Komunikasi Digital dan Sacredness of Life: Ketika Martabat Manusia Terabaikan

rctiplus.com
9 jam lalu
Cover Berita
Komunikasi Digital dan Sacredness of Life: Ketika Martabat Manusia TerabaikanNasional | sindonews | Selasa, 4 Agustus 2026 - 07:42

Witanti PrihatiningsihDosen Ilmu Komunikasi UPN "Veteran" Jakarta

APAKAH ada nilai moral yang berlaku bagi seluruh umat manusia, terlepas dari perbedaan budaya, agama, maupun sistem politik? Pertanyaan tersebut telah lama menjadi perdebatan di ranah filsafat dan etika, dan dalam disiplin ilmu komunikasi, Profesor Clifford G. Christians dari University of Illinois menjawabnya melalui konsep proto-norm, yakni nilai-nilai moral paling mendasar sebagai fondasi komunikasi yang etis.

Bagi Christians, salah satu nilai yang bersifat universal adalah Sacredness of Life, keyakinan bahwa setiap kehidupan manusia memiliki martabat yang layak dihormati.

Memasuki era media sosial, ketika kata-kata dapat diketik dan disebarkan dalam hitungan detik, prinsip yang tampak sederhana itu justru semakin sering diuji. Penghormatan terhadap martabat manusia, di tengah derasnya arus percakapan digital, kerap terkikis oleh budaya berkomentar yang serba spontan.

Baca Juga:BMKG: 48,9 Wilayah Indonesia Masuk Musim Kemarau, Puncaknya Juli-September 2026

Belum lama ini, seorang perempuan lanjut usia yang tengah melakukan siaran langsung untuk berjualan di media sosial, menjadi sasaran berbagai komentar bernada menghina. Di antara ratusan komentar yang melintas, salah satu yang paling menyita perhatian berbunyi, "Nenek kapan mati?"

Ujaran tersebut bukan sekadar contoh rendahnya kesantunan berbahasa di internet. Dari perspektif etika komunikasi, kalimat itu mencerminkan bergesernya komunikasi dari ruang pertukaran gagasan menjadi ruang yang mengabaikan nilai dasar kemanusiaan yang semestinya dihormati dalam setiap interaksi.Dalam kerangka Sacredness of Life, komunikasi tidak pernah sekadar memindahkan informasi dari satu pihak kepada pihak lain. Setiap kata yang diucapkan juga membawa konsekuensi moral karena selalu ditujukan kepada sesama manusia yang memiliki martabat.

Ketika komunikasi justru merendahkan nilai kehidupan atau memperlakukan seseorang seolah tidak layak dihargai, tindakan tersebut tidak lagi sekadar tidak sopan. Melainkan telah melanggar prinsip etika yang paling fundamental.

Baca Juga:Dramatis! Evakuasi Pilot Amerika Tewas di Yahukimo, TNI Sisir Lokasi Kejar Pelaku

Komentar seperti "Nenek kapan mati?" menjadi contoh yang jelas. Kalimat itu tidak sedang membahas produk yang dijual, kualitas siaran langsung, ataupun perilaku penjualnya. Yang diserang justru keberadaan orang tersebut sebagai manusia.

Pandangan serupa dapat ditemukan dalam pemikiran Richard L. Johannesen, profesor ilmu komunikasi dari Northern Illinois University, yang selama puluhan tahun mengembangkan kajian etika komunikasi. Johannesen berpandangan bahwa komunikasi yang etis seharusnya mendukung kemampuan individu untuk berpikir, berargumentasi, dan membuat pilihan secara bebas dan bertanggung jawab.

Sebaliknya, segala bentuk komunikasi yang menghambat atau mendegradasi kemampuan tersebut tidak dapat disebut sebagai komunikasi yang etis. Jika menggunakan kerangka Johannesen, komentar "Nenek kapan mati?" bahkan gagal memenuhi syarat paling dasar sebagai sebuah tindakan komunikasi.

Baca Juga:Gempa Hari Ini Magnitudo 3,7 Guncang Blitar Jatim

Ujaran tersebut tidak mengandung argumen yang dapat diperdebatkan, tidak menawarkan alasan yang dapat ditanggapi, dan tidak membuka ruang dialog. Komentar itu menghentikan komunikasi sejak detik pertama.Tidak ada jawaban rasional yang dapat diberikan oleh sang nenek karena sejak awal ia tidak sedang diajak berdiskusi, melainkan dijadikan sasaran penghinaan. Lalu, mengapa komunikasi semacam itu begitu mudah bermunculan di media sosial?Efek Disinhibisi DaringPada titik inilah kajian komunikasi bersinggungan dengan psikologi. Untuk memahami perilaku komunikasi di ruang digital, penjelasan mengenai proses psikologis sering kali diperlukan sebagai pelengkap.

Pada 2004, psikolog John Suler memperkenalkan konsep Efek Disinhibisi Daring (Online Disinhibition Effect), yakni kecenderungan seseorang untuk mengekspresikan dirinya secara lebih bebas, lebih ekstrem, dan lebih sedikit menahan diri ketika berinteraksi di dunia maya dibandingkan dalam kehidupan nyata.

Menurut Suler, internet menciptakan kondisi psikologis tertentu yang membuat hambatan sosial yang biasanya bekerja dalam komunikasi tatap muka menjadi jauh berkurang. Suler menjelaskan sedikitnya enam faktor yang mendorong munculnya efek tersebut.

