jpnn.com, PALEMBANG - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengimbau masyarakat Palembang kembali menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan.
Imbauan tersebut menyusul menurun ya kualitas udara akibat kabut asap dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Sumatra Selatan.
BACA JUGA: Kualitas Udara Jakarta Jumat Pagi Terburuk Keempat di Dunia
Berdasarkan pemantauan Statistik PM2.5 Musi 2 Palembang pada Rabu (5/8/2026) pukul 18.00 WIB, konsentrasi partikulat halus (PM2.5) mencapai 57,2 mikrogram per meter kubik µg/m³.
Angka tersebut telah melampaui ambang dan masuk kategori tidak sehat.
BACA JUGA: Kualitas Udara Jakarta Memburuk, Warga Diimbau Gunakan Masker Jika Beraktivitas
Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumatera Selatan Wandayantolis menerangkan, penurunan kualitas udara diduga dipengaruhi asap karhutla yang terbawa angin hingga ke Kota Palembang.
"Kami mencatat nilai PM2.5 sebesar 57,2 µg/m³.
pada pukul 18.00 WIB. Berdasarkan klasifikasi BMKG, kualitas udara sudah masuk kategori tidak sehat karena melebihi nilai ambang batas, yakni µg/m³," terang Wandayantolis, Kamis (6/8/2026).
Menurutnya, masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan apabila kondisi udara mulai terlihat berkabut atau tercium bau asap.
Pada kondisi tersebut, penggunaan masker menjadi langkah sederhana untuk mengurangi paparan partikel berbahaya.
"Bisa jadi penurunan kualitas udara ini akibat asap karhutla. Jika secara visual udara terlihat kabur atau tercium bau asap, sebaiknya melindungi diri dengan memakai masker atau membatasi aktivitas di luar ruangan," ujar Wandayantolis.
BMKG juga mengingatkan kelompok rentan, seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, serta penderita asma dan infeksi saluran pernapasan (ISPA) agar mengurangi aktivitas di luar ruangan selama kualitas udara masih berada pada kategori tidak sehat.
"Selama kondisi ini berlangsung, masyarakat diimbau memakai masker saat berada di ruang terbuka, mengurangi aktivitas di luar rumah jika tidak mendesak, serta terus memantau perkembangan kualitas udara untuk menghindari dampak buruk terhadap kesehatan," pungkas Wandayantolis. (mcr35/jpnn)
Yuk, Simak Juga Video ini!
Redaktur : Elvi Robiatul
Reporter : Cuci Hati





Komentar (0)