JAKARTA, KOMPAS.com - Bahasa ibu selama ini menjadi pintu pertama bagi seorang anak mengenal dunia.
Melalui bahasa yang digunakan di rumah, anak tidak hanya belajar berkomunikasi, tetapi juga memahami tata krama, nilai kehidupan, hingga identitas budaya yang diwariskan keluarganya.
Namun, di tengah kehidupan perkotaan yang semakin majemuk, penggunaan bahasa ibu di banyak keluarga mulai bergeser.
Anak-anak, terutama yang lahir dan tumbuh di kota besar seperti Jakarta, kini lebih akrab menggunakan bahasa Indonesia dalam kesehariannya dibandingkan bahasa daerah orang tuanya.
Baca juga: Saat Bahasa Ibu Perlahan Hilang dari Rumah Anak-anak Perantau di Jakarta...
Guru Besar Bidang Ilmu Sastra Universitas Negeri Semarang (UNNES), Teguh Supriyanto, menilai fenomena tersebut merupakan konsekuensi yang wajar dari kehidupan masyarakat urban.
Menurut Teguh, keluarga perantau pada umumnya harus mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan tempat tinggal, tempat bekerja, hingga lingkungan sosial yang baru.
Dalam proses adaptasi itu, bahasa Indonesia menjadi pilihan utama karena dapat digunakan oleh masyarakat dari berbagai latar belakang suku.
"Fenomena ini sangat wajar karena mereka mayoritas harus adaptif dengan lingkungan tempat kerja, kos, atau bahkan rumah sendiri jika beruntung," kata Teguh saat dihubungi Kompas.com, Selasa (4/8/2026).
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa berkurangnya penggunaan bahasa ibu tidak boleh dipandang sekadar sebagai perubahan cara berkomunikasi.
Menurutnya, bahasa ibu memiliki fungsi yang jauh lebih besar karena menjadi media utama dalam mewariskan identitas budaya kepada generasi berikutnya.
Teguh mengatakan, setiap bahasa daerah membawa ciri khas yang tidak dimiliki bahasa lain.
Keunikan itu bukan hanya terlihat dari kosakata, tetapi juga cara masyarakat menghormati orang lain, membangun hubungan sosial, hingga memandang kehidupan.
Ia mencontohkan berbagai ragam bahasa daerah di Indonesia yang memiliki karakteristik berbeda, mulai dari bahasa Ngapak, Jawa Malangan, Cirebon, Madura, Batak, Dayak, Papua, Maluku, hingga bahasa daerah lainnya.
Menurut Teguh, keberagaman tersebut merupakan kekayaan budaya yang perlu terus diwariskan.
Baca juga: Saat Sampah Berkurang, Pemulung Bantargebang Khawatir Kehilangan Nafkah
Jika bahasa ibu perlahan ditinggalkan, maka ciri khas yang melekat pada setiap daerah juga dikhawatirkan ikut memudar.
Lebih jauh, Teguh menjelaskan bahwa bahasa bukan hanya menyampaikan pesan, melainkan juga mengajarkan perilaku.
Dalam bahasa Jawa, misalnya, dikenal konsep unggah-ungguh yang mengatur cara berbicara sesuai usia maupun kedudukan lawan bicara.
Ia menilai bahasa Jawa dan bahasa Sunda sama-sama mengajarkan penghormatan kepada orang lain, tetapi masing-masing memiliki cara yang khas dalam mengekspresikannya.
Ada tradisi membungkukkan badan, ngapurancang, maupun bentuk penghormatan lain yang diwariskan melalui kebiasaan berbahasa.
Menurut Teguh, bahasa ibu juga memiliki fungsi penting dalam menjaga hubungan antarkeluarga, terutama bagi masyarakat yang hidup berjauhan karena merantau.
Ia mencontohkan falsafah Jawa mangan ora mangan ngumpul yang kerap dimaknai sekadar ajakan untuk berkumpul.
Padahal, menurut dia, makna sesungguhnya jauh lebih dalam, yakni menjaga rasa kebersamaan meski anggota keluarga tinggal di kota, daerah, bahkan negara yang berbeda.
"Yang dimaksud bukan sekadar kumpul, tetapi rasa kebersamaan itulah maksudnya meski seseorang keluarga kerja di luar halaman, kota bahkan luar negeri," kata dia.
Di sisi lain, Teguh mengakui derasnya arus globalisasi, perkembangan teknologi, serta dominasi bahasa Indonesia membuat penggunaan bahasa ibu semakin terdesak.
Ia menyebut gempuran budaya modern memang menjadi tantangan bagi pemerintah maupun para pemerhati kebudayaan.
Baca juga: Kali Bekasi Selalu Menghitam Saat Musim Kemarau, Sudah Terjadi sejak 2019
Namun, perubahan tersebut juga tidak bisa dilepaskan dari sifat kebudayaan yang terus berkembang mengikuti perubahan zaman.
"Namun perlu disadari bahwa kebudayaan bersifat dinamis, bergerak dan berkembang," kata Teguh.
Karena itu, ia menilai upaya mempertahankan bahasa ibu harus dilakukan secara terencana dan dimulai dari lingkungan keluarga.
Menurutnya, orangtua dapat mengenalkan kosakata sederhana yang mudah digunakan dalam kehidupan sehari-hari, seperti nama makanan tradisional, anggota keluarga, maupun ungkapan-ungkapan yang sering dipakai di rumah.
Selain itu, pembiasaan berbicara menggunakan bahasa ibu saat menelepon keluarga di kampung halaman, atau ketika arisan RT (rukun tetangga) dengan komunitas yang berasal dari daerah yang sama juga dinilai dapat membantu anak lebih akrab dengan bahasa daerahnya.
Pada akhirnya, menurut Teguh, keberhasilan mempertahankan bahasa ibu tidak bergantung pada seberapa sering bahasa itu diajarkan di sekolah, melainkan pada kebiasaan yang dibangun di dalam keluarga.






Komentar (0)