Saham emiten Grup Barito milik taipan Prajogo Pangestu, PT Barito Pacific Tbk (BRPT), menjadi salah satu perhatian utama pelaku pasar.
IDXChannel – Saham emiten Grup Barito milik taipan Prajogo Pangestu, PT Barito Pacific Tbk (BRPT), menjadi salah satu perhatian utama pelaku pasar menjelang pengumuman hasil review indeks MSCI pada pertengahan Agustus 2026.
Head of Investment Specialist Maybank Sekuritas, Fath Aliansyah, mengatakan, dalam artikel yang terbit pada Senin (3/8/2026), review MSCI menjadi salah satu agenda pasar yang paling dinantikan bulan ini.
Perhatian investor tertuju pada BRPT yang merupakan salah satu konstituen penting dalam indeks MSCI Global Standard.
Menurutnya, momentum kali ini semakin menarik karena pasar saham Indonesia masih berada dalam kondisi interim freeze atau pembekuan sementara.
Dalam kondisi tersebut, perubahan komposisi indeks MSCI lebih terbatas dibandingkan periode normal sehingga setiap keputusan terhadap saham yang sudah masuk indeks menjadi semakin krusial.
Fath menilai, apabila BRPT mampu mempertahankan posisinya di dalam indeks MSCI Global Standard, sentimen positif terhadap saham tersebut berpotensi berlanjut.
Keberadaan dalam indeks MSCI umumnya berkaitan dengan potensi aliran dana dari investor institusi global yang menjadikan indeks tersebut sebagai acuan investasi.
Review MSCI memiliki pengaruh besar terhadap pergerakan saham karena menjadi acuan banyak manajer investasi global dalam menyusun portofolio.
Perubahan status suatu saham di dalam indeks kerap memicu perubahan aliran dana asing, meningkatkan atau menurunkan likuiditas saham, memengaruhi volume transaksi, serta membentuk sentimen pasar.
Dua Saham Lain Ikut Tersorot
Dalam riset yang diterbitkan pada 24 Juli 2026, analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Wilbert Arifin mengatakan MSCI akan mengumumkan hasil peninjauan indeks kuartalan pada 13 Agustus 2026 waktu Indonesia dan perubahan tersebut akan efektif pada penutupan perdagangan 31 Agustus 2026.
Dia memperkirakan tidak ada saham baru yang masuk ataupun naik kelas ke indeks standar karena kebijakan pembekuan masih berlaku.
Dengan demikian, peninjauan kali ini lebih bersifat penyesuaian komposisi indeks.
Menurutnya, PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) menjadi kandidat paling kuat untuk diturunkan dari indeks MSCI Standard ke MSCI Small Cap.
Hal itu disebabkan kapitalisasi pasar yang disesuaikan dengan Foreign Inclusion Factor (FIF-adjusted market cap) telah turun di bawah ambang batas setelah harga sahamnya melemah sekitar 22,5 persen sejak peninjauan Mei 2026.
Sementara itu, GOTO dinilai menjadi variabel yang paling sulit diprediksi. Sejak Mei 2026, MSCI telah memantau saham tersebut karena persoalan likuiditas setelah harga saham bertahan di level batas bawah Rp50 per saham.
Wilbert menjelaskan, secara aturan umum GOTO sebenarnya masih memenuhi persyaratan likuiditas. Rasio Annualized Traded Value Ratio (ATVR) selama tiga bulan dan 12 bulan masing-masing mencapai 41,3 persen dan 72,8 persen, jauh di atas ambang batas MSCI sebesar 5 persen dan 10 persen.
Namun, MSCI juga memiliki ruang diskresi untuk mempertimbangkan aspek keterulangan transaksi (replicability).
Menurut Wilbert, harga saham yang terus berada di level Rp50 serta ATVR Juli yang hanya sekitar 0,6 persen dapat menjadi dasar bagi MSCI untuk mengambil keputusan di luar pengujian rasio formal.
Selain perubahan komposisi indeks, MSCI juga memperkenalkan metodologi baru berupa Extreme Price Increase (EPI) Screen. Wilbert menilai aturan ini merupakan respons terhadap dugaan praktik perdagangan terkoordinasi pada saham-saham kapitalisasi kecil di Turki.
Meski demikian, dampaknya terhadap Indonesia dalam waktu dekat diperkirakan masih terbatas karena penambahan saham ke indeks maupun kenaikan kelas masih dibekukan. Aturan tersebut baru akan relevan apabila kebijakan freeze dicabut.
Menurut Mirae Asset, apabila kebijakan freeze dicabut, maka 43 saham yang saat ini menjadi konstituen MSCI Indonesia Small Cap akan kembali dievaluasi.
Saham yang mengalami kenaikan harga signifikan hingga kapitalisasi pasarnya melampaui 1,8 kali ambang batas indeks standar, serta memiliki FIF-adjusted market capitalization di atas separuh ambang tersebut, akan dikeluarkan dari indeks Small Cap.
Selanjutnya, saham tersebut akan dinilai kembali untuk berpeluang masuk ke indeks MSCI Standard pada peninjauan berikutnya, bukan otomatis tetap berada di indeks Small Cap seperti mekanisme sebelumnya.
Mirae Asset memperkirakan penurunan status CPIN berpotensi memicu arus keluar dana pasif sekitar Rp500 miliar atau setara sekitar 150 juta saham.
Apabila GOTO juga dikeluarkan dari indeks standar, tambahan outflow diperkirakan mencapai sekitar Rp1 triliun atau sekitar 20 miliar saham.
Meski demikian, Wilbert menilai dampak tersebut relatif kecil dibandingkan dengan peningkatan kapitalisasi pasar Indonesia sepanjang Juli sehingga diperkirakan dapat diserap pasar.
Dia menambahkan, tantangan utama bagi Indonesia bukan lagi risiko keluarnya dana pasif, melainkan kapan MSCI mencabut kebijakan freeze sehingga bobot Indonesia di MSCI EM dapat kembali meningkat.
"Secara keseluruhan kami tetap konstruktif terhadap prospek pasar saham Indonesia pada semester II-2026 dan memandang pelemahan akibat penyesuaian indeks pada akhir Agustus sebagai peluang akumulasi, meski kepastian penuh baru akan terlihat setelah peninjauan MSCI pada November," tulis Wilbert. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.






Komentar (0)