Harga Emas Naik Lebih dari 2 Persen, Saham ANTM hingga BRMS Melesat

idxchannel.com
1 jam lalu
Cover Berita

Saham emiten produsen emas menguat pada perdagangan Rabu (5/8/2026), seiring lonjakan harga emas dunia yang menembus level tertinggi dalam dua pekan.

Harga Emas Naik Lebih dari 2 Persen, Saham ANTM hingga BRMS Melesat. (Foto: Magnific)

IDXChannel - Saham emiten produsen emas menguat pada perdagangan Rabu (5/8/2026), seiring lonjakan harga emas dunia yang menembus level tertinggi dalam dua pekan.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), hingga pukul 13.37 WIB, saham PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) melambung 7,30 persen ke Rp7.375 per unit.

Baca Juga:
Mengintip Kinerja Semester I-2026 Sederet Emiten LQ45, Siapa Paling Moncer?

Kenaikan juga terjadi pada saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) yang menguat 6,57 persen ke Rp3.080 per unit dan PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) yang naik 6,03 persen.

Selanjutnya, saham PT Archi Indonesia Tbk (ARCI) melonjak 5,99 persen, PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) menguat 5,00 persen, serta PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB) naik 3,67 persen.

Baca Juga:
Kredit BNI Tumbuh 24,4 Persen pada Semester I 2026

Sementara itu, saham PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) terapresiasi 3,04 persen dan PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) bertambah 1,03 persen.

Penguatan saham-saham tersebut sejalan dengan reli harga emas dunia. Hingga pukul 13.37 WIB, harga emas spot naik 2,47 persen menjadi USD4.177,64 per troy ons, sekaligus menjadi level tertinggi dalam dua pekan.

Baca Juga:
Transformasi TelkomGroup Buahkan Hasil, InfraNexia Perkuat Infrastruktur Digital Nasional

Kenaikan harga emas didorong pelemahan dolar Amerika Serikat (AS), yang membuat logam mulia lebih menarik bagi pemegang mata uang lain.

Di saat yang sama, harga minyak dunia melanjutkan penurunan setelah anjlok dalam dua sesi sebelumnya, sehingga meredakan kekhawatiran inflasi dan menurunkan ekspektasi kenaikan suku bunga.

Sentimen juga datang dari perkembangan geopolitik.

Qatar menyatakan para mediator mencatat kemajuan dalam upaya mengakhiri konflik antara AS dan Iran, meski Teheran membantah klaim Presiden AS Donald Trump bahwa pembicaraan telah berlangsung.

"Hubungan emas dengan harga minyak masih tetap kuat karena minyak memiliki dampak besar terhadap tekanan inflasi global. Jika terdapat peta jalan yang semakin jelas menuju deeskalasi ketegangan, harga emas berpotensi melanjutkan penguatannya," kata Senior Market Analyst OANDA Kelvin Wong, dikutip Reuters.

Pelaku pasar kini juga menantikan data ketenagakerjaan AS sebagai petunjuk arah kebijakan moneter Federal Reserve. Berdasarkan perhitungan pasar, probabilitas kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan 15-16 September turun menjadi 59 persen dari 67 persen sehari sebelumnya.

Meski dikenal sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi, emas umumnya kurang diminati ketika suku bunga tinggi karena tidak memberikan imbal hasil berupa bunga. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Bulog Siap Distribusi Bantuan Beras ke 33,2 Kuta KPM Mulai 17 Agustus
• 10 jam lalu
0
thumb
Transformasi Topeng Malangan dalam Pentas Teater Neo-Walangwati Walangsumirang
• 16 jam lalu
0
thumb
Agung Nugroho Dorong Semangat Green City di IMT-GT GCMC 2026 Pekanbaru
• 46 menit lalu
0
thumb
Toyota Hilux Terbaru Kompatibel dengan Solar B50
• 9 jam lalu
0
thumb
Dikabarkan Mau Caplok Raksasa Tambang Australia, Bos BUMI Buka Suara
• 4 jam lalu
0
Berhasil disimpan.