Prabowo: Indonesia Butuh Banyak Orang Pintar, Saya Ingat Pesan Profesor Habibie

rctiplus.com
8 jam lalu
Cover Berita
Prabowo: Indonesia Butuh Banyak Orang Pintar, Saya Ingat Pesan Profesor HabibieNasional | okezone | Kamis, 6 Agustus 2026 - 18:18Dengarkan Berita

JAKARTA - Presiden Prabowo Subianto menegaskan, Indonesia membutuhkan sumber daya manusia (SDM) unggul yang menguasai sains dan teknologi sebagai fondasi membangun bangsa. 

Dalam kesempatan itu, Prabowo mengenang Presiden ke-3 RI, Bacharuddin Jusuf (BJ) Habibie, yang menurutnya pernah menyampaikan pentingnya memiliki banyak orang pintar di Indonesia.

"Jadi kita cari penyebabnya apa, baru kita harus berani berbuat. Sains dan teknologi, kita butuh orang-orang pintar, banyak orang pintar. Saya ingat Profesor Habibie mengatakan, oke kita nggak usah takut, 1 persen saja orang pintar di Indonesia, 1 persen saja itu hampir 3 juta orang," kata Prabowo saat memberikan taklimat dalam pertemuan dengan para peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) di Istana Negara, Jakarta, Kamis (6/8/2026).

Menurut Prabowo, Indonesia sebenarnya memiliki potensi SDM yang sangat besar. Namun, potensi tersebut harus dicari, dibina, diberi kesempatan, dan didukung agar mampu menghasilkan inovasi bagi kemajuan bangsa.

Baca Juga:Aktivitas Gunung Anak Krakatau Meningkat Tajam, Warga Diminta Jauhi Radius 3 Km

"Jadi kita sebetulnya bahan bakunya banyak sekali. Tapi apa pun yang kita punya, harus saudara-saudara saintis, harus dicari, dibina, diberi kesempatan, dibesarkan, didukung melalui suatu proses," ujarnya.

 

Prabowo menekankan, kebangkitan Indonesia harus dibangun dengan pendekatan yang ilmiah dan rasional. Menurutnya, keputusan yang tidak didasarkan pada sains dan rasionalitas berpotensi menghasilkan kekeliruan.

"Jadi pendekatan kita terhadap kebangkitan suatu bangsa, kebangkitan suatu bangsa yang dicita-citakan semua pendiri bangsa, termasuk cita-cita kita semua, adalah bagaimana membangun negara yang tidak ada kemiskinan dan tidak ada ketidakadilan," ujarnya.

"Nah kalau kita mendekati dengan cara saintifik, cara rasional, jangan dengan cara lain daripada rasional. Nanti kita akan keliru. Rasional, sains, mathematics, reality. Reality is science, reality is mathematics. Kalau kita mendekati dengan pola lain itu sudah masuk ke ranah lain," pungkasnya.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Realisasi PNBP Sektor ESDM Capai Rp 138 Triliun Sepanjang 2025
• 12 jam lalu
0
thumb
Nilai Pasarnya Kalah Jauh dari Timnas Indonesia, Striker Naturalisasi Vietnam Layangkan Protes ke Transfermarkt
• 13 jam lalu
0
thumb
Harga Komoditas: Batu Bara Melemah, Nikel-CPO Kompak Naik
• 19 jam lalu
0
thumb
Adik Kandung Eks Ketua Ombudsman Hery Susanto Jadi Saksi Sidang Suap Tambang
• 12 jam lalu
0
thumb
Ruijie Networks Resmi Jadi Mitra Strategis Telkom Indonesia, Fokus Kembangkan Jaringan Berbasis AI
• 19 jam lalu
0
Berhasil disimpan.