Peta Agama Australia Bergeser: Penganut Kristen Turun, Muslim Naik

cnbcindonesia.com
3 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, CNBC Indonesia - Perubahan komposisi penduduk dan kehidupan beragama perlahan mengubah wajah sejumlah kota di Australia. Sebagian gereja tua kehilangan jemaat dan kesulitan membiayai perawatan bangunan, sementara komunitas Muslim terus berkembang dan membutuhkan tempat ibadah yang lebih besar.

Kondisi tersebut terlihat di Kilmore, sebuah kota kecil di negara bagian Victoria. Melansir ABC, Gereja Wesleyan Methodist yang telah berdiri selama lebih dari 165 tahun kini direncanakan beralih fungsi menjadi masjid dan pusat kegiatan masyarakat.

Baca: Pekerja Paruh Waktu RI Tembus 38,41 Juta Orang di Mei 2026

Gereja di 25 Powlett Street itu dibangun pada 1858, ketika demam emas mendorong pertumbuhan sejumlah kota di Victoria. Selama beberapa generasi, bangunan tersebut menjadi tempat kebaktian, pernikahan, pembaptisan, pemakaman, hingga kegiatan sosial masyarakat.

Namun, jumlah jemaatnya terus menyusut. Tingginya biaya merawat bangunan bersejarah tidak lagi sebanding dengan kemampuan gereja sehingga tempat ibadah tersebut akhirnya ditutup.

Bangunan itu kini akan dikembangkan menjadi Kilmore Islamic and Community Centre. Peluncuran awal sekaligus penggalangan dana untuk proyek tersebut digelar pada Sabtu (1/8/2026).

Baca: BI Ungkap 3 Strategi Besar Bikin RI Jadi Pemimpin Industri Halal Dunia

Perubahan di Kilmore menjadi bagian dari pergeseran kehidupan beragama di Australia yang dipengaruhi oleh demografi, migrasi, dan kebutuhan masyarakat.

Data Australian Bureau of Statistics (ABS) memperlihatkan perubahan tersebut. Pada 1971, sebanyak 86,2% penduduk Australia mengaku beragama Kristen. Lima dekade kemudian tepatnya pada 2021, porsinya turun menjadi 43,9%

Sebaliknya, porsi penduduk yang menganut agama selain Kristen meningkat dari 0,8% menjadi 10%. Penduduk yang menyatakan tidak memiliki agama juga melonjak dari 6,7% menjadi 38,9%.

Kisah Kilmore bukanlah satu-satunya. Sejumlah bekas gereja di Strathmore, Craigieburn, dan Geelong juga telah dibeli oleh komunitas Muslim untuk digunakan sebagai masjid.

Meski jumlahnya masih sedikit, fenomena tersebut memperlihatkan dua perubahan yang berlangsung bersamaan. Sejumlah gereja harus menggabungkan jemaat atau menjual bangunannya akibat jumlah anggota yang menurun, jemaat yang menua, dan biaya perawatan properti yang meningkat.

Dalam dua dekade terakhir saja, ratusan properti gereja di Australia telah berpindah tangan. Sebagian besar berubah menjadi rumah tinggal, kafe, galeri, atau tempat usaha. Hanya sebagian kecil yang tetap digunakan sebagai tempat ibadah oleh komunitas agama lain.

Pada saat yang sama, populasi Muslim terus bertambah, termasuk di Victoria. Berdasarkan Sensus penduduk pada 2021, jumlah penduduk Muslim di negara bagian tersebut mencapai 273.028 orang atau 4,2% dari total penduduk.

Baca: Lupakan Boeing-Airbus, Sambutlah Embraer: Sang Penguasa Langit Baru

Jumlah itu meningkat 38,6% dibandingkan 2016, ketika populasi Muslim di Victoria tercatat sebanyak 197.029 orang atau 3,3% dari jumlah penduduk.

Dalam jangka panjang, porsi penduduk Kristen di Victoria turun dari 85,6% pada 1971 menjadi 40,9% pada 2021. Sementara itu, penduduk yang menyatakan tidak memiliki agama meningkat dari 7,3% menjadi 39,3%.

Bertambahnya komunitas Muslim membuat tempat ibadah sementara, seperti bekas pabrik, pertokoan, dan bangunan sewaan, tidak lagi cukup menampung kegiatan keagamaan, pendidikan, serta pelayanan sosial.

Membeli gereja yang sudah berdiri kemudian menjadi pilihan yang lebih praktis dan terjangkau daripada membeli lahan kosong, membangun gedung dari awal, dan menjalani proses perizinan yang panjang.

Kendati demikian, perubahan gereja menjadi masjid belum dapat disebut sebagai fenomena besar di Australia. Jumlahnya masih sangat terbatas dibandingkan dengan bekas gereja yang beralih menjadi hunian atau tempat usaha.

Bangunannya Tetap Berdiri, Jemaahnya yang Berganti

Penggunaan bekas gereja sebagai masjid membuat bangunan tersebut tetap menjalankan fungsi awalnya sebagai tempat beribadah, meski digunakan oleh komunitas yang berbeda.

Alih fungsi tersebut juga dapat membantu menjaga bangunan bersejarah. Properti berusia ratusan tahun membutuhkan biaya besar untuk perawatan dan pemugaran. Tanpa pemilik dan fungsi baru, bangunan itu berisiko rusak atau terbengkalai.

Baca: Rencana Jepang Bangun Masjid Tuai Penolakan, Warga Sampaikan Ketakutan

Komunitas Muslim yang membeli bekas gereja harus mengeluarkan dana untuk memperbaiki dan merawat properti tersebut. Dengan demikian, jejak sejarah bangunan dapat dipertahankan meski kepemilikan dan penggunanya berganti.

Pendekatan serupa direncanakan di Kilmore. Pengembangan masjid tidak ditujukan untuk menghapus sejarah gereja, tetapi mempertahankan karakter arsitektur dan nilai warisannya sambil menyesuaikannya dengan kebutuhan jemaah baru.

Menurut mantan Direktur Eksekutif Islamic Council of Victoria Nail Aykan yang dilansir dari ABC, kisah Kilmore bukan mengenai satu agama yang menggantikan agama lain.

Dia melihatnya sebagai kelanjutan fungsi bangunan yang sejak awal didirikan untuk menumbuhkan kehidupan beragama, memperkuat hubungan sosial, dan melayani masyarakat.

Lebih dari satu setengah abad setelah dibangun, tujuan tersebut masih bertahan. Bangunannya tetap menjadi tempat ibadah dan pusat kegiatan masyarakat, meski komunitas yang menghidupkannya telah berganti.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw)

Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Anggota DPRD Tangsel Gus Andi Meninggal Dunia, Kecelakaan di Tol Cipali
• 14 jam lalu
0
thumb
Makalah MBG Masuk Nominasi Nobel Perdamaian Diusut, Pemerintah Selidiki Dugaan Pencatutan Nama Prabowo
• 6 jam lalu
0
thumb
Pertahankan Performa Positif, Laba Usaha Kimia Farma (KAEF) Tumbuh 111,3 Persen
• 4 jam lalu
0
thumb
Info Cuaca 5 Agustus: Mayoritas Berawan, Waspada Hujan Petir di Tanjung Selor
• 17 jam lalu
0
thumb
Gencar Jaga Kamtibmas, Satbinmas Polres Pelabuhan Makassar Rutin Patroli dan Binluh di Pelabuhan Paotere
• 15 jam lalu
0
Berhasil disimpan.