Ringkasan Berita:
- Karhutla di TNBTS memicu kekhawatiran terhadap kelestarian ekosistem dan keberlangsungan wisata Gunung Bromo.
- Pengusaha jeep di Probolinggo menyebut belum ada pembatalan wisata karena jalur menuju Bromo masih dibuka.
- Kawasan savana masih ditutup demi keamanan sehingga belum dapat dikunjungi wisatawan.
- Pelaku wisata menilai pemulihan vegetasi dan ekosistem menjadi kunci menjaga keberlanjutan industri pariwisata Bromo.
Probolinggo (beritajatim.com) – Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang melanda kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) sejak Senin (3/8/2026) tidak hanya menyisakan pekerjaan rumah dalam proses pemadaman api. Musibah tersebut juga memunculkan kekhawatiran terhadap kelestarian ekosistem kawasan konservasi sekaligus keberlanjutan sektor pariwisata yang menjadi salah satu penopang ekonomi masyarakat di sekitar Gunung Bromo.
Bagi pelaku usaha wisata, khususnya pengusaha jeep yang menjadi tulang punggung transportasi wisata di Bromo, kebakaran ini menjadi pengingat bahwa keberlangsungan usaha mereka sangat bergantung pada kondisi alam. Meski dampak ekonomi belum dirasakan secara langsung di jalur wisata Kabupaten Probolinggo, kerusakan kawasan konservasi dinilai tidak boleh dianggap sepele.
Pemilik usaha jeep BromoDay di Kabupaten Probolinggo, Choirul Umam, mengatakan aktivitas wisata melalui pintu masuk Probolinggo hingga kini masih berlangsung normal. Wisatawan yang telah memesan layanan jeep juga belum melakukan pembatalan perjalanan.
“Kalau selama kebakaran hutan di kawasan TNBTS ini tidak ada perubahan. Dari kami pengusaha jeep Probolinggo, tamu yang sudah booking tidak ada pembatalan,” ujar Choirul saat dikonfirmasi, Selasa (4/8/2026) siang.
Menurutnya, kondisi tersebut dipengaruhi karena jalur wisata melalui Kabupaten Probolinggo masih dibuka untuk wisatawan. Meski demikian, kendaraan jeep tidak diperbolehkan membawa wisatawan menuju kawasan savana yang menjadi lokasi terdampak kebakaran.
“Probolinggo masih dibuka, meskipun wisatawan tidak kami bawa ke savana karena area tersebut masih dilarang,” katanya.
Choirul menilai dampak kebakaran tidak dapat diukur hanya dari jumlah kunjungan wisatawan. Baginya, kawasan savana dan area konservasi yang terbakar merupakan bagian penting dari daya tarik utama Gunung Bromo sekaligus penyangga keseimbangan ekosistem.
“Ketika terbakar seperti ini memang sangat disayangkan. Bukan mengganggu secara langsung, tetapi ekosistem di kawasan konservasi sekarang ini memang rusak,” ungkapnya.
Ia berharap proses pemulihan kawasan dapat berlangsung secara alami setelah memasuki musim hujan. Menurutnya, vegetasi baru akan kembali tumbuh sehingga bentang alam savana yang menjadi ikon wisata Bromo dapat kembali menghijau.
“Nanti ketika masuk musim hujan, savana dan kawasan konservasi yang saat ini terbakar bisa bagus lagi, hijau kembali. Padang rumputnya akan tumbuh baru,” jelasnya.
Kerusakan kawasan konservasi akibat kebakaran dinilai menjadi ancaman serius bagi keberlanjutan wisata Bromo. Savana bukan hanya menawarkan panorama alam yang menjadi daya tarik wisatawan, tetapi juga menjadi habitat berbagai jenis flora dan fauna yang hidup di kawasan TNBTS.
Hilangnya tutupan vegetasi akibat kebakaran berpotensi mengganggu keseimbangan ekosistem, mulai dari rusaknya habitat satwa liar, berkurangnya keanekaragaman hayati, hingga meningkatnya risiko erosi ketika musim hujan tiba.
Di sisi lain, sektor pariwisata Bromo memiliki mata rantai ekonomi yang panjang. Selain pengusaha jeep, terdapat pelaku usaha homestay, pedagang, pemandu wisata, penyedia jasa perjalanan, hingga masyarakat sekitar kawasan yang menggantungkan pendapatan dari aktivitas wisata.
Choirul memperkirakan dampak ekonomi akibat pembatasan kunjungan justru lebih dirasakan pelaku wisata di jalur Malang yang mengalami penutupan akses menuju kawasan Bromo.
“Kalau Malang mungkin ada pengaruh,” ujarnya.
Karhutla di kawasan TNBTS kembali menunjukkan pentingnya pengelolaan pariwisata berbasis konservasi. Keberlangsungan industri wisata Gunung Bromo tidak hanya ditentukan oleh tingginya jumlah wisatawan, tetapi juga bergantung pada kemampuan seluruh pihak menjaga kelestarian kawasan alam yang menjadi daya tarik utamanya. [rap/beq]





Komentar (0)