Saat Kebenaran Kalah Cepat: Dari Hiruk-Pikuk Media Sosial Menuju Ketahanan Kognitif Bangsa

republika.co.id
1 jam lalu
Cover Berita

Oleh: Azis Subekti, pendiri Serikat Masyarakat Produktif Indonesia, Anggota DPR RI Fraksi Gerindra.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA-Pada masa lalu, manusia harus menunggu pagi untuk mengetahui apa yang terjadi pada malam sebelumnya.

Berita datang melalui halaman surat kabar, siaran radio, atau layar televisi yang memiliki jadwal dan ruang terbatas.

Baca Juga
  • AS Batal Serang Iran, Kekurangan Rudal atau Bersiap Mundur? Israel Ketar-ketir Sendiri
  • Mengapa Barat Kerap Salah Memahami Ketangguhan Sistem Politik Iran?
  • Bagaimana Eks Elite Mossad Israel Berpindah dari Intelijen ke Perusahaan Keamanan dan Teknologi?

Ada redaksi yang memilih fakta, wartawan yang mendatangi tempat kejadian, serta editor yang memeriksa apakah sebuah informasi layak disampaikan kepada publik.

Dunia digital menghapus hampir seluruh jeda itu.

.rec-desc {padding: 7px !important;}

Hari ini, suatu peristiwa belum selesai berlangsung ketika potongannya telah berpindah dari satu telepon genggam ke telepon genggam lainnya. Gambar beredar sebelum konteksnya diketahui.

Kesimpulan terbentuk sebelum fakta dikumpulkan. Kemarahan muncul sebelum orang sempat bertanya. Dalam hitungan menit, sebuah rekaman dapat menyeberangi kota, negara, bahkan benua—sering kali lebih cepat daripada kemampuan siapa pun untuk memastikan kapan, di mana, dan dalam keadaan apa rekaman itu dibuat.

Kecepatan pada mulanya dipandang sebagai anugerah. Media sosial membuka ruang partisipasi yang sebelumnya tidak tersedia. Masyarakat tidak lagi sepenuhnya bergantung pada lembaga media untuk menyampaikan pengalaman dan kesaksiannya.

Warga biasa dapat merekam ketidakadilan, mengawasi kekuasaan, mempertemukan orang-orang yang terpisah oleh jarak, dan mengangkat masalah yang mungkin luput dari perhatian institusi formal.

Namun, setiap pintu yang terbuka juga dapat dimasuki oleh mereka yang tidak datang membawa niat baik.

Kemudahan menyampaikan informasi kemudian berubah menjadi kemudahan memindahkan kebohongan. Kebebasan berbicara berhadapan dengan kebebasan memanipulasi. Teknologi yang dapat memperluas pengetahuan sekaligus menyediakan mesin yang sangat efektif untuk menyebarkan prasangka, kecurigaan, fitnah, dan kemarahan.

 

Loading...
.img-follow{width: 22px !important;margin-right: 5px;margin-top: 1px;margin-left: 7px;margin-bottom:4px}
Ikuti Whatsapp Channel Republika
.img-follow {width: 36px !important;margin-right: 5px;margin-top: -10px;margin-left: -18px;margin-bottom: 4px;float: left;} .wa-channel{background: #03e677;color: #FFF !important;height: 35px;display: block;width: 59%;padding-left: 5px;border-radius: 3px;margin: 0 auto;padding-top: 9px;font-weight: bold;font-size: 1.2em;}
Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.
@font-face { font-family: "LPMQ"; src: url("https://static.republika.co.id/files/alquran/LPMQ-IsepMisbah.ttf") format("truetype"); font-weight: normal; font-style: normal } .arabic-text { font-family: "LPMQ"; font-weight: normal !important; direction: rtl; text-align: right; font-size: 2.5em !important; line-height: 49px !important; }

Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Buka-bukaan Soal Warisan Mpok Alpa, Sang Suami: Enggak Ada yang Kita Bagi-bagi
• 15 jam lalu
0
thumb
10 cara mengatasi sedih setelah putus cinta, bantu move on lebih cepat
• 17 jam lalu
0
thumb
Prabowo: Fakta Menyakitkan Pendidikan Indonesia di Bawah Thailand dan Vietnam
• 5 jam lalu
0
thumb
Motif Oknum Polisi Bunuh Nenek di Deliserdang, Kesal Pinjam Uang Rp50 Juta Ditolak
• 23 jam lalu
0
thumb
Kesehatan Mata Kian Jadi Prioritas, Optik Melawai Hadirkan Eyewear Exhibition
• 1 jam lalu
0
Berhasil disimpan.