Jakarta: Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan di pagi ini mengalami pelemahan.
Mengutip data Bloomberg, Selasa, 4 Agustus 2026, rupiah hingga pukul 09.53 WIB berada di level Rp18.025 per USD. Mata uang Garuda tersebut turun 28 poin atau setara 0,16 persen dari Rp17.997 per USD pada penutupan perdagangan sebelumnya.
Sementara menukil data Yahoo Finance, rupiah pada waktu yang sama berada di level Rp17.986 per USD. Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi memprediksi rupiah pada hari ini akan bergerak secara fluktuatif, meski demikian rupiah diprediksi akan melemah.
"Untuk perdagangan hari ini, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp17.990 per USD hingga Rp18.040 per USD," jelas Ibrahim.
Baca Juga :
PMI Manufaktur Kembali Ekspansi, Rupiah Berbalik MenguatIbrahim menjelaskan, pergerakan rupiah pada hari ini dipengaruhi oleh sentimen pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menyebut telah membatalkan rencana serangan militer terhadap Iran setelah Teheran bersama sejumlah negara di Timur Tengah meminta ruang untuk melakukan negosiasi.
Trump mengatakan pembicaraan akan dimulai pada Senin, 3 Agustus 2026, dengan fokus pada pembukaan kembali Selat Hormuz serta upaya memastikan Iran menghentikan ambisi pengembangan program nuklirnya.
Pernyataan tersebut mendorong harga minyak dunia turun lebih dari US$5 per barel pada awal perdagangan Asia. Pelemahan harga minyak meredakan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi yang berkepanjangan, sekaligus mengurangi risiko inflasi yang dapat mendorong kebijakan moneter lebih ketat.
Meski demikian, pemerintah Iran membantah sedang melakukan negosiasi dengan Washington sehingga ketidakpastian geopolitik masih menjadi perhatian pelaku pasar.
Selain perkembangan geopolitik, perhatian investor kini beralih ke arah kebijakan moneter The Fed. Pelaku pasar masih bersikap hati-hati setelah tiga pejabat Federal Reserve yang sebelumnya menyampaikan perbedaan pendapat dalam rapat kebijakan pekan lalu kembali menegaskan pada Jumat, 31 Juli 2026, bahwa inflasi di AS masih terlalu tinggi.
Mereka menilai kenaikan suku bunga masih diperlukan untuk menjaga kredibilitas bank sentral dalam mengendalikan inflasi. Sejumlah data ekonomi penting AS akan menjadi perhatian investor sepanjang pekan ini, antara lain data lowongan pekerjaan JOLTS, laporan ketenagakerjaan sektor swasta ADP, serta klaim tunjangan pengangguran mingguan.
Laporan non-farm payrolls (NFP) yang dijadwalkan dirilis pada Jumat, 8 Agustus 2026. Rangkaian data tersebut diperkirakan menjadi acuan pasar dalam membaca langkah kebijakan suku bunga The Fed pada pertemuan berikutnya.
(Ilustrasi kurs rupiah terhadap dolar AS. Foto: MI/Susanto)
PMI Manufaktur RI kembali ke zona ekspansi
Di dalam negeri, lanjut Ibrahim, aktivitas manufaktur Indonesia kembali menunjukkan perbaikan pada Juli 2026. Berdasarkan laporan S&P Global Indonesia Manufacturing Purchasing Managers' Index (PMI), PMI manufaktur Indonesia naik menjadi 50,2 pada Juli 2026 dari 46,9 pada Juni.
Angka di atas 50 mengindikasikan sektor manufaktur kembali berada pada fase ekspansi setelah sebelumnya mengalami kontraksi. Peningkatan tersebut ditopang oleh pulihnya volume produksi setelah empat bulan mengalami penurunan.
S&P Global mencatat perbaikan didorong oleh meningkatnya permintaan dan bertambahnya kepercayaan pelanggan. Namun, laju ekspansi masih relatif terbatas akibat kenaikan harga bahan baku, lemahnya permintaan ekspor, serta kehati-hatian pelaku usaha dalam melakukan pembelian bahan baku.
Di sisi lain, Indonesia mencatat deflasi sebesar 0,14 persen secara bulanan (month to month/MtM) pada Juli 2026 setelah bulan sebelumnya mengalami inflasi 0,44 persen. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan inflasi tahunan (year on year/YoY) mencapai 2,88 persen, sedangkan inflasi tahun kalender (year to date/YtD) sebesar 1,65 persen.
Penurunan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 111,89 pada Juni menjadi 111,73 pada Juli menjadi penyebab terjadinya deflasi bulanan. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang deflasi terbesar dengan penurunan harga sebesar 0,89 persen dan memberikan andil deflasi 0,26 persen.
Sementara itu, kelompok transportasi menjadi penahan utama deflasi setelah mencatat inflasi 0,52 persen dengan andil 0,06 persen. Komoditas yang mendorong inflasi kelompok tersebut antara lain bensin sebesar 0,08 persen serta sepeda motor dan pelumas sebesar 0,01 persen.





Komentar (0)