Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak dunia bergerak menguat tipis pada perdagangan Selasa pagi (4/8/2026), setelah ambruk pada sesi sebelumnya. Pasar masih menimbang peluang berakhirnya konflik Amerika Serikat (AS)-Iran yang hingga kini belum memberikan kepastian, sementara risiko gangguan pasokan dari Timur Tengah belum sepenuhnya hilang.
Mengacu data Refinitiv pada pukul 08.45 WIB, harga minyak Brent berada di US$84,21 per barel, naik 0,53% dibandingkan penutupan sebelumnya di US$83,77 per barel. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) menguat 0,56% ke US$80,79 per barel dari posisi US$80,34 per barel.
Kenaikan ini terjadi sehari setelah Brent anjlok lebih dari 7% dan WTI merosot lebih dari 5%, membawa kedua kontrak ke level terendah dalam beberapa pekan.
Tekanan besar pada perdagangan Senin muncul setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan akan menunda serangan baru terhadap Iran sembari membuka peluang perundingan untuk mengakhiri perang dan menyelesaikan sengketa terkait Selat Hormuz. Jalur pelayaran tersebut menjadi urat nadi perdagangan energi global karena sekitar seperlima konsumsi minyak dunia melintas setiap hari melalui kawasan itu.
Optimisme tersebut langsung mendapat bantahan dari Teheran. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, menegaskan tidak ada negosiasi yang sedang berlangsung dengan AS dan tidak ada agenda pertemuan yang telah dijadwalkan.
Kondisi itu membuat pelaku pasar kembali berhitung. Harapan meredanya konflik memang sempat memangkas premi risiko geopolitik, tetapi belum ada kepastian yang cukup kuat untuk menghapus kekhawatiran terhadap pasokan minyak.
Analis KCM Trade Tim Waterer mengatakan pelemahan harga minyak masih rapuh. Jika konflik kembali memanas atau kapal-kapal di sekitar Selat Hormuz kembali menjadi sasaran serangan, harga minyak dapat kembali melonjak.
Data Barclays turut memperlihatkan aktivitas ekspor energi melalui Selat Hormuz mulai pulih. Pada pekan yang berakhir 31 Juli, ekspor bersih minyak mentah dan produk olahan mencapai rata-rata 4,2 juta barel per hari, meningkat dari 3,2 juta barel per hari pada pekan sebelumnya.
Meski demikian, risiko pelayaran belum hilang. Data pengiriman memperlihatkan enam kapal tanker super berbendera Arab Saudi mengubah rute di Teluk Aden dan berlayar memutar menuju Afrika bagian selatan. Dua kapal tanker lainnya tetap melintasi Selat Bab el-Mandeb dengan muatan minyak Saudi.
Lalu lintas kapal di Selat Hormuz pun masih melambat setelah muncul laporan serangan terhadap sejumlah kapal. Otoritas United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO) bahkan menerima laporan sebuah kapal kargo terkena proyektil tak dikenal sekitar 20 mil laut di timur laut Al Khasab, Oman.
Situasi tersebut membuat biaya asuransi pengiriman tetap tinggi dan memaksa sebagian kapal mengambil jalur yang lebih panjang. Selama dua titik sempit perdagangan energi dunia, yakni Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb, masih dibayangi ancaman keamanan, premi risiko geopolitik di pasar minyak diperkirakan belum akan hilang sepenuhnya.
CNBC Indonesia
(emb/emb)





Komentar (0)