JAKARTA, KOMPAS.com - Ketika tekanan pekerjaan, persoalan keluarga, hingga kecemasan akan masa depan datang bersamaan, tidak semua anak muda memilih menghubungi sahabat atau keluarga untuk bercerita.
Sebagian justru membuka aplikasi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dan mulai mengetik panjang tentang apa yang sedang mereka rasakan.
Fenomena menjadikan AI sebagai tempat mencurahkan isi hati semakin banyak ditemui di kalangan generasi muda.
Baca juga: TPS Liar yang Terbakar di Kramat Jati Jaktim Akan Dijadikan Waduk
Hal ini dilakukan bukan karena mereka menganggap AI mampu menggantikan manusia, melainkan karena chatbot dinilai selalu tersedia, tidak menghakimi, dan tidak akan menyebarkan cerita pribadi kepada orang lain.
Monique (26), pekerja di bidang marketing yang tinggal di Jakarta Timur, menjadi salah satu di antaranya.
Ia mengaku awalnya tidak pernah berniat menggunakan AI sebagai tempat curhat. Monique pertama kali memakai ChatGPT hanya untuk membantu pekerjaan sehari-hari.
Ia kerap meminta bantuan menyusun balasan pesan kepada atasan atau mencari cara menyampaikan pendapat kepada teman. Namun, perlahan pola penggunaannya berubah.
Di tengah kesibukan bekerja dan hubungan keluarga yang tidak terlalu dekat, Monique merasa semakin sulit menemukan ruang yang nyaman untuk bercerita. Teman-temannya pun mulai sibuk dengan kehidupan masing-masing.
"Kalau bercerita ke manusia kadang ada rasa takut cerita kita disebarkan atau menjadi bahan pembicaraan orang lain. Kalau ke AI, saya merasa lebih aman karena hanya menuangkan isi pikiran," ujar Monique saat dihubungi Kompas.com, Senin (3/8/2026).
Sejak awal 2026, ia mulai menggunakan AI untuk membahas berbagai persoalan yang dihadapinya, mulai dari tekanan pekerjaan, konflik dengan teman, hingga kebingungan mengambil keputusan.
Dalam seminggu, ia bisa membuka AI tiga hingga empat kali meski tidak selalu setiap hari.
Ia mengaku sesi percakapannya bisa berlangsung cukup lama. Ketika beban pikiran sedang menumpuk, ia dapat menghabiskan waktu sekitar satu jam berbincang dengan chatbot.
Meski demikian, Monique tetap membatasi informasi yang dibagikan. Ia menghindari menyebut identitas pribadi maupun aib orang lain.
Baginya, AI hanya menjadi tempat menuangkan pikiran sekaligus mencari sudut pandang baru, bukan pengganti manusia.
Menurut Monique, alasan banyak anak muda mulai memilih AI berangkat dari rasa khawatir untuk bercerita kepada orang lain.
Media sosial, menurut dia, membuat cerita pribadi lebih mudah menyebar sehingga kepercayaan terhadap lingkungan sekitar perlahan berkurang. Di sisi lain, AI selalu tersedia kapan pun dibutuhkan.
Baca juga: Kronologi Nenek di Cakung Dirampok Tetangga, Mulut hingga Tangan Dilakban
"Kita tidak perlu merasa sungkan karena mengganggu orang lain. Teman-teman juga punya kesibukan masing-masing," kata dia.
Meski merasakan manfaat tersebut, Monique tetap menyadari adanya risiko apabila seseorang terlalu bergantung kepada AI.
Ia mengaku pernah khawatir kebiasaan itu berkembang menjadi ketergantungan. Karena itu, ia menilai AI tidak boleh dijadikan tempat mendiagnosis kondisi psikologis seseorang.
"Kalau seseorang benar-benar mengalami stres atau beban pikiran yang berat, seharusnya tetap berkonsultasi dengan psikolog," tutur Monique.
Menangis di depan layar AIPengalaman serupa dialami Abil (23), seorang barista di Jakarta Selatan yang telah merantau dari Bogor, Jawa Barat, hampir dua tahun terakhir.
Awalnya, AI hanya ia gunakan untuk membantu membuat curriculum vitae (CV) dan mencari ide konten media sosial.
Namun, sekitar enam bulan lalu, kebiasaan itu berubah setelah ia pulang bekerja dalam kondisi kelelahan.
Hari itu kedai tempatnya bekerja dipenuhi pelanggan. Ia baru saja menghadapi komplain pelanggan, sementara persoalan keluarga di kampung juga ikut membebani pikirannya.
Di tengah malam, ia memilih membuka AI dan menuliskan semua yang dirasakan.
"Akhirnya saya iseng nulis semua yang saya rasakan ke AI. Saya kaget karena responsnya bikin saya merasa didengarkan," kata Abil saat dihubungi melalui WhatsApp.
Sejak saat itu, AI menjadi tempat yang ia datangi ketika tekanan pekerjaan mulai menumpuk.
Ia lebih banyak bercerita mengenai rasa lelah menghadapi pelanggan, target penjualan, hubungan dengan rekan kerja, hingga kecemasan melihat teman-teman seusianya yang dinilai lebih mapan.
Baca juga: Gubernur Bali dan Bupati Badung Temui Pramono, Pelajari Jurus Jakarta Cari Dana Pembangunan






Komentar (0)