JAKARTA, KOMPAS.com - Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria mengungkapkan, lembaganya tengah mengembangkan teknologi nuklir dan antariksa.
Hal tersebut disampaikan dihadapan Presiden Prabowo Subianto yang mengundang 150 periset BRIN ke Istana, Jakarta, Kamis (6/8/2026).
"Ada dua teknologi yang terus kami kembangkan, yaitu nuklir dan dan antariksa sebagai pengungkit kedaulatan energi, kesehatan, pangan, hingga pengawasan wilayah," ujar Arif dalam sambutannya di Istana, Jakarta, Kamis.
Baca juga: Prabowo: Kita Butuh Orang Pintar
Ia menjelaskan bahwa BRIN fokus kepada teknologi maju, di masa salah satu perhatiannya adalah industri semikonduktor.
Fokus BRIN tersebut ditujukan untuk memperkuat daya saing industri nasional melalui riset dan inovasi.
"BRIN akan fokus pada teknologi maju yang akan menentukan daya saing negara dalam dua hingga tiga dekade ke depan. Pertama adalah semikonduktor, agar Indonesia tidak bergantung pada chip asing," ujar Arif.
Selain semikonduktor, BRIN juga akan fokus terhadap kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) untuk melipatgandakan produktivitas nasional.
Baca juga: Prabowo: Negara Sekecil Cape Verde Masuk Piala Dunia, tetapi Kita Tidak? Saya Sedih...
Fokus ketiga adalah genomics, agar Indonesia mampu menghasilkan benih obat dan bioindustri sendiri. Serta teknologi kuantum untuk keamanan dan komputasi masa depan.
"Penguasaan teknologi-teknologi inilah yang akan menentukan apakah Indonesia akan bisa menjadi pengguna teknologi atau pemilik teknologi kita ke depan," ujar Arif.
BRIN bersama Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) telah menyusun peta jalan dan agenda riset nasional 2026-2045.
Baca juga: Prabowo: Menteri Pendidikan Singapura Tak Bisa Dibandingkan dengan Menteri Pendidikan Indonesia
Peta jalan tersebut, kata Arif, menjadi acuan bersama agar riset nasional selaras dengan Rancangan Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN).
"Juga agar Indonesia tidak lagi berjalan secara sektoral dalam sila-sila kelembagaan, tetapi menjadi gerakan nasional yang terintegrasi dan saling memperkuat," ujar Arif.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang
Komentar (0)