Jakarta, CNBC Indonesia - Freeport-McMoRan menyebutkan produksi tambang bawah tanah Grasberg Block Cave (GBC) yang dioperasikan PT Freeport Indonesia (PTFI) akan pulih hingga mencapai 65% pada semester II-2026. Hal itu seiring dengan upaya perusahaan untuk menyelesaikan pemulihan pasca insiden longsoran lumpur pada tahun 2025 lalu.
President and Chief Executive Officer FCX Kathleen Quirk menyebutkan perusahaan telah mencatatkan progres dalam proses peningkatan produksi secara bertahap. Ia menegaskan perusahaan tetap berfokus pada upaya pemulihan seluruh operasional di Grasberg secara aman guna menjaga momentum pertumbuhan kinerja keuangan.
"Kami membuat kemajuan yang stabil dengan peningkatan operasional Grasberg kami dan operasional kami di Amerika memberikan kinerja yang sangat baik, yang menghasilkan peningkatan hasil laba dari tahun ke tahun," ujarnya dalam laporan FCX Semester II-2026, dikutip Kamis (6/8/2026).
Perusahaan mencatat bahwa pembersihan dan pemulihan blok produksi 2 dan 3 yang terdampak insiden September 2025 telah rampung dan aktivitas produksi mulai berjalan sejak akhir Maret 2026. Selain itu, peningkatan sistem penanganan material pada level pengangkutan di tambang bawah tanah GBC juga dilaporkan terus mengalami kemajuan sesuai dengan jadwal yang ditetapkan.
"Tingkat produksi keseluruhan PTFI diperkirakan akan mendekati 65% pada paruh kedua tahun 2026, 80% pada pertengahan 2027 dan mendekati kapasitas penuh pada akhir 2027," tulis perusahaan.
Akibatnya, Freeport menanggung biaya fasilitas menganggur dan restorasi yang mencapai US$ 284 juta pada kuartal II-2026. Meskipun begitu, perusahaan tetap optimis prospek pasar menguat karena produksi perusahaan di tengah tren transisi energi di dunia.
"Saat kita melihat ke depan, kami tetap fokus untuk memulihkan operasi penuh di Grasberg secara aman dan berkelanjutan serta terus membangun momentum pada inisiatif di seluruh jejak global kami untuk menumbuhkan margin, arus kas, dan pendapatan," tambah perusahaan.
Secara keseluruhan, pemulihan operasional tambang bawah tanah di Papua tersebut diharapkan dapat memperkuat volume penjualan konsentrat tembaga dan emas nasional. Perusahaan terus melakukan mitigasi risiko melalui penggunaan teknologi manajemen gua dan sistem drainase yang lebih canggih untuk mencegah terulangnya insiden serupa di masa mendatang.
(pgr/pgr)




Komentar (0)