DEIR AL-BALAH, KOMPAS.TV — Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan pada Selasa (4/8/2026) bahwa Israel tidak akan mundur dari garis pertahanannya saat ini di Gaza, sampai Hamas sepenuhnya melucuti senjatanya.
Netanyahu juga menolak kesepakatan yang diumumkan baru-baru ini oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.
Kesepakatan tersebut menyerukan agar Hamas mulai melucuti senjatanya dan agar Israel menghentikan serangannya dan mulai menarik diri dari sekitar 60% wilayah Gaza yang saat ini dikuasainya.
Kesepakatan itu didasarkan pada perjanjian gencatan senjata Oktober yang mengakhiri operasi militer besar dan menghasilkan pembebasan sandera yang tersisa di Gaza, tetapi telah terhenti di front lain.
Pernyataan Netanyahu menimbulkan keraguan tentang kesepakatan untuk melucuti senjata Hamas, yang dilihat sebagai terobosan potensial untuk mengakhiri perang. Ini juga menandai gesekan dengan pemerintahan Trump yang ditunjukkan di depan publik.
Baca Juga: Kemlu RI Kecam Keras Serangan Israel, Desak Hentikan Penghambatan Peace Plan Gaza
Netanyahu, yang menghadapi pertarungan berat untuk pemilihan kembali pada bulan Oktober, menegaskan kembali pendiriannya bahwa pelucutan senjata harus diutamakan.
Dia mengatakan pasukan Israel akan terus melakukan apa pun yang diperlukan untuk melindungi diri mereka sendiri, wilayah mereka, dan warga negara mereka.
“Pemerintahan Trump“ mengirimkan draf kepada kami. Kami tidak setuju. Itu bukan draf kami. Kami mengirimkan komentar kami. Ini adalah posisi kami,” kata Netanyahu dalam sebuah video yang diunggah di media sosial.
Pemakaman Massal Warga GazaSebelumnya pada hari Selasa, warga Palestina berkumpul untuk melakukan pemakaman massal untuk lebih dari 100 jenazah. Jenazah-jenazah ini kehilangan nyawa karena serangan mematikan Israel di Gaza pada tahun 2023.
Penulis : Tussie Ayu Editor : Desy-Afrianti
Sumber : The Associated Press
- negosiasi damai hamas - israel
- netanyahu tak mau tarik pasukan
- netanyahu
- gaza
- pemakaman massal






Komentar (0)