Melansir Bloomberg, mata uang Garuda ditutup naik 94 poin atau 0,52 persen ke level Rp17.933 per USD.
IDXChannel - Nilai tukar rupiah ditutup menguat pada perdagangan Rabu (5/8/2026). Melansir Bloomberg, mata uang Garuda ditutup naik 94 poin atau 0,52 persen ke level Rp17.933 per USD.
Pengamat Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai rilis data ekonomi terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) memberikan sentimen positif, di mana lembaga tersebut melaporkan pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,29 persen secara tahunan (year on year/YoY) pada kuartal II-2026.
Meski lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 yang mencapai 5,61 persen, pertumbuhan ekonomi pada kuartal II ini berbanding terbalik dengan para ekonom yang memproyeksi pertumbuhan berada antara 4,8 persen sampai 4,9 persen.
“Sebelumnya, BPS juga mencatat Indonesia mengalami deflasi bulanan sebesar 0,14 persen pada Juli 2026, melandai dari bulan sebelumnya. Meskipun inflasi tahunan berada di tingkat 2,88 persen dan sektor pendidikan menghadapi tekanan musiman tahun ajaran baru, penurunan harga pangan memberikan penyeimbang bagi pengeluaran jangka pendek,” tulis Ibrahim dalam risetnya.
Dari eksternal, pasar merespons positif pernyataan Qatar pada Selasa yang menyatakan para mediator telah mencapai kemajuan dalam upaya mengakhiri perang. Hal ini berhasil mendorong penurunan harga minyak, meskipun Teheran membantah pernyataan Presiden AS Donald Trump bahwa perundingan sudah berlangsung. Harga minyak Brent ditutup di bawah USD80 per barel pada Selasa, untuk pertama kalinya sejak 13 Juli.
Trump dan Emir Qatar, Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani, membahas upaya untuk memperkecil perbedaan antara Washington dan Teheran serta meningkatkan prospek penyelesaian jangka panjang dalam sebuah percakapan telepon, menurut keterangan kantor Emir Qatar.
Trump mengatakan perundingan dengan Teheran telah dimulai dan Iran menghadapi "kesempatan terakhir" untuk mencapai kesepakatan. Namun, para pejabat Iran menegaskan bahwa tidak ada negosiasi yang sedang berlangsung dengan AS.
Para pengamat kebijakan moneter sedang memantau data pasar tenaga kerja AS minggu ini untuk mendapatkan petunjuk lebih lanjut mengenai suku bunga. Para pedagang kini menunggu data Perubahan Ketenagakerjaan ADP malam ini dan Nonfarm Payrolls (NFP) untuk mendapatkan sinyal yang lebih jelas tentang pasar tenaga kerja AS dan jalur kebijakan moneter.
Perubahan Ketenagakerjaan ADP untuk Juli, dengan perusahaan swasta diperkirakan telah mempekerjakan 70.000 orang, turun dari 98.000 pekerjaan yang tercipta pada Juni. Angka ketenagakerjaan yang lebih rendah dapat semakin mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed.
(NIA DEVIYANA)





Komentar (0)