Pertama, dissociative anonymity, ketika anonimitas membuat seseorang merasa tindakannya terpisah dari identitas aslinya.

Kedua, invisibility, yaitu tidak adanya kontak tatap muka yang menghilangkan isyarat nonverbal seperti ekspresi wajah atau tatapan mata.

Baca Juga:Penyerang Polisi yang Tewaskan Aipda Yudhi di Katingan Ditangkap, Bersembunyi di Sungai

Ketiga, asynchronicity, karena komunikasi di internet tidak selalu berlangsung secara langsung sehingga pelaku tidak segera melihat reaksi emosional korbannya.Tiga faktor berikutnya bekerja pada tingkat psikologis yang lebih dalam. Solipsistic introjection membuat lawan bicara dipersepsikan hanya sebagai sosok di dalam pikiran, bukan manusia nyata yang hadir secara fisik.

Dissociative imagination mendorong sebagian orang memandang aktivitas di internet sebagai dunia yang terpisah dari kehidupan sehari-hari sehingga aturan moral dianggap tidak sepenuhnya berlaku. Sementara minimization of authority membuat batas-batas sosial yang biasanya muncul akibat keberadaan figur otoritas terasa jauh lebih lemah di ruang digital.

Keenam faktor tersebut tidak otomatis membuat seseorang menjadi pribadi yang buruk. Justru Suler membedakan efek disinhibisi daring menjadi dua bentuk. Yang pertama adalah Benign Disinhibition, ketika internet mendorong orang untuk membuka diri, berbagi pengalaman pribadi, menunjukkan empati, memberikan dukungan moral, atau mengungkapkan perasaan yang mungkin sulit disampaikan secara langsung.

Baca Juga:KPK Bongkar Upeti Bupati Langkat, Puluhan Proyek hingga Seragam Sekolah Jadi Bancakan

Fenomena oversharing maupun curahan hati di media sosial merupakan contoh bentuk disinhibisi yang relatif jinak. Sebaliknya, bentuk kedua adalah Toxic Disinhibition.

Dalam kondisi ini, berkurangnya hambatan sosial justru memicu munculnya ujaran kebencian, penghinaan, ancaman, perundungan, hingga trolling.

Pelaku merasa cukup aman berada di balik layar sehingga tidak terlalu memikirkan konsekuensi sosial dari kata-kata yang mereka tuliskan. Ironisnya, rasa aman tersebut sering kali hanya bersifat semu.Solidaritas AntarmanusiaDalam beberapa tahun terakhir, publik berkali-kali menyaksikan pola yang berulang. Seseorang melontarkan ujaran kasar di media sosial, korban melapor kepada aparat penegak hukum, proses hukum berjalan, lalu pelaku muncul di hadapan publik dengan permintaan maaf.Fenomena yang dalam bahasa populer internet Indonesia kerap disebut berubah menjadi "ayam sayur" ketika berhadapan dengan konsekuensi nyata ini menunjukkan bahwa anonimitas digital bukanlah tameng yang benar-benar kebal. Apa yang dilakukan di dunia maya tetap dapat berujung pada pertanggungjawaban di dunia nyata.

Pada akhirnya, persoalan ini bukan semata-mata tentang hukum ataupun etika bermedia sosial. Yang dipertaruhkan adalah kualitas ruang publik digital itu sendiri. Ketika penghinaan lebih mudah muncul daripada argumentasi, ketika serangan terhadap martabat manusia lebih sering mendapat perhatian dibandingkan pertukaran gagasan, maka media sosial perlahan kehilangan fungsinya sebagai ruang dialog.

Di sinilah pemikiran Clifford G. Christians kembali menemukan relevansinya. Selain menempatkan Sacredness of Life sebagai proto-norm utama, Christians juga menekankan pentingnya human mutuality, yakni memandang setiap orang sebagai sesama manusia yang saling terhubung dan memiliki tanggung jawab moral satu sama lain.

Prinsip ini mengingatkan bahwa komunikasi pada hakikatnya bukanlah sarana untuk merendahkan, melainkan untuk membangun pengertian dan solidaritas antarmanusia.

Di balik setiap akun media sosial selalu ada seorang manusia. Teknologi mungkin menyembunyikan wajah, suara, dan tatapan mata, tetapi tidak pernah menghapus martabat orang yang berada di balik layar.

Selama kesadaran itu tetap dijaga, media sosial masih dapat menjadi ruang untuk bertukar gagasan. Namun, ketika kesadaran itu hilang, kolom komentar tak lagi menjadi tempat berdialog, melainkan ruang di mana kemanusiaan perlahan terkikis oleh kata-kata.

#nasional

Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Ciri Kepribadian Orang yang Suka Pakai Lipstick Shade Gelap
• 19 menit lalu
0
thumb
Ruben Onsu Akui Kunjungi Panti Asuhan saat Kangen Anak, Mantan Suami Sarwendah Beberkan Ceritanya
• 1 jam lalu
0
thumb
Pilot Malaysia Ditangkap Bawa Narkoba, Sahroni Minta Jalur Kru Pesawat Diperketat
• 3 jam lalu
0
thumb
Naik Pitam Dituduh Idap HIV, Ruben Onsu Singgung Kelahiran Putrinya hingga Curigai Sarwendah
• 7 jam lalu
0
thumb
Kalah Telak dari Vietnam, Apakah Timnas Indonesia Masih Punya Kesempatan Berebut 1 Tiket di Semifinal Piala AFF 2026?
• 17 jam lalu
0
Berhasil disimpan.