AI Ubah Pola Serangan Siber, Ransomware Kini Lebih Terarah

medcom.id
8 jam lalu
Cover Berita
Guangzhou: Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) tidak hanya membawa perubahan pada cara organisasi bekerja, tetapi juga mengubah strategi yang digunakan pelaku kejahatan siber.
 
Menurut temuan tim Global Research and Analysis Team (GReAT) Kaspersky, kelompok ransomware dan Advanced Persistent Threat (APT) kini memanfaatkan AI untuk merencanakan serangan lebih terarah, sulit dideteksi, dan memiliki peluang keberhasilan lebih tinggi dibandingkan dengan metode yang digunakan beberapa tahun lalu.
 
“Pola serangan ransomware telah mengalami perubahan signifikan. Kelompok ransomware kini tidak lagi menyerang semua target secara acak. Sekarang mereka memilih target secara spesifik,” ujar Head of GReAT META and APAC Kaspersky Sergey Lozhkin dalam presentasinya di ajang Kaspersky Cyber Security Week yang berlangsung pada hari Senin, 3 Agustus 2026.

Lozhkin menjelaskan bahwa sebelum melancarkan serangan, pelaku kini melakukan pengumpulan informasi atau intelligence gathering secara menyeluruh. Pelaku memanfaatkan AI untuk menghimpun data dari berbagai sumber, termasuk media sosial, LinkedIn, dan informasi publik lainnya guna mempelajari karakteristik target.
 
Pendekatan tersebut membuat serangan menjadi lebih terencana sehingga peluang keberhasilannya semakin tinggi. Lozhkin menyebut perubahan tersebut menjadi salah satu alasan mengapa jumlah serangan ransomware yang berhasil dihentikan di kawasan Asia Pasifik pada paruh pertama tahun 2026 menurun dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.
 
Penurunan itu bukan berarti ancaman berkurang, melainkan menunjukkan bahwa pelaku beralih dari serangan massal menjadi serangan yang lebih selektif. AI Dimanfaatkan untuk Mengembangkan Malware dan Teknik Serangan Baru Selain mengubah strategi pemilihan target, AI juga dimanfaatkan untuk membantu proses pengembangan malware. Berdasarkan hasil pengamatan GReAT selama beberapa bulan terakhir, hampir seluruh kelompok ancaman siber telah menggunakan model AI untuk mempercepat pembuatan kode berbahaya.
 
Lozhkin mengungkapkan bahwa timnya menemukan sejumlah kelompok APT mulai memanfaatkan AI dalam proses pengembangan malware, termasuk menyusun kode program hingga meningkatkan efektivitas serangan.
 
Selain itu, pelaku juga mulai menggunakan bahasa pemrograman modern seperti Rust dan Go untuk membuat malware lebih sulit dianalisis maupun dideteksi oleh solusi keamanan. Dalam beberapa investigasi yang dilakukan, tim GReAT juga menemukan teknik komunikasi tersembunyi atau stealth communication untuk mengekstraksi data dari sistem korban.
 
Salah satu contohnya adalah pemanfaatan Microsoft Outlook Calendar sebagai media komunikasi dengan server pengendali atau command and control (C2), sehingga lalu lintas data terlihat seperti aktivitas normal dan tidak mudah dicurigai.
 
Menurut Lozhkin, perubahan teknik tersebut menunjukkan bahwa lanskap ancaman siber saat ini jauh lebih kompleks dibandingkan dengan beberapa tahun lalu. Vendor keamanan siber maupun organisasi perlu menyesuaikan metode deteksi agar mampu mengidentifikasi serangan dengan karakteristik baru tersebut.
 
Serangan Supply Chain dan Zero-Day Masih Menjadi Ancaman Selain ransomware dan APT, Lozhkin juga menyoroti meningkatnya ancaman supply chain attack. Jenis serangan ini terjadi ketika pelaku berhasil menyusupi repositori software atau akun pengembang, kemudian menyisipkan kode berbahaya ke dalam pembaruan aplikasi yang didistribusikan kepada pengguna.
 
Dalam paparannya, Lozhkin menjelaskan bahwa tim GReAT menemukan sejumlah insiden supply chain attack sepanjang tahun 2026, termasuk yang melibatkan software keamanan, aplikasi pengembang, hingga pustaka atau library yang digunakan jutaan pengembang di seluruh dunia. 
 
Karena pembaruan berasal dari sumber resmi, malware dapat tersebar ke banyak perangkat dalam waktu singkat tanpa menimbulkan kecurigaan. Tidak hanya itu, Lozhkin juga menyoroti ancaman eksploitasi kerentanan zero-day yang masih menjadi senjata utama kelompok APT.
 
Selama satu dekade terakhir, tim GReAT menemukan puluhan kerentanan zero-day pada berbagai platform besar. Menariknya, sebagian besar kerentanan tersebut ditemukan setelah lebih dulu dimanfaatkan oleh kelompok peretas dalam operasi nyata.
 
Lozhkin menilai kondisi tersebut menunjukkan bahwa pelaku ancaman terus meningkatkan kemampuan teknis mereka, dari pemanfaatan AI, eksploitasi zero-day, hingga serangan terhadap rantai pasok software untuk memperbesar dampak serangan.
 
Di sisi lain, Lozhkin menjelaskan bahwa AI tetap menjadi teknologi yang memberikan manfaat besar bagi industri keamanan siber. Tim peneliti Kaspersky telah memanfaatkan AI untuk meningkatkan produktivitas analisis ancaman, meski proses investigasi mendalam masih dilakukan secara manual oleh peneliti keamanan.
 
Menurutnya, AI saat ini belum mampu sepenuhnya menggantikan kemampuan analis keamanan dalam memahami konteks sebuah serangan. Karena itu, kombinasi antara kecerdasan buatan dan keahlian manusia masih menjadi pendekatan paling efektif untuk menghadapi ancaman siber yang terus berkembang.
 
Melalui temuan tersebut, Kaspersky mengingatkan organisasi agar tidak hanya memperkuat perlindungan terhadap infrastruktur digital, tetapi juga meningkatkan pemantauan terhadap rantai pasok software, aktivitas AI, serta indikator ancaman terbaru.
 
Langkah tersebut dinilai penting mengingat pelaku kejahatan siber terus beradaptasi dengan memanfaatkan teknologi AI untuk menciptakan serangan yang kian canggih dan sulit dideteksi.
 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(MMI)

Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Iran Tegaskan Selat Hormuz Tak Akan Lagi Sama Gegara Amerika Serikat
• 11 jam lalu
0
thumb
Tiba-tiba Semifinal Piala Presiden, Shin Tae-yong Pilih Persija Lakukan Ini Ketika Lawan Persib
• 10 jam lalu
0
thumb
Pramono Anung Doakan Persija Kalahkan Persib dalam Semifinal Piala Presiden di Bali
• 1 jam lalu
0
thumb
Jadwal Siaran Langsung Semifinal Piala Piala Presiden 2026: Persebaya Surabaya Vs Arema FC, Tonton di Indosiar
• 17 jam lalu
0
thumb
6 Poin Penting Pertemuan Prabowo dan PM Thailand: Beras hingga Mobil Lapis Baja
• 11 jam lalu
0
Berhasil disimpan.