Fenomena belanja online di Tiongkok daratan semakin menjadi sorotan. Tingkat pengembalian (retur) pakaian wanita dilaporkan mencapai 70–80%, sehingga banyak toko pakaian wanita populer di platform Taobao yang memiliki jutaan pengikut terpaksa menutup usahanya. Para pemilik toko menyebut biaya promosi yang semakin mahal dan tingginya angka retur sebagai penyebab utama, sementara sebagian konsumen berpendapat bahwa penutupan tersebut disebabkan oleh kualitas produk yang buruk dan tidak sesuai dengan deskripsi.
EtIndonesia.com Menurut laporan Sina Finance, baru-baru ini sejumlah toko pakaian wanita terkemuka di Taobao mengumumkan penutupan usaha mereka. Salah satu toko menyatakan bahwa biaya promosi berbayar di platform terus meningkat, tetapi tidak mampu menghasilkan penjualan yang sebanding. Di sisi lain, tingginya tingkat pengembalian barang membuat biaya operasional semakin membengkak.
Berdasarkan informasi yang dipublikasikan, “promosi berbayar” (投流) adalah praktik membeli iklan di platform internet untuk memperoleh lebih banyak lalu lintas pengunjung dan calon pelanggan.
Salah satu toko, Jigu Jigu Plus Size Women’s Clothing (嘰咕嘰咕家大碼女裝), yang memiliki hampir 5 juta pengikut, mengumumkan bahwa mereka “perlu berhenti sejenak untuk melakukan evaluasi dan belajar kembali.”
Sementara itu, studioscout, sebuah toko pakaian wanita dengan desain orisinal yang memiliki hampir 700.000 pengikut dan telah beroperasi hampir 13 tahun, juga mengumumkan penutupan serta cuci gudang.
Seorang pemilik toko mengungkapkan keluhannya: “Biaya promosi terus meningkat, harga trafik semakin mahal, tetapi tidak bisa dikonversi menjadi penjualan.”
Menurut laporan tersebut, seorang pelaku industri mengatakan bahwa beberapa tahun lalu tingkat retur pakaian wanita berada di kisaran 50%, tetapi terus meningkat setiap tahun hingga kini mencapai 70–80%, yang disebut telah menjadi kondisi umum di industri.
Dengan tingkat pengembalian setinggi itu, keuntungan bersih menjadi semakin kecil. Sementara biaya operasional tetap tinggi, menjalankan usaha pun menjadi semakin sulit.
Toko Yang Paopao , yang memiliki sekitar 3,46 juta pengikut dan penjualan tahunan lebih dari 40.000 produk, juga menyatakan: “Kami mengalami kerugian. Tingkat retur terlalu tinggi sehingga bisnis ini tidak bisa dilanjutkan.”
Laporan tersebut juga menyebutkan bahwa sebenarnya sejak tahun lalu sudah banyak toko pakaian wanita terkenal yang menutup usaha atau berhenti meluncurkan produk baru, termasuk Ff5 official, Li Dami , Ren Xiaoyi Lite Mode , dan Heiniunai . Sebagian toko tersebut telah beroperasi selama 15–16 tahun.
Namun, banyak konsumen memiliki pandangan yang berbeda. Mereka menilai bahwa masalah utamanya adalah produk yang diterima tidak sesuai dengan yang dipromosikan.
Beberapa komentar konsumen antara lain:
- “Barang yang diterima tidak sesuai dengan foto.”
- “Produk murah dengan kualitas buruk memang seharusnya tersingkir dari pasar.”
- “Pasar pakaian wanita tetap ada, tetapi masalahnya produknya tidak sesuai dengan yang ditampilkan.”
Ada pula konsumen yang mengatakan bahwa foto-foto ulasan pembeli maupun gambar promosi sering kali menggunakan sampel khusus atau produk contoh sebelum produksi massal, sehingga berbeda jauh dengan barang yang benar-benar diterima.
Seorang konsumen berkata:”Dulu saya jarang mengembalikan barang. Sekarang pakaian yang datang semakin jauh berbeda dari fotonya. Kalau tidak diretur, lalu bagaimana?”
Konsumen lain menambahkan: “Banyak toko online menggunakan foto milik orang lain. Mereka tidak benar-benar memproduksi pakaian sesuai desain pada foto, sehingga barang aslinya sangat berbeda.”
Di sisi lain, ada warganet yang berpendapat bahwa masalahnya bukan hanya pakaian, tetapi juga perbedaan bentuk tubuh antara model dan pembeli. Menurut mereka, pakaian yang dikenakan model profesional belum tentu memberikan hasil yang sama pada konsumen biasa. Karena itu, berbelanja di toko fisik dinilai masih memiliki kelebihan karena pembeli dapat langsung mencoba pakaian sebelum membeli.
Laporan ini menggambarkan tantangan yang sedang dihadapi industri fesyen daring di Tiongkok, di tengah meningkatnya biaya pemasaran digital, tingginya tingkat pengembalian barang, serta tuntutan konsumen terhadap kualitas dan kesesuaian produk.
Dilaporkan oleh Li Li/Disunting oleh Lin Qing






Komentar (0)