Bandung: Piala Presiden 2026 tak hanya menyajikan persaingan seru di atas lapangan. Turnamen pramusim paling bergengsi di Indonesia ini juga menghidupkan roda ekonomi di luar stadion, salah satunya melalui ramainya warung kopi yang menjadi tempat favorit masyarakat untuk menonton pertandingan.
Bandung, sebagai kota dengan basis suporter Persib yang besar, menjadi salah satu pusat euforia. Warung kopi pun berubah menjadi "stadion kedua" saat semifinal Piala Presiden 2026 mempertemukan Persib Bandung melawan Persija Jakarta di Stadion I Wayan Dipta, Bali, Selasa, 4 Agustus 2026.
Sejak beberapa jam sebelum kick-off, kursi-kursi mulai dipadati pengunjung yang datang bersama teman, keluarga, hingga komunitas suporter. Televisi layar lebar dan pengeras suara menjadi daya tarik utama untuk menghadirkan suasana seperti di tribun stadion.
Antusiasme memuncak karena pertandingan semifinal itu digelar tanpa penonton di stadion. Tradisi nonton bareng (nobar) di warung kopi justru kian meningkat, sehingga pelaku usaha kecil merasakan lonjakan omzet dari penjualan kopi, minuman dingin, hingga berbagai camilan.
"Iya alhamdulillah, pas kemarin semifinal pada nobar disini rame jadi jualan juga rame. Banyaknya pesen kopi sama jajanan juga," kata Anwar, pemilik warung kopi di Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat, Rabu, 5 Agustus 2026.
Baca Juga :
Digelar Tanpa Penonton, 1.347 Personel Amankan Semifinal Piala Presiden di Bali
Anwar mengaku jumlah pelanggan melonjak dua hingga tiga kali lipat dibanding hari biasa. Bahkan, ia sempat menambah area duduk dengan meminjam kursi tetangga dan menambah stok bahan baku untuk mengantisipasi membludaknya pengunjung.
"Iya kemarin mah kursi juga kurang, jadi ditambahin saya minjem dulu ke tetangga-tetangga. Padahal kemarin mainnya sore. Alhamdulillah rame pisan," cetus Anwar.
Fenomena ini menunjukkan bahwa sepak bola memiliki efek berganda terhadap perekonomian masyarakat. Tak hanya menguntungkan penyelenggara dan klub, tetapi juga memberi berkah bagi pelaku usaha mikro di sekitar permukiman.
Warung kopi kini bukan sekadar tempat menikmati kopi, melainkan ruang interaksi sosial. Berbagai kalangan pelajar, pekerja, hingga orang tua berkumpul untuk mendukung tim favorit mereka.
"Yang pulang sekolah kemarin juga ada pada diem dulu disini, nonton disini. Lebih rame katanya dibandingkan nonton dirumah," cetus Anwar.
Piala Presiden, dok: Instagram
Suasana serupa juga terlihat di sejumlah kios pinggir jalan yang dipenuhi warga untuk nobar laga Persib, turut menghidupkan aktivitas UMKM.
Para pemilik warung kopi pun makin kreatif menarik pelanggan. Beberapa menawarkan promo paket nobar, diskon minuman, hingga hadiah bagi yang bisa menebak skor pertandingan.
"Besok pas final Persib lawan Persebaya pasti ngadain nobar lagi. Ada hadiah kecil-kecilan juga sama promo, karena besok kan pertandingan terakhir, pasti rame juga yang ikut nobar," beber Anwar.
Lebih dari sekadar tempat berkumpul, geliat warung kopi selama Piala Presiden 2026 memperlihatkan bahwa olahraga mampu menjadi penggerak ekonomi kerakyatan. Setiap pertandingan bukan hanya menghibur, tetapi juga membuka peluang pendapatan bagi ribuan pelaku UMKM.
Piala Presiden akhirnya bukan hanya panggung bagi pemain untuk menunjukkan kemampuan terbaik. Turnamen ini juga menjadi momentum bagi warung kopi untuk berkembang, mempererat kebersamaan, sekaligus membuktikan bahwa semangat sepak bola mampu menggerakkan ekonomi hingga ke akar-akarnya.





Komentar (0)