Jakarta (ANTARA) - Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria menegaskan bahwa Indonesia saat ini sedang berfokus pada pembangunan kapabilitas teknologi nasional secara menyeluruh dan tidak sekadar bertumpu pada penciptaan ragam produk riset semata.
"Pesan yang kami ingin sampaikan bahwa BRIN bukan hanya memiliki banyak produk, pesannya adalah bahwa Indonesia sedang membangun kapabilitas teknologi nasional untuk pangan, energi, kesehatan, air, pertahanan dan keamanan, lingkungan, industri, dan kualitas sumber daya manusia," kata Arif dalam pertemuan Presiden Prabowo Subianto dengan 150 periset BRIN di Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis.
Untuk mewujudkan fondasi kapabilitas yang kokoh tersebut, ungkap Arif, pemerintah melalui BRIN telah menyiapkan ekosistem infrastruktur riset yang sangat memadai dan diakui secara global.
"Bapak Presiden, BRIN membangun jaringan fasilitas riset strategis yang tersebar di seluruh Indonesia," ujar dia.
Kepala BRIN merinci bahwa di dalam jaringan fasilitas strategis tersebut terdapat reaktor nuklir, observatorium terbesar di Asia Tenggara, laboratorium genomik terbaik di kawasan, hingga pusat komputasi berperforma tinggi yang masuk ke dalam jajaran bergengsi top 500 dunia.
Kapasitas riset tersebut juga ditunjang oleh kehadiran berbagai sarana pengujian tingkat lanjut yang mencakup teknologi pesawat, kereta api, roket, hingga rekayasa kemaritiman.
"Infrastruktur inilah yang menjadi fondasi agar Indonesia tidak hanya menggunakan teknologi, tetapi juga mampu mengembangkan teknologinya sendiri," kata Arif menegaskan.
Baca juga: Prabowo tegaskan penguasaan sains dan teknologi kunci kemajuan bangsa
Sebagai manifestasi nyata dari kapabilitas teknologi tersebut, kata dia, BRIN telah menghasilkan terobosan gemilang di sektor energi yang berpotensi menekan ketergantungan negara pada impor gas alam domestik melalui pemanfaatan teknologi Metal Organic Framework (MOF).
"Berdasarkan perhitungan awal, teknologi ini mampu berpotensi menghemat hingga sekitar Rp26 triliun per tahun terhadap beban subsidi LPG," ujarnya membeberkan dampak ekonomi yang signifikan tersebut.
Selain itu, Arif menuturkan kapabilitas nasional juga terus dipacu di ranah kedirgantaraan, salah satunya melalui perancangan dan penyiapan Satelit NEO-1 yang diagendakan meluncur ke antariksa pada awal tahun 2027 mendatang.
"Ini penting untuk menghasilkan data citra satelit secara mandiri guna mendukung pertanian, kehutanan, kelautan, mitigasi bencana, serta pengawasan maritim," ujar dia.
Kepala BRIN menegaskan pembangunan kapabilitas yang diusung BRIN tidak hanya berhenti pada teknologi masa kini, tetapi juga mencakup penguasaan visi masa depan, termasuk memastikan kesiapan sumber daya manusia dalam menyongsong era pemanfaatan tenaga nuklir.
"BRIN harus menyiapkan kemampuan teknologi nuklir dari sekarang, sehingga ketika Indonesia memutuskan memasuki era PLTN, kita tidak memulai sepenuhnya dari nol, dan tidak hanya menjadi pembeli teknologi," ucap Arif Satria.
Dalam kesempatan yang sama, Presiden Prabowo Subianto menegaskan penguasaan sains dan teknologi merupakan kunci utama bagi kemajuan suatu bangsa.
Baca juga: BRIN ungkap 3 strategi khusus untuk bantu genjot pertumbuhan ekonomi
Menurut Presiden Prabowo, penguasaan sains dan teknologi tidak dapat dilepaskan dari kualitas pendidikan. Oleh karena itu, Prabowo menyebut pendidikan sebagai fondasi paling penting dalam membangun sumber daya manusia yang unggul.
"Dari penguasaan sains dan teknologi tentunya masalah pendidikan itu adalah fondasi, landasan yang paling kritikal, paling kritis," kata Presiden Prabowo menegaskan.
"Pesan yang kami ingin sampaikan bahwa BRIN bukan hanya memiliki banyak produk, pesannya adalah bahwa Indonesia sedang membangun kapabilitas teknologi nasional untuk pangan, energi, kesehatan, air, pertahanan dan keamanan, lingkungan, industri, dan kualitas sumber daya manusia," kata Arif dalam pertemuan Presiden Prabowo Subianto dengan 150 periset BRIN di Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis.
Untuk mewujudkan fondasi kapabilitas yang kokoh tersebut, ungkap Arif, pemerintah melalui BRIN telah menyiapkan ekosistem infrastruktur riset yang sangat memadai dan diakui secara global.
"Bapak Presiden, BRIN membangun jaringan fasilitas riset strategis yang tersebar di seluruh Indonesia," ujar dia.
Kepala BRIN merinci bahwa di dalam jaringan fasilitas strategis tersebut terdapat reaktor nuklir, observatorium terbesar di Asia Tenggara, laboratorium genomik terbaik di kawasan, hingga pusat komputasi berperforma tinggi yang masuk ke dalam jajaran bergengsi top 500 dunia.
Kapasitas riset tersebut juga ditunjang oleh kehadiran berbagai sarana pengujian tingkat lanjut yang mencakup teknologi pesawat, kereta api, roket, hingga rekayasa kemaritiman.
"Infrastruktur inilah yang menjadi fondasi agar Indonesia tidak hanya menggunakan teknologi, tetapi juga mampu mengembangkan teknologinya sendiri," kata Arif menegaskan.
Baca juga: Prabowo tegaskan penguasaan sains dan teknologi kunci kemajuan bangsa
Sebagai manifestasi nyata dari kapabilitas teknologi tersebut, kata dia, BRIN telah menghasilkan terobosan gemilang di sektor energi yang berpotensi menekan ketergantungan negara pada impor gas alam domestik melalui pemanfaatan teknologi Metal Organic Framework (MOF).
"Berdasarkan perhitungan awal, teknologi ini mampu berpotensi menghemat hingga sekitar Rp26 triliun per tahun terhadap beban subsidi LPG," ujarnya membeberkan dampak ekonomi yang signifikan tersebut.
Selain itu, Arif menuturkan kapabilitas nasional juga terus dipacu di ranah kedirgantaraan, salah satunya melalui perancangan dan penyiapan Satelit NEO-1 yang diagendakan meluncur ke antariksa pada awal tahun 2027 mendatang.
"Ini penting untuk menghasilkan data citra satelit secara mandiri guna mendukung pertanian, kehutanan, kelautan, mitigasi bencana, serta pengawasan maritim," ujar dia.
Kepala BRIN menegaskan pembangunan kapabilitas yang diusung BRIN tidak hanya berhenti pada teknologi masa kini, tetapi juga mencakup penguasaan visi masa depan, termasuk memastikan kesiapan sumber daya manusia dalam menyongsong era pemanfaatan tenaga nuklir.
"BRIN harus menyiapkan kemampuan teknologi nuklir dari sekarang, sehingga ketika Indonesia memutuskan memasuki era PLTN, kita tidak memulai sepenuhnya dari nol, dan tidak hanya menjadi pembeli teknologi," ucap Arif Satria.
Dalam kesempatan yang sama, Presiden Prabowo Subianto menegaskan penguasaan sains dan teknologi merupakan kunci utama bagi kemajuan suatu bangsa.
Baca juga: BRIN ungkap 3 strategi khusus untuk bantu genjot pertumbuhan ekonomi
Menurut Presiden Prabowo, penguasaan sains dan teknologi tidak dapat dilepaskan dari kualitas pendidikan. Oleh karena itu, Prabowo menyebut pendidikan sebagai fondasi paling penting dalam membangun sumber daya manusia yang unggul.
"Dari penguasaan sains dan teknologi tentunya masalah pendidikan itu adalah fondasi, landasan yang paling kritikal, paling kritis," kata Presiden Prabowo menegaskan.






Komentar (0)