Diam-diam Indonesia Masuk 5 Besar Dunia Penyandang Diabetes, Jutaan Pasien Masih Kesulitan Berobat

tvonenews.com
14 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, tvOnenews.com - Indonesia masih menghadapi tantangan besar dalam pengelolaan diabetes. Di tengah tingginya jumlah penyandang diabetes, jutaan pasien masih kesulitan menjalani pengobatan dan pemantauan secara berkelanjutan, sehingga risiko komplikasi tetap tinggi.

Data International Diabetes Federation (IDF) menunjukkan Indonesia menempati peringkat kelima dunia dengan lebih dari 20 juta penyandang diabetes. Sementara itu, Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mencatat prevalensi diabetes mencapai 11,7 persen pada penduduk usia 15 tahun ke atas. Namun, kepatuhan menjalani pengobatan dan pemeriksaan ulang masih tergolong rendah, terutama pada kelompok usia produktif.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan diabetes tidak hanya terletak pada tingginya jumlah kasus baru, tetapi juga pada bagaimana memastikan pasien tetap mendapatkan pendampingan setelah diagnosis ditegakkan. Pengelolaan diabetes memerlukan kesinambungan, mulai dari edukasi, deteksi dini, terapi, pemantauan, hingga perubahan gaya hidup.

Ketua Perkumpulan Edukator Diabetes Indonesia (PEDI), dr. Ida Ayu Made Kshanti, Sp.PD-KEMD, menekankan bahwa edukasi merupakan fondasi utama dalam pengelolaan diabetes yang berkesinambungan. Menurutnya, pemahaman yang baik akan membantu masyarakat mengenali faktor risiko, melakukan deteksi dini, serta mengambil keputusan kesehatan yang tepat.

"Keberhasilan pengelolaan diabetes tidak hanya ditentukan oleh obat atau teknologi kesehatan. Pasien juga perlu memahami penyakitnya agar mampu menjalankan tata laksana medis secara konsisten. Edukasi yang berkelanjutan membantu pasien membangun kepatuhan terapi sekaligus mencegah terjadinya komplikasi. Pendekatan End-to-End Diabetes Ecosystem Support memastikan edukasi hadir pada setiap tahapan perjalanan pasien. Dengan demikian, penyandang diabetes tidak menjalani perjalanan penyakitnya sendiri, tetapi didampingi untuk mencapai kualitas hidup yang lebih baik," tutur dr. Ida Ayu, saat media gathering bersama Kalbe di Jakarta.

Acara End-to-End Diabetes Ecosystem Support di Jakarta.
Sumber :
  • tvOnenews/Sumiyati.

Pandangan tersebut juga diamini oleh Ketua Cabang PERSADIA Jakarta Barat, dr. Marshell Tendean, Sp.PD, Subsp. E.M.D., FINASIM. Ia mengatakan bahwa tantangan terbesar sering muncul setelah pasien menerima diagnosis diabetes, terutama dalam mempertahankan kepatuhan terapi dan perubahan gaya hidup dalam jangka panjang.

"Dalam praktik sehari-hari, kami melihat banyak pasien datang ketika komplikasi sudah mulai muncul. Kondisi tersebut sering terjadi karena diabetes terlambat terdeteksi atau terapi tidak dijalankan secara konsisten. Padahal, kepatuhan terhadap tata laksana medis merupakan kunci untuk mengendalikan kadar gula darah dan mencegah komplikasi. Pendekatan End-to-End Diabetes Ecosystem Support membantu memastikan pasien memperoleh pendampingan sejak deteksi dini hingga pengelolaan jangka panjang. Dengan demikian, setiap penyandang diabetes memiliki kesempatan lebih besar untuk mempertahankan kualitas hidupnya," jelas dr. Marshell.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Sudaryono Ingatkan Siswa Tidak Membawa Pulang Makan Bergizi Gratis demi Cegah Dugaan Keracunan
• 14 jam lalu
0
thumb
Presiden Lai Ching-te: Taiwan Tidak Akan Tinggal Diam terhadap Upaya Campur Tangan PKT
• 23 jam lalu
0
thumb
KKI: 10 Nakes yang Komentar Nirempati ke Pasien BPJS Terancam Sanksi hingga Pencabutan STR
• 20 jam lalu
0
thumb
Nasib Timnas Indonesia di Ujung Tanduk Jelang Lawan Singapura, Marc Klok Beri Pernyataan Berkelas
• 19 jam lalu
0
thumb
Mode Serius, Arthur Irawan Pantau Langsung TC Pramusim Persik di Solo
• 18 jam lalu
0
Berhasil disimpan.