kering atau yang disebut curah. Hal ini menyebabkan sampah-sampah itu terbawa ke pantai saat musim hujan.
Pihaknya pun berupaya mendiskusikan dengan masyarakat agar secara bertahap menciptakan kesadaran tentang persoalan ini. Hal tersebut dilakukan beriringan dengan upaya membersihkan kali dari sampah, yang telah menjadi salah satu program Pemerintah Kabupaten Banyuwangi.
Harapannya, pantai-pantai di Banyuwangi dapat memancarkan pesona maksimalnya sehingga menarik semakin banyak wisatawan yang ujungngya berdampak positif bagi perekonomian masyarakat.






Komentar (0)