JAKARTA, DISWAY.ID - Indonesia kembali membukukan kinerja perdagangan yang positif.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat surplus neraca perdagangan sebesar USD 3,58 miliar sepanjang semester I 2026 atau periode Januari hingga Juni.
Capaian tersebut dinilai menjadi sinyal kuat bagi investor global untuk menanamkan modal di Indonesia.
BACA JUGA:BAZNAS Kirim Bantuan Darurat untuk Korban Kebakaran di Sukabumi
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menjelaskan surplus terjadi karena nilai ekspor Indonesia masih lebih tinggi dibandingkan impor.
"Indonesia mencatat ekspor kumulatif sebesar USD 140,81 miliar, atau tumbuh 4,13 persen. Nilai impornya tercatat sebesar USD 137,24 miliar," papar Ateng, pada Senin, 3 Agustus 2026.
Dalam menanggapi perilisan data tersebut, Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso menuturkan bahwa hasil capaian ini menandakan bahwa Indonesia telah berhasil menurunkan tingkat defisitnya.
"Itu kan kita defisit 0,45 miliar dolar sebelumnya, bulan Juni kemudian 1,6 miliar dolar. Artinya defisitnya udah mulai turun, ekspor kita dan surplusnya juga meningkat," tutur Menteri yang akrab disapa Busan tersebut kepada Disway dan awak media lainnya usai menghadiri agenda Business Forum Kadin Indonesia dan Thai Chamber of Commerce di Jakarta, pada Selasa, 4 Agustus 2026.
BACA JUGA:Indonesia dan Portugal Perkuat Kerja Sama, Menteri P2MI Siapkan Penempatan Pekerja Migran Berkualitas
Lebih lanjut, Mendag Busan juga turut menambahkan bahwa beberapa strategi pemasaran seperti menjalin perjanjian dagang dengan negara-negara lain serta penyelenggaraan forum bisnis internasional pun turut menjadi faktor yang menarik perhatian investor luar.
"Saya pikir ini bagus, karena investasi ini juga akan mendorong kedatangan banyak investor," ucap Mendag Busan.
"Karena banyak negara yang belum mempunyai perjanjian dagang dengan Amerika atau EU. Mereka kan akses pasarnya tidak mudah, makanya kemudian dia investasi ke Indonesia untuk bisa menembus pasar berupa pasar Amerika, dan ini juga kesempatan untuk kita," sambungnya.
BACA JUGA:BRIN Ingatkan Dampak Pembatasan Kadar Nikotin bagi Petani Tembakau: Perlu Proses Panjang
Sementara itu, data BPS juga turut mengungkapkan bahwa kspor Indonesia sepanjang semester I 2026 ditopang oleh industri pengolahan dengan nilai USD 115,5 miliar atau sekitar 82 persen dari total ekspor.
Nilai tersebut tumbuh 7,37 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, mencerminkan kokohnya kegiatan manufaktur domestik.
- 1
- 2
- »






Komentar (0)