BPS: Perlambatan manufaktur dipicu kontraksi batu bara dan pengilangan

antaranews.com
3 jam lalu
Cover Berita
Jakarta (ANTARA) - Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan bahwa perlambatan pertumbuhan industri pengolahan atau manufaktur pada triwulan II 2026 terutama didorong oleh kontraksi pada subsektor industri batu bara dan pengilangan minyak bumi dan gas (migas).

Sebagai informasi, industri pengolahan tumbuh 4,52 persen secara tahunan (year on year/yoy) pada triwulan II 2026, melambat dari pertumbuhan 5,68 persen (yoy) pada periode yang sama tahun sebelumnya.

"Non-migasnya bagus. Tapi industri migasnya, terutama industri pengilangan migasnya, tumbuh negatif," kata Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS M. Edy Mahmud dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu.

Lebih lanjut, Edy menjelaskan bahwa industri batu bara dan pengilangan migas mengalami kontraksi sebesar 3,97 persen (yoy) pada triwulan II 2026 dan kontraksi 0,15 persen secara kumulatif (cumulative to cumulative/ctc) pada semester I 2026.

Menurutnya, kontraksi pada kedua subsektor tersebut turut menekan pertumbuhan industri pengolahan secara keseluruhan, meskipun industri nonmigas masih menunjukkan kinerja yang baik.

Sebaliknya, industri nonmigas tumbuh 5,32 persen (yoy) pada triwulan II 2026 atau lebih tinggi dibandingkan triwulan I 2026, serta tumbuh 5,23 persen (ctc) pada semester I 2026.

Adapun industri pengolahan menjadi sumber pertumbuhan terbesar terhadap perekonomian Indonesia pada triwulan II 2026 dengan kontribusi sebesar 0,90 persen. Lapangan usaha ini juga memiliki pangsa terbesar terhadap produk domestik bruto (PDB), yakni 18,50 persen.

Baca juga: BPS: Bali-Nusra catat pertumbuhan ekonomi tertinggi pada triwulan II

Baca juga: BPS catat peningkatan tipis angka ketimpangan Gini Ratio di 0,368

BPS mencatat bahwa pertumbuhan industri pengolahan didorong oleh permintaan domestik dan luar negeri.

Secara lebih rinci, industri makanan dan minuman tumbuh 6,51 persen seiring meningkatnya permintaan domestik dan luar negeri, terutama untuk produk ikan olahan, daging ayam, susu dan olahan susu.

Selain itu, industri barang logam, komputer, barang elektronik, optik dan peralatan listrik tumbuh 8,04 persen didorong oleh peningkatan permintaan luar negeri terhadap komponen barang elektronik, baterai dan peralatan listrik.

Sementara itu, industri kimia, farmasi dan obat tradisional tumbuh 4,99 persen, didukung oleh meningkatnya permintaan domestik dan luar negeri terhadap produk bahan kimia.

Pada triwulan II 2026, PDB atas dasar harga konstan (ADHK) tercatat sebesar Rp3.576,2 triliun. Angka ini meningkat dari Rp3.396,6 triliun pada triwulan II 2025, sehingga perekonomian Indonesia tumbuh 5,29 persen (yoy).

Dari sisi lapangan usaha, selain industri pengolahan, perdagangan menjadi sumber pertumbuhan ekonomi terbesar berikutnya dengan andil 0,83 persen. Lapangan usaha ini tumbuh 6,39 persen (yoy) dan memiliki pangsa 13,02 persen terhadap PDB.

Kemudian, sektor konstruksi menjadi sumber pertumbuhan ekonomi selanjutnya dengan andil 0,62 persen. Sektor ini tumbuh 6,68 persen (yoy) dan memiliki pangsa 9,79 persen terhadap PDB.

Adapun sektor informasi dan komunikasi (infokom) memberikan andil 0,48 persen terhadap pertumbuhan ekonomi. Lapangan usaha ini tumbuh 6,97 persen (yoy) dengan pangsa 4,30 persen terhadap PDB.

Sedangkan dari sisi pengeluaran, sumber pertumbuhan ekonomi terbesar berasal dari konsumsi rumah tangga sebesar 2,67 persen, dengan pertumbuhan 5,06 persen (yoy) dan kontribusi terhadap PDB 53,32 persen.

Selanjutnya, pembentukan modal tetap bruto (PMTB) menyumbang 2,06 persen terhadap pertumbuhan ekonomi, dengan pertumbuhan 6,87 persen (yoy) dan kontribusi terhadap PDB 29,36 persen.

Konsumsi pemerintah menyumbang 1,07 persen terhadap pertumbuhan ekonomi, dengan pertumbuhan 15,97 persen (yoy) dan kontribusi terhadap PDB 7,57 persen.

Konsumsi lembaga nonprofit yang melayani rumah tangga (LNPRT) tercatat tumbuh 6,93 persen (yoy) dengan kontribusi terhadap PDB 1,35 persen.

Adapun ekspor tumbuh 4,13 persen (yoy) dengan kontribusi terhadap PDB sebesar 23,13 persen. Sementara impor meningkat 8,82 persen (yoy). Mengingat impor menjadi faktor pengurang dalam penghitungan PDB, net ekspor tercatat memberikan andil negatif sebesar 0,78 persen terhadap pertumbuhan ekonomi.

Baca juga: BPS: Konsumsi pemerintah pimpin pertumbuhan komponen pengeluaran TW-II

Baca juga: BPS: Ekonomi Indonesia tumbuh 5,29 persen pada triwulan II 2026


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
BRI Hadirkan Pembayaran Contactless untuk Pengguna MRT Jakarta
• 10 jam lalu
0
thumb
Menko Polkam Bakal Bongkar Dalang Hoaks Video Demo Besar
• 4 jam lalu
0
thumb
Celios Ragukan Data Pertumbuhan Ekonomi 5,29 Persen, Tak Sejalan Kondisi Riil Masyarakat
• 2 jam lalu
0
thumb
Kodim 1207 Pontianak Distribusikan Air Bersih untuk Warga Terdampak Kekeringan di Kubu Raya
• 8 jam lalu
0
thumb
Dua Dosen UIN Alauddin Makassar Lolos Scholar Kemenag ke AS-Belanda
• 51 menit lalu
0
Berhasil disimpan.