Harga Emas Menguat, Pasar Cermati Risiko Inflasi dan Data Tenaga Kerja AS

idxchannel.com
3 jam lalu
Cover Berita

Harga emas menguat pada perdagangan Senin (3/8/2026) di tengah ketidakpastian perang di Timur Tengah dan kekhawatiran meningkatnya inflasi.

Harga Emas Menguat, Pasar Cermati Risiko Inflasi dan Data Tenaga Kerja AS. (Foto: Magnific)

IDXChannel - Harga emas menguat pada perdagangan Senin (3/8/2026) di tengah ketidakpastian perang di Timur Tengah dan kekhawatiran meningkatnya inflasi.

Pelaku pasar juga menantikan serangkaian data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) pekan ini untuk mengukur arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed).

Baca Juga:
Musim Laporan Keuangan Semester I-2026 Bawa Angin Segar ke Pasar

Harga emas spot naik 0,25 persen menjadi USD4.055,33 per troy ons.

Analis Marex, Edward Meir, mengatakan, dikutip Reuters, harga emas telah bergerak dalam kisaran yang sempit selama lebih dari satu bulan, yakni di rentang USD4.000 hingga USD4.200 per ons.

Baca Juga:
Wall Street Menguat, Dow Jones Ditutup Rekor Dipicu Meredanya Ketegangan AS-Iran

Menurut dia, salah satu faktor yang menopang harga emas adalah ekspektasi pasar terhadap kembalinya tekanan inflasi, terutama pada Juli ketika data terbaru diperkirakan membalikkan sebagian besar perlambatan inflasi yang terjadi pada Juni.

Di sisi lain, tiga pejabat The Fed yang berbeda pendapat dalam rapat kebijakan pekan lalu dan mendukung kenaikan suku bunga mengatakan pada Jumat bahwa penundaan kenaikan biaya pinjaman berisiko membuat inflasi tetap berada di atas target 2 persen bank sentral.

Baca Juga:
IHSG Hari Ini Masih Berpeluang Menguat, Simak Analisa 4 Saham Berikut

Presiden Federal Reserve New York, John Williams, juga menegaskan bank sentral siap kembali menaikkan suku bunga apabila tekanan inflasi tidak mereda.

Harga minyak turut menjadi perhatian pasar. Kontrak berjangka Brent melonjak lebih dari 20 persen sepanjang bulan lalu setelah konflik antara AS dan Iran kembali memanas serta serangan terhadap sejumlah kapal tanker di sekitar Oman meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan pasokan energi.

Kenaikan harga energi memperkuat ekspektasi bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama untuk mengendalikan inflasi.

Kondisi tersebut menjadi sentimen negatif bagi emas yang tidak memberikan imbal hasil.

Sementara itu, Iran pada Senin menyatakan tidak ada pembicaraan yang sedang berlangsung dengan AS maupun rencana pertemuan dalam waktu dekat.

Pernyataan itu bertolak belakang dengan klaim Presiden Donald Trump yang sebelumnya menyebut pembicaraan akan digelar sebagai alasan pembatalan serangan.

Pelaku pasar kini menantikan sejumlah data ketenagakerjaan AS pekan ini, termasuk laporan ketenagakerjaan ADP dan data nonfarm payrolls, yang diperkirakan menjadi petunjuk penting bagi arah kebijakan moneter The Fed.

Di kawasan Asia, bank sentral Korea Selatan mengumumkan akan membeli emas dari produsen lokal untuk mendiversifikasi sumber pasokan sekaligus meningkatkan cadangan logam