Kalimat itu mungkin terdengar berlebihan sampai kita melihat apa yang sedang terjadi. Donald Trump kembali melontarkan keinginan agar Amerika Serikat menguasai Greenland. Denmark menolak. Perdebatan melebar ke lingkungan NATO dan memunculkan pertanyaan yang lebih besar daripada sekadar sengketa diplomatik. Mengapa sebuah pulau yang sebagian besar tertutup es bisa membuat negara-negara besar saling menguji kesabaran?
Jawabannya tersembunyi jauh di bawah lapisan es itu. Greenland menyimpan cadangan mineral kritis yang dibutuhkan untuk memproduksi semikonduktor, kendaraan listrik, turbin angin, satelit, hingga peralatan militer modern. Pada saat yang sama, perubahan iklim membuat jalur pelayaran Arktik semakin terbuka sehingga nilai strategis kawasan tersebut ikut melonjak. Tidak mengherankan bila Amerika Serikat, Rusia, China, dan negara-negara Eropa sama-sama meningkatkan pengaruhnya di kawasan itu. Mereka memahami sesuatu yang sering terlambat disadari negara berkembang: sumber daya bukan lagi sekadar komoditas, melainkan instrumen kekuasaan.
Barangkali di sinilah Indonesia perlu berhenti melihat Greenland sebagai berita luar negeri yang tidak ada hubungannya dengan kehidupan kita. Sebab logika yang membuat Washington begitu berkeras terhadap Greenland adalah logika yang sama mengapa dunia kini berbondong-bondong datang ke Indonesia. Menurut data Survei Geologi Amerika Serikat (USGS), Indonesia merupakan salah satu pemilik cadangan nikel terbesar di dunia dan selama beberapa tahun terakhir menjadi produsen nikel nomor satu secara global. Bukan kebetulan jika investasi asing mengalir ke sektor pengolahan mineral. Dunia sedang membangun industri baterai, kendaraan listrik, dan teknologi digital. Semua itu membutuhkan bahan baku yang sebagian berada di bawah tanah Indonesia.
Di sinilah perdebatan tentang hilirisasi menemukan maknanya. Terlalu sederhana jika keberhasilan hanya diukur dari banyaknya smelter yang berdiri. Smelter hanyalah pintu masuk. Nilai ekonomi terbesar justru berada pada riset, penguasaan teknologi, desain produk, hak paten, dan kemampuan menciptakan merek yang dipercaya pasar dunia. Jepang hampir tidak memiliki nikel sebanyak Indonesia, Korea Selatan tidak dikaruniai cadangan mineral sebesar negeri ini, tetapi keduanya berhasil membangun industri yang menjual teknologi dengan nilai jauh lebih tinggi daripada bahan bakunya. Mereka membuktikan bahwa kekayaan alam hanyalah modal awal, bukan jaminan kemenangan.
Ekonom Daron Acemoglu pernah mengingatkan bahwa kemakmuran lahir dari institusi yang kuat, bukan semata-mata dari limpahan sumber daya. Sejarah pun berkali-kali mengajarkan hal serupa. Banyak negara kaya tambang gagal menjadi negara maju karena terlalu lama merasa nyaman sebagai pengekspor bahan mentah. Kekayaan yang seharusnya menjadi tangga justru berubah menjadi kursi yang membuat mereka enggan bergerak.
Greenland memberi pelajaran yang mahal. Negara-negara besar ternyata tidak sedang mempersiapkan kebutuhan tahun depan. Mereka sedang menghitung kebutuhan industri dua atau tiga dekade mendatang. Mereka berebut mengamankan rantai pasok sejak sekarang karena memahami bahwa siapa yang menguasai mineral strategis akan memiliki pengaruh terhadap arah ekonomi dunia. Cara berpikir seperti itulah yang sering membedakan negara yang memimpin dengan negara yang sekadar mengikuti.
Indonesia masih memiliki kesempatan untuk berada di barisan depan. Cadangan mineral yang melimpah, bonus demografi, dan posisi strategis di kawasan Asia Tenggara adalah modal yang tidak dimiliki banyak negara. Namun kesempatan tidak pernah menunggu terlalu lama. Dunia bergerak jauh lebih cepat daripada proses kita mengambil keputusan. Sementara kita masih sibuk memperdebatkan siapa yang berhak mendapat keuntungan hari ini, negara lain sudah menghitung keuntungan yang akan mereka nikmati tiga puluh tahun mendatang.
Mungkin itulah pelajaran paling penting dari Greenland. Bukan tentang siapa yang akhirnya menguasai pulau itu, melainkan tentang cara negara-negara besar memandang masa depan. Mereka melihat tambang sebagai kekuatan geopolitik. Kita terlalu sering melihatnya hanya sebagai sumber penerimaan negara. Selama cara pandang itu belum berubah, Indonesia akan terus menjadi negeri yang kaya di dalam perut bumi, tetapi belum tentu kaya dalam pengaruh. Dan dalam dunia yang sedang berubah secepat sekarang, kehilangan kesempatan sering kali jauh lebih mahal daripada kehilangan sumber daya.






Komentar (0)