Berapa banyak keributan yang sebenarnya bermula dari sesuatu yang sangat sederhana dan sepele: seseorang menegur karena melihat ada yang tidak semestinya, lalu orang yang ditegur tidak terima?
Teguran bisa muncul di mana saja. Di jalan, di tempat kerja, di lingkungan masyarakat, bahkan di antara orang-orang yang tidak saling mengenal.
Seseorang mungkin menegur karena ada aturan yang dilanggar, ada perilaku yang mengganggu, atau sekadar mengingatkan agar sesuatu tidak menjadi lebih buruk. Tetapi anehnya, orang yang ditegur sering kali justru lebih cepat tersinggung daripada mencoba memahami mengapa dirinya ditegur.
Tentu cara menegur juga penting. Teguran yang disampaikan dengan kasar, merendahkan, atau mempermalukan di depan banyak orang dapat memancing emosi. Ada etika dalam mengingatkan orang lain. Namun, cara teguran yang kurang tepat juga tidak serta-merta menghapus kesalahan apabila memang terdapat pelanggaran.
Di sinilah persoalan sering menjadi rumit.
Manusia tidak selalu marah karena merasa dirinya benar. Kadang-kadang manusia marah karena merasa harga dirinya disentuh. Teguran terhadap perilaku diterjemahkan sebagai serangan terhadap pribadi. Akhirnya, yang dibela bukan lagi kebenaran, melainkan ego.
Persoalan menjadi semakin rumit ketika seseorang merasa memiliki "orang belakang". Ada keluarga, teman, saudara, kelompok, jabatan, komunitas, atau orang-orang yang diyakini akan membantu ketika terjadi masalah. Akibatnya, keberanian menghadapi persoalan tidak lagi bergantung pada benar atau salahnya tindakan, tetapi pada seberapa banyak orang yang berada di belakangnya.
Satu orang yang sebenarnya salah mungkin masih bisa berpikir ulang. Tetapi ketika ia merasa memiliki banyak pendukung, keberanian dapat berubah menjadi arogansi. Jumlah kemudian dianggap sebagai kebenaran.
Padahal, sepuluh orang yang membela kesalahan tidak akan membuat kesalahan berubah menjadi benar.
Fenomena ini memperlihatkan betapa mudahnya manusia terjebak dalam loyalitas kelompok. Ketika keluarga atau teman terlibat masalah, naluri pertama sering kali bukan bertanya, "Apa yang sebenarnya terjadi?", tetapi "Bagaimana kita membela orang kita?"
Kita mendengar cerita dari pihak yang dekat, kemudian langsung mempercayainya. Kita membela sebelum mengetahui duduk persoalannya. Kita mencari pembenaran sebelum mencari kebenaran.
Padahal, orang yang benar-benar menyayangi kita tidak selalu harus membela kita. Kadang justru orang yang berani mengatakan, "Kamu salah," adalah orang yang paling peduli. Membela kesalahan hanya karena hubungan darah, pertemanan, atau solidaritas kelompok bukanlah bentuk kasih sayang. Itu justru dapat membuat seseorang semakin jauh dari kemampuan untuk mengoreksi diri.
Di sinilah kita perlu mengingat sebuah pepatah yang sangat sederhana tetapi dalam maknanya: “Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.”
Di mana pun seseorang berada, ia wajib menghormati hukum, norma, adat, dan tata kehidupan masyarakat setempat. Tidak peduli apakah ia penduduk asli, pendatang, orang kaya, orang berpengaruh, atau memiliki banyak teman dan keluarga. Ketika berada di suatu wilayah, ia tidak bisa membawa aturan sendiri dan memaksakan kehendaknya kepada orang lain.
Prinsip ini berlaku bagi siapa saja.
Karena itu, ketika terjadi perselisihan, jangan sampai identitas kelompok justru menjadi alasan untuk menutup mata terhadap persoalan yang sebenarnya. Apalagi jika sebuah pertikaian berujung pada luka berat atau bahkan kematian.
Dalam situasi seperti itu, tidak cukup hanya mengatakan, “Mereka orang kita.” Tidak cukup pula menyelesaikannya hanya berdasarkan cerita sepihak atau tekanan massa. Jika terdapat dugaan tindak pidana, maka proses hukum harus berjalan terhadap pihak-pihak yang memang diduga terlibat, sesuai bukti dan ketentuan hukum.
Bukan berarti semua pihak harus dianggap bersalah.
Justru sebaliknya.
Proses hukum diperlukan agar siapa yang benar dan siapa yang salah dapat diketahui berdasarkan fakta, bukan berdasarkan jumlah pendukung.
Jika sebuah pertikaian menyebabkan kematian, misalnya, maka penyelidikan harus dilakukan secara menyeluruh untuk mengetahui bagaimana peristiwa bermula, siapa yang melakukan apa, apakah terdapat tindakan pembelaan diri, siapa yang memicu kekerasan, apakah ada pengeroyokan, dan bagaimana rangkaian peristiwa hingga akhirnya menimbulkan korban jiwa. Semua harus diuji melalui bukti dan proses hukum yang adil.
Hukum tidak boleh bekerja berdasarkan emosi massa.
Sebab jika hukum hanya berpihak kepada kelompok yang lebih besar, lebih kuat, lebih kaya, atau lebih berpengaruh, maka masyarakat akan belajar satu hal yang sangat berbahaya: bahwa kebenaran dapat ditentukan oleh kekuatan.
Padahal hukum seharusnya justru hadir ketika kekuatan manusia tidak lagi mampu menyelesaikan persoalan dengan akal sehat.
Mungkin kita perlu belajar membedakan antara teguran dan penghinaan. Tidak setiap teguran adalah penghinaan. Tidak setiap kritik adalah serangan. Dan tidak setiap orang yang menunjukkan kesalahan kepada kita adalah musuh.
Ada kalanya seseorang menegur bukan karena membenci, tetapi karena ingin sesuatu berjalan sebagaimana mestinya.
Sayangnya, kita sering ingin dipuji tetapi tidak siap dikoreksi. Kita senang ketika orang membenarkan kita, tetapi marah ketika seseorang menunjukkan kesalahan.
Padahal, manusia yang tidak pernah mau ditegur bukan berarti manusia yang selalu benar. Bisa jadi ia hanya dikelilingi orang-orang yang takut mengatakan kebenaran.
Karena itu, ketika teguran datang, mungkin respons pertama yang lebih sehat bukanlah marah, apalagi mengumpulkan orang untuk membela diri. Berhenti sejenak dan bertanya kepada diri sendiri:
“Benarkah saya sedang dipermalukan, atau sebenarnya saya sedang diingatkan?”
Pertanyaan sederhana itu mungkin dapat mencegah sebuah persoalan kecil menjadi tragedi.
Sebab banyak keributan tidak dimulai dari masalah besar. Ia dimulai dari satu orang yang melakukan sesuatu yang dianggap tidak tepat, satu orang lain yang menegur, kemudian ego bertemu ego. Setelah itu datang keluarga, teman, saudara, kelompok, dan akhirnya persoalan kecil berubah menjadi konflik besar.
Yang awalnya hanya soal siapa yang benar, berubah menjadi soal siapa yang lebih kuat.
Dan ketika sebuah pertikaian telah menimbulkan korban jiwa, tidak ada lagi yang pantas merasa menang.
Yang tersisa hanyalah kehilangan, penyesalan, dan pertanyaan panjang tentang mengapa persoalan yang mungkin semula dapat diselesaikan dengan kepala dingin harus berakhir begitu mahal.
Karena itu, di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung bukan hanya tentang menghormati adat dan budaya. Ia juga tentang kesediaan tunduk pada aturan yang berlaku, menghormati masyarakat setempat, dan memahami bahwa kita tidak hidup sendirian.
Jangan menjadikan keluarga, teman, saudara, kelompok, jabatan, ataupun kekuasaan sebagai alasan untuk merasa kebal.
Jika benar, buktikan melalui proses hukum.
Jika salah, akui dan perbaiki.
Jika terjadi perselisihan, biarkan hukum menemukan duduk perkaranya.
Sebab pada akhirnya, kebenaran tidak ditentukan oleh siapa yang paling banyak berdiri di belakang kita, tetapi oleh fakta yang dapat dipertanggungjawabkan.
Dan ketika kebenaran dikalahkan oleh jumlah, yang sebenarnya menang bukanlah siapa pun.
Yang kalah adalah akal sehat, keadilan, dan kemanusiaan.






Komentar (0)