Kabar menggembirakan datang dari dunia penelitian botani Indonesia. Tim Periset BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional) berhasil mengidentifikasi satu spesies baru tumbuhan dari Suku Begoniaceae sekaligus menemukan kembali tiga spesies Begonia yang selama bertahun-tahun tidak pernah lagi tercatat di habitat alaminya di Sumatera Barat. Temuan ini semakin menegaskan bahwa hutan tropis Indonesia masih menyimpan kekayaan hayati yang belum sepenuhnya terungkap.
Spesies baru tersebut diberi nama Begonia hattae M. Efendi & I.Q. Lailaty, sebagai penghormatan kepada Mohammad Hatta, Proklamator sekaligus Wakil Presiden pertama Republik Indonesia yang berasal dari Sumatera Barat. Penamaan ini menjadi bentuk apresiasi terhadap tokoh bangsa sekaligus mencerminkan asal geografis spesies tersebut.
Pada Juli 2026 penemuan ini telah dipublikasikan dalam jurnal internasional Taprobanica: The Journal of Asian Biodiversity melalui artikel berjudul A New Begonia Species (Begoniaceae) and Three Rediscoveries from West Sumatra. Penelitian ini dilakukan oleh Muhammad Efendi (Pusat Riset Botani Terapan), Intani Quarta Lailaty (Pusat Riset Botani Terapan), Yudi Suhendri (Direktorat Pengelolaan Koleksi Ilmiah) dan Wisnu Handoyo Ardi (Pusat Riset Biosistemika & Evolusi) melalui serangkaian eksplorasi botani dan Konservasi Biji Begonia di sejumlah kawasan hutan di Sumatera Barat pada tahun 2022 dan 2023.
Tumbuhan koleksi, berupa biji, spesimen herbarium dan spesimen hidup dikoleksikan dan kemudian dikonservasi di Kebun Raya Cibodas. Selama lebih dari satu tahun diaklimatisasi untuk adaptasi dan beberapa telah berhasil dibudidayakan serta secara intensif dilakukan pengamatan morfologi untuk memastikan jenis. Secara taksonomi, Begonia hattae mirip dengan B. raoensis terutama pada habitus dan bentuk daunnya, tetapi dapat dibedakan dengan B. hattae yang hanya memiliki 2 tepal, baik pada bunga betina maupun jantan (Begonia raoensis memiliki 4 tepal), daun basal jarang memiliki lobus yang tumpang tindih (Begonia raoensis tumpang tindih pada pangkal daun yang lebih besar) dan rambut di ujung tangkai daun tidak membentuk cincin.
Keberadaan dua tepal, baik pada bunga jantan maupun betina, pada seksi Jackia dari Sumatra, juga ditemukan pada B. korthalsiana. Namun, B. hattae dapat dibedakan dengan jelas berdasarkan tidak adanya bulu pada ujung tangkai daun (dibandingkan dengan adanya bulu) dan jumlah benang sari sekitar 50 (dibandingkan dengan 80–100 benang sari).
Selain mendeskripsikan Begonia hattae sebagai spesies baru, tim peneliti juga berhasil mendokumentasikan kembali tiga spesies Begonia yang sebelumnya sangat jarang ditemukan, yakni Begonia halabanensis, Begonia goegoensis, dan Begonia longipedunculata. Penemuan kembali (rediscovery) ini menjadi kabar penting karena memberikan informasi terbaru mengenai keberadaan spesies-spesies tersebut di alam setelah sekian lama tidak tercatat dalam survei lapangan.
Tidak hanya itu, penelitian juga memperluas catatan persebaran Begonia lilliputana ke wilayah Sumatera Barat yang sebelumnya terbatas pada lokasi tipe asalnya di Taman Nasional Gunung Leuser, Aceh. Dengan tambahan data tersebut, pemahaman mengenai distribusi Begonia di Pulau Sumatera menjadi semakin lengkap dan dapat menjadi dasar bagi penyusunan strategi konservasi yang lebih efektif.
Namun di balik kabar baik tersebut, para peneliti juga mengingatkan adanya ancaman terhadap habitat alami Begonia. Sebagian populasi ditemukan hidup pada kawasan hutan sekunder yang rentan mengalami perubahan akibat aktivitas pertambangan, pembukaan lahan, maupun degradasi lingkungan. Kondisi tersebut berpotensi mengancam kelestarian spesies-spesies endemik yang memiliki sebaran sangat terbatas.
Karena itu, hasil penelitian ini diharapkan tidak hanya memperkaya khasanah ilmu pengetahuan, tetapi juga menjadi landasan ilmiah bagi pemerintah, pengelola kawasan, dan berbagai pemangku kepentingan dalam memperkuat upaya perlindungan habitat alami. Konservasi berbasis data ilmiah menjadi langkah penting untuk memastikan spesies-spesies unik Indonesia tetap lestari di tengah meningkatnya tekanan terhadap ekosistem hutan.
Penemuan Begonia hattae beserta tiga rediscovery ini kembali menunjukkan bahwa Indonesia masih menyimpan banyak potensi biodiversitas yang belum terungkap. Eksplorasi ilmiah yang berkelanjutan menjadi kunci untuk mengungkap kekayaan flora Nusantara sekaligus mendukung upaya pelestarian keanekaragaman hayati bagi generasi mendatang.






Komentar (0)