BOGOR, KOMPAS.com - Wali Kota Bogor Dedie A. Rachim meminta pengembalian aset Terminal Baranangsiang dari Kementerian Perhubungan (Kemenhub) ke Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor.
Diketahui, Dedie bertemu Direktur Jenderal Perhubungan Darat di Jakarta Irjen. Pol. (Purn.) Aan Suhanan, pada Rabu (5/8/2026) kemarin.
Ia menuturkan, sejak diserahkan kepada Pemerintah Pusat pada 2019 lalu, belum ada langkah pembangunan Terminal Baranangsiang, Jawa Barat.
Baca juga: Jalur LRT Menuju Bogor Tengah Digodok, Rencananya Sampai Baranangsiang
Apabila Terminal Baranangsiang tidak kunjung direvitalisasi oleh pemerintah pusat, Dedie meminta terminal tersebut dikembalikan ke Pemkot Bogor.
"Dengan catatan tentu sesuai dengan Undang-Undang Otonomi Daerah, pemerintah daerah boleh mengelola terminal, tapi terminal tipe B atau tipe C," kata Dedie kepada Wartawan di Jalan Merdeka, Kota Bogor, Kamis (6/8/2026).
Dia menyebut, Direktorat Jenderal Perhubungan Darat sedang mengkaji usulan tersebut.
Baca juga: Transjabodetabek Bogor-Blok M Tak Lagi ke Baranangsiang, Ini Rute Barunya
"Apakah tetap akan dipertahankan sebagai terminal tipe A sehingga kewenangan dan pengelolaan ada di pemerintah pusat, atau boleh diserahkan kembali kepada Pemerintah Kota Bogor. Nanti kita lihat," ujar dia.
Dedie menambahkan, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) bisa menggunakan mitra untuk melakukan revitalisasi Terminal Baranangsiang.
Pasalnya, Terminal Baranangsiang tersebut disiapkan untuk stasiun akhir dari jalur LRT Jabodebek.
Baca juga: Takut Kejebak Macet, Warga Mudik Lebih Awal dari Terminal Baranangsiang Bogor
"Kalau 2030 LRT masuk Bogor, kan harus jelas. Masa jadi mal semua? Masa jadi apartemen? Di mana posisi stasiunnya? Di mana posisi terminalnya? Itu yang kami tanyakan," tambahnya.
Dalam catatan Kompas.com, PT Kereta Api Indonesia (Persero) tengah menyiapkan rencana pengembangan jalur LRT Jabodebek hingga wilayah Bogor.
Direktur Portofolio Management dan Teknologi Informasi KAI, I Gede Darmayusa, menyampaikan bahwa proyek perpanjangan lintasan tersebut telah masuk ke dalam master plan pengembangan perusahaan.
Baca juga: Ketinggalan Bus Pulang ke Sragen, Pemudik Menginap di Terminal Baranangsiang Bogor
Menurut dia, KAI bersama Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) saat ini masih melakukan berbagai kajian terkait rencana ekstensi tersebut, mulai dari potensi bisnis, penentuan jalur, pengembangan kawasan berbasis Transit Oriented Development (TOD), hingga aspek pendukung lainnya.
“Secara master plan, dulu memang sudah ada rencana sampai Bogor, kalau tidak salah sampai Baranangsiang ya,” kata Gede di Stasiun LRT Dukuh Atas, Jumat (22/5/2026).
“Kami dengan DJKA tentunya sedang mengkaji kembali potensi bisnis, potensi TOD, dan lain sebagainya ya, sehingga biaya yang besar itu bisa kita justifikasi dengan peningkatan penumpang,” lanjutnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang




Komentar (0)