Berlatih Seni Musik Islami untuk Ketenangan Hati

kompas.id
10 jam lalu
Cover Berita

Panggung Pusat Pelatihan Seni Budaya (PPSB) Muhammad Mashabi, Tanah Abang, Jakarta Pusat, dihidupkan oleh belasan ibu-ibu yang memainkan alat musik marawis, Selasa (4/8/2026). Suara shalawat dan munajat berkumandang diiringi tabuhan alat musik saat membawakan seni musik Islami di panggung dan beberapa ruangan fasilitas publik tersebut.

Mereka adalah sebagian dari 40 peserta Pelatihan Seni Musik Nuansa Islami di tempat tersebut. Para peserta dari kalangan masyarakat dan pelajar dari wilayah Jakarta Pusat dibagi dalam tiga kelompok yang berlatih seni marawis, hadrah dan kasidah di bawah arahan praktisi yang ahli di bidangnya. Para ibu-ibu tergabung dalam kelompok marawis dan kasidah, sementara siswa sekolah dikumpulkan dalam kelompok hadrah.

Panggung pada rangkaian pelatihan ini digunakan secara bergantian oleh ketiga kelompok seni musik Islami ini. Sebelumnya, peserta memanfaatkan ruangan-ruangan yang ada di PPSB untuk berlatih teori dasar memainkan musik. Latihan di panggung ini sebagai simulasi saat pementasan mulai dari masuk dan keluar panggung, menyapa penonton, titik eksplorasi ruangan panggung hingga pertunjukan musik.Nantinya pada hari akhir pelatihan, para peserta akan unjuk kebolehan di depan penonton secara bergantian.

Pelatihan ini diselenggarakan oleh Suku Dinas Kebudayaan Kota Administrasi Jakarta Pusat untuk menghadirkan ruang kreatif bagi warga. Kegiatan tahunan ini diselenggarakan khusus sebagai wadah pelatihan dan pembinaan bagi para penerima hibah alat musik. Peserta diharapkan dapat mengoptimalkan pemanfaatan sarana prasarana seni, mengasah keterampilan, serta mempererat silaturahmi antarpegiat seni di wilayah Jakarta Pusat.

Melalui pelatihan ini juga diharapkan dapat melestarikan budaya serta memperkaya khazanah seni budaya Islami dan melahirkan talenta-talenta baru. Program pembinaan ini diikuti masyarakat dan generasi muda sebagai upaya memperluas regenerasi pelaku seni musik Islami di Jakarta.

Hari ini adalah hari keenam dari 10 hari pelatihan yang berlangsung sejak 29 Juli hingga 11 Agustus. Mereka berlatih dengan tekun mengikuti arahan para pelatih. Latar belakang peserta tersebut beragam, mulai dari ibu-ibu majelis taklim, anggota sanggar seni, hingga pelajar dari tingkat SD hingga SMA. Sebagian dari peserta memulai latihan dari tingkat dasar dan baru mengenal alat-alat musik tradisional, seperti rebana, hajir, dumbuk, marawis, darbuka, dumbuk hingga simbal. Waktu 10 hari harus benar-benar optimal mereka gunakan untuk berlatih memainkan alat-alat musik tersebut.

Pembinaan ini pada dasarnya untuk mempersiapkan mereka tampil di lomba-lomba, selain nantinya mereka tampil pada sesi penutup latihan di depan penonton. Namun, patut disayangkan bahwa tahun ini dan kemungkinan tahun depan lomba seni musik religi tahunan yang biasa diadakan di tingkat provinsi ditiadakan menurut Zakaria Lubis, salah satu dari tiga pelatih yang mendapat bagian seni marawis.

Para peserta mengikuti pelatihan seni musik nuansa Islami di PPSB Muhammad Mashabi, Tanah Abang, Jakarta Pusat. (Kompas/Riza Fathoni)

Mereka berlatih dengan tekun mengikuti arahan para pelatih.

(Kompas/Riza Fathoni)

Pada akhir sesi nantinya para peserta akan unjuk kebolehan di depan penonton secara bergantian. (Kompas/Riza Fathoni)

”Padahal, itu salah satu motivasi buat sanggar-sanggar, buat remaja, biar lebih semangat lagi. Jadi, di tingkat provinsinya kan tidak diadakan. Di tingkat kotanya pun jadinya tidak diadakan,” ungkap Zakaria Lubis.

Meskipun lomba tahunan musik religi tahun ini ditiadakan, para peserta pelatihan ini tetap antusias. ”Alhamdulillahnya ibu-ibu itu tetap antusias. Kebetulan yang saya latih juga dari nol nih dari nol, Mereka mau mempelajari marawis biar bisa berguna di majelisnya Jadi, enggak cuma sekadar lomba, tapi mereka juga memang pengin belajar,” tambahnya.

Hal ini diamini Era Juriniyati (41), warga Cempaka Baru, sebagai anggota Majelis Taklim Baitul Ilmi. Ia bersama 15 orang dari majelis taklim itu turut dalam pelatihan ini. Marawis. ”Ini kita belajar dari nol. Awalnya kita hadrah, terus ternyata slot hadrahnya kan sudah penuh jadi tinggal slotnya dari marawis. Yaudahlah daripada nunggu tahun depan, kita marawis aja. Kebetulan tempat kita juga belum ada marawisnya,” ujarnya.

Pelatihan ini dinilai warga sangat bermanfaat. Dapat pengalaman belajar di luar tempat mereka sendiri. Bagi mereka musik Islami membuat hati jadi tenang.

Baca JugaHarap Cemas Pemulung jika ”Open Dumping” Bantargebang Berhenti


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Wabah Ebola di Kongo Tak Terkendali: 1.700 Orang Tewas, Pelacakan Kontak Terhambat Konflik
• 13 jam lalu
0
thumb
5 Sosok Dokter dan Nakes yang Hujat Yurizal Tri Chaerawan, Pasien BPJS yang Meninggal Dunia
• 4 jam lalu
0
thumb
Video: Hidrogen Jadi Mesin Transisi Energi, Bisa Gantikan BBM Diesel
• 7 jam lalu
0
thumb
Aksi Curanmor di Sedati Sidoarjo Digagalkan Warga, Satu Pelaku Ditangkap
• 6 jam lalu
0
thumb
Apindo Nilai Pertumbuhan Ekonomi 5,29% Masih Rapuh di Tengah Tekanan Global
• 3 jam lalu
0
Berhasil disimpan.