Pantau - Nilai tukar rupiah pada perdagangan Selasa pagi melemah 32 poin atau 0,18 persen menjadi Rp18.029 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.997 per dolar AS, dipicu kenaikan harga minyak global dan kekhawatiran terhadap defisit neraca perdagangan Indonesia.
Analis Bank Woori Saudara Rully Nova mengatakan rupiah diperkirakan bergerak pada kisaran Rp17.980 hingga Rp18.140 per dolar AS.
“Rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan melemah pada kisaran di Rp17.980-Rp18.140 per dolar, dipengaruhi oleh global kembali naiknya harga minyak. Kenaikan harga minyak dipengaruhi oleh eskalasi konflik Timur Tengah yang melebar ke sisi produksi kilang minyak,” ungkap Rully.
Ia menjelaskan kenaikan harga minyak dipengaruhi meningkatnya ketegangan di Timur Tengah yang mengganggu pasokan energi global.
Harga Minyak dan Konflik Timur Tengah Jadi SorotanMengutip laporan Anadolu, harga minyak Brent sempat melonjak sekitar 25 persen sepanjang Juli 2026 setelah konflik terbaru antara Amerika Serikat dan Iran menggagalkan kesepakatan damai sementara serta mengganggu pasokan energi dari Selat Hormuz hingga Laut Merah.
Pada Senin (3/8), harga minyak sempat turun lebih dari 5 persen setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan perundingan damai dengan Iran akan dilanjutkan dan membatalkan rencana serangan militer terhadap Iran.
Memasuki perdagangan Selasa, harga minyak Brent kembali naik ke atas 84 dolar AS per barel setelah sebelumnya ditutup di kisaran 83 dolar AS per barel.
Defisit Neraca Perdagangan Tekan RupiahSelain harga minyak, Rully menyebut sentimen negatif terhadap rupiah juga berasal dari kekhawatiran investor terhadap berlanjutnya defisit neraca perdagangan Indonesia.
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan neraca perdagangan Indonesia pada Juni 2026 mengalami defisit sebesar 450 juta dolar AS dengan nilai ekspor mencapai 25,46 miliar dolar AS dan impor sebesar 25,91 miliar dolar AS.
“Surplus neraca perdagangan sangat signifikan mempengaruhi penguatan rupiah, sementara capital inflow di pasar keuangan saham dan obligasi sangat volatile. Adapun saat ini neraca perdagangan mengalami defisit karena surplus non migas terus menyusut dan defisit migas terus meningkat,” ujarnya.





Komentar (0)