Platform gim daring Roblox mulai menerapkan teknologi kecerdasan buatan alias AI untuk memperkirakan usia pengguna melalui pemindaian wajah atau facial age estimation untuk memperkuat perlindungan anak di platform-nya.
Mengutip situs resmi Roblox, perusahaan menggunakan model AI canggih Persona yang dilatih menggunakan data secara etis dan dievaluasi secara berkelanjutan untuk mengestimasi usia secara andal.
Meski begitu, Roblox menyatakan data wajah atau privasi pengguna tetap aman. Vice President Civility and Partnerships Roblox Tami Bhaumik mengatakan, teknologi tersebut menjadi persyaratan wajib bagi pengguna yang ingin mengakses fitur komunikasi di Roblox. Ini sekaligus mendukung regulasi yang diterapkan Pemerintah Indonesia untuk membatasi ruang gerak anak di media sosial termasuk gim daring, dengan menonaktifkan fitur chat jika masih belum cukup umur.
"Pada awal tahun ini, kami menjadi perusahaan pertama yang memperkenalkan estimasi usia melalui pemindaian wajah sebagai persyaratan wajib. Tujuannya adalah mengetahui usia setiap orang yang menggunakan platform kami apabila mereka ingin berkomunikasi di Roblox," kata Tami dalam acara peluncuran Family Zone di Jakarta, Kamis (6/8).
Menurutnya, setelah verifikasi umur dengan pengenalan wajah selesai dilakukan, sistem akan memperkirakan usia pengguna. Selanjutnya, pengguna akan ditempatkan ke dalam kelompok usia yang sesuai sehingga hanya dapat mengakses fitur dan konten yang relevan dengan kelompok usianya.
Roblox menegaskan proses tersebut tetap mengedepankan perlindungan privasi. Tami mengatakan data wajah yang digunakan selama proses estimasi usia tidak disimpan setelah verifikasi selesai.
"Setelah teknologi mengenali dan memperkirakan usia, data tersebut akan dihapus. Informasi itu tidak digunakan untuk iklan maupun pelacakan. Data hanya digunakan untuk memastikan pengguna ditempatkan pada kategori usia yang tepat," katanya.
Ketentuan pengguna Roblox yang usianya sudah diverifikasi sebagai berikut:
Usia 5–8 tahun
- Jenis akun: Roblox Kids
- Fitur chat: Dinonaktifkan secara bawaan.
- Orang tua dapat mengubah pengaturan chat jika diinginkan.
Usia 9–15 tahun
- Jenis akun: Roblox Select
- Fitur chat: Akses diberikan secara bertahap, sesuai usia dan tingkat keamanan.
- Orang tua dapat mengubah pengaturan chat.
Usia 16 tahun ke atas
- Jenis akun: Roblox
- Fitur chat: Aktif secara penuh.
Menurut Tami, pembatasan fitur chat bertujuan mengurangi risiko anak berinteraksi dengan orang asing di platform.
Tutup Celah Pemalsuan Usia
Teknologi estimasi usia ini juga diterapkan untuk mengatasi praktik pemalsuan usia yang selama ini mudah dilakukan ketika pengguna hanya diminta memasukkan tanggal lahir saat membuat akun.
Tami mengakui banyak anak berusaha terlihat lebih tua agar dapat mengakses fitur yang dibatasi berdasarkan usia. "Sebelumnya pengguna hanya perlu memasukkan tanggal lahir. Hal itu memungkinkan banyak orang memberikan informasi yang tidak benar karena anak-anak biasanya selalu ingin terlihat lebih tua," ujarnya.
Setelah ada sistem verifikasi terbaru, pengguna tidak lagi dapat mengandalkan tanggal lahir semata untuk memperoleh akses ke fitur tertentu. Roblox mengklaim teknologi AI yang digunakan mampu memperkirakan usia pengguna dengan tingkat akurasi yang tinggi.
Selain menggunakan verifikasi wajah, Roblox menerapkan pendekatan berlapis untuk mendeteksi dugaan pemalsuan usia. Tami memastikan sistem tersebut juga membuat Roblox bisa memantau pola aktivitas pengguna di dalam platform.
Jika sistem menemukan kejanggalan, misalnya pola permainan atau percakapan yang tidak sesuai dengan kelompok usia pengguna, Roblox dapat meminta pengguna menjalani proses verifikasi ulang. "Kami tidak hanya mengandalkan estimasi usia melalui wajah. Jika kami melihat adanya kejanggalan, kami dapat meminta pengguna menjalani estimasi usia kembali, bahkan mewajibkan mereka menunjukkan identitas resmi untuk memverifikasi usia," katanya.
Ia menambahkan teknologi tersebut terus disempurnakan agar semakin akurat dalam mengenali berbagai karakteristik wajah. Termasuk warna kulit, ras, dan perbedaan fitur wajah lainnya.
Menurut Tami, ketika teknologi itu pertama kali diperkenalkan, sempat ada anak-anak yang mencoba mengakalinya dengan menggunakan kumis palsu agar terlihat lebih tua. Namun kini algoritma AI telah diperbarui sehingga metode tersebut tidak lagi efektif.
"Kami terus menyempurnakan algoritma sehingga setiap hari teknologi ini menjadi semakin baik, semakin akurat, dan semakin andal," ujarnya.
Modus Pemalsuan Usia Anak
Kementerian Komunikasi dan Digital atau Komdigi mengungkap praktik pemalsuan usia oleh anak-anak saat membuat akun media sosial alias medsos masih menjadi tantangan terbesar. Khususnya dalam penerapan Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak (PP Tunas).
Wakil Menteri Komdigi Nezar Patria mengatakan, berdasarkan hasil survei yang menjadi rujukan pemerintah, mayoritas anak diketahui memalsukan usia. Hal ini dilakukan agar tetap bisa mengakses platform media sosial meski belum memenuhi batas usia yang ditentukan.
"Ada satu survei yang menunjukkan kalau ada lima anak, tiga anak dipastikan memalsukan usianya untuk bisa masuk ke media sosial. Ini sudah umum terjadi," kata Nezar dalam pernyataan tertulisnya, Minggu (6/7).
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi tantangan utama dalam implementasi PP Tunas. Hal ini karena proses verifikasi usia sepenuhnya berada di tangan masing-masing platform digital melalui sistem teknologi yang mereka miliki.
Nezar mengatakan pemerintah telah meminta seluruh penyelenggara platform digital memperkuat mekanisme identifikasi usia pengguna. Hal ini perlu dilakukan tanpa mengesampingkan ketentuan pelindungan data pribadi.
"Kami sudah sampaikan kepada platform karena yang bisa meregulasi ini adalah platform dengan solusi teknologi yang mereka miliki. Namun identifikasi usia juga harus tetap mematuhi prinsip pelindungan data pribadi," ujarnya.





Komentar (0)