Ketika Konsumsi Hari Ini Memakan Pendapatan Esok

katadata.co.id
6 jam lalu
Cover Berita

Satu kali sentuhan di layar ponsel kini dapat mengubah kebutuhan hari ini menjadi tagihan bulan depan. Barang elektronik, tiket perjalanan, bahkan belanja rutin bisa dipecah menjadi cicilan kecil yang terasa lebih ringan. Setelah publik mengenal istilah mantab (makan tabungan), muncul istilah baru yaitu matang (makan utang). 

Sekilas istilah itu terdengar jenaka. Namun di balik istilah tersebut, terdapat perubahan dalam cara rumah tangga mempertahankan konsumsi. Yang perlu dicermati adalah kemungkinan bergesernya sumber konsumsi: dari pendapatan, kemudian tabungan, lalu pendapatan masa depan yang sudah dialokasikan untuk membayar konsumsi hari ini.

Ilusi Resiliensi Konsumsi

Pada triwulan I-2026, konsumsi rumah tangga Indonesia tumbuh 5,52% secara tahunan dan menjadi penopang aktivitas ekonomi. Mandiri Spending Index juga menunjukkan belanja masyarakat pada Mei tumbuh 6,3% dibandingkan setahun sebelumnya. Dari permukaan, daya beli tampak cukup tangguh. 

Namun, lapisan di bawahnya tidak sepenuhnya sejalan. Mandiri Saving Index per akhir Mei menunjukkan indeks tabungan kelompok bawah turun 0,8% secara bulanan menjadi 72,0 dan kelompok menengah turun 0,2% menjadi 101,3. Sebaliknya, indeks kelompok atas meningkat 0,7% menjadi 92,3. Angka konsumsi yang kuat dapat menyembunyikan perbedaan daya tahan antarkelompok. 

Sementara itu, OJK menyampaikan bahwa kredit buy now pay later atau BNPL perbankan mencapai Rp30,1 triliun pada Mei 2026, tumbuh 37,72% secara tahunan. BNPL perusahaan pembiayaan tumbuh 53,78% menjadi Rp13,18 triliun, sedangkan pinjaman daring mencapai Rp103,73 triliun atau meningkat 25,60%. 

Ketiga data itu tidak berarti masyarakat menggunakan utang untuk membeli kebutuhan pokok. Namun, kombinasi data tersebut cukup untuk membuat kita bertanya: apakah konsumsi bertahan karena pendapatan membaik, atau karena rumah tangga semakin mengandalkan penundaan pembayaran?

Di sinilah muncul ilusi resiliensi konsumsi. Dalam perhitungan ekonomi, nilai yang dibelanjakan dari gaji, tabungan, atau paylater seluruhnya tercatat sebagai konsumsi hari ini. Padahal, akibatnya terhadap neraca rumah tangga sangat berbeda.

Belanja dari pendapatan akan mengurangi uang yang tersedia sekarang. Belanja dari tabungan akan mengurangi bantalan menghadapi guncangan di masa depan. Sementara belanja dari utang akan mengurangi disposable income masa depan, serta menambah beban bunga yang harus dibayar di masa depan.

Tebing Konsumsi yang Tertunda

Utang tidak selalu buruk. Kredit dapat membantu keluarga meratakan konsumsi ketika pendapatan bersifat musiman, membayar pendidikan, menghadapi keadaan darurat, atau membeli alat produktif. Riset Bank for International Settlements (BIS) terhadap 54 negara menunjukkan bahwa kenaikan utang rumah tangga dapat mendorong konsumsi dan pertumbuhan dalam jangka pendek. 

Masalah muncul ketika dorongan hari ini berubah menjadi rem pada masa depan. Studi yang sama menemukan bahwa akumulasi utang rumah tangga cenderung menekan pertumbuhan dalam jangka panjang karena semakin besar pendapatan yang harus dialihkan untuk membayar cicilan. 

Rumah tangga tidak langsung berhenti berbelanja ketika mulai tertekan. Penyesuaian konsumsi sering tertunda sampai pada akhirnya berhadapan dengan bertumpuknya tagihan yang harus dibayar, habisnya limit pinjaman, atau terganggunya pendapatan. 

Karena itu, “matang” berpotensi menciptakan tebing konsumsi: ekonomi tampak berjalan normal, tetapi sebagian rumah tangga mendekati titik ketika belanja harus dipangkas secara mendadak. Risiko terbesarnya adalah melemahnya konsumsi masa depan secara serentak.

Dari Inklusi Keuangan ke Inklusi Kewajiban

Kemudahan memperoleh kredit sering dipandang sebagai kemajuan inklusi keuangan. Pandangan itu tidak salah, tetapi belum lengkap. Akses keuangan seharusnya membuat masyarakat lebih tahan menghadapi guncangan. Global Findex Bank Dunia pun menempatkan perilaku menabung, meminjam, dan kemampuan menghadapi keadaan darurat sebagai bagian penting dalam membaca kesehatan inklusi keuangan. 

Ketika kredit tumbuh lebih cepat daripada tabungan darurat, perlindungan asuransi, dan pertumbuhan pendapatan, inklusi keuangan dapat berubah menjadi inklusi kewajiban. Masyarakat memang semakin terhubung dengan sistem keuangan, tetapi lebih banyak sebagai pembayar cicilan daripada pemilik aset.

Kita tidak boleh tergesa-gesa menyebut keadaan ini sebagai krisis. Berdasarkan data posisi Mei 2026, porsi BNPL perbankan baru sekitar 0,34% dari total kredit. Sementara itu, data perbankan posisi Juni 2026 menunjukkan NPL bruto masih terjaga pada 2,09%. Di sisi lain, Dana Pihak Ketiga tumbuh 10,21%  dengan giro, deposito dan tabungan masing-masing tumbuh sebesar 9,95%, 12,16%, dan 8,25%.

Namun demikian, angka agregat tersebut belum menjawab siapa yang menabung, siapa yang berutang, dan siapa yang menggunakan utang untuk mempertahankan kebutuhan sehari-hari. 

Ukuran kesehatan ekonomi perlu dilengkapi dengan neraca ketahanan rumah tangga. Bank Indonesia, OJK, perbankan, dan penyedia fintech dapat mengembangkan indikator yang membaca konsumsi bersama sumber pembiayaannya. 

Indikator tersebut setidaknya perlu membaca rasio cicilan terhadap pendapatan, kecukupan tabungan darurat, penggunaan kredit untuk kebutuhan esensial, serta kecenderungan membayar utang lama dengan pinjaman baru.

Pertumbuhan konsumsi memang penting. Namun, kualitas sumber pertumbuhannya lebih menentukan keberlanjutan. Ekonomi yang tampak kuat karena rumah tangga menghabiskan tabungan dan meminjam dari masa depan berisiko hanya memajukan konsumsi esok ke hari ini. 

Jika konsumsi hari ini meningkat karena menggunakan pendapatan esok, apakah konsumsi kita benar-benar kuat atau hanya terlihat kuat sebelum tagihan jatuh tempo?


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
OpenAI Bantah Curi Rahasia Dagang Apple, Minta Pengadilan Tolak Gugatan
• 17 jam lalu
0
thumb
Koleksi "Akar Langit" Karya Siswi SMK NU Banat Kudus Tampil Memukau di IFW 2026
• 19 jam lalu
0
thumb
Komdigi dan Kemenkes Gelar Kampanye Cek Kesehatan Gratis di Yogyakarta
• 14 jam lalu
0
thumb
Rahasia Parenting ala Nabi Ibrahim, Kunci Membentuk Karakter Anak Taat Shalat Tertulis Doa Dalam Al Quran
• 15 jam lalu
0
thumb
Ngaku Sedih Indonesia Tak Lolos Piala Dunia, Prabowo Singgung Cape Verde
• 16 jam lalu
0
Berhasil disimpan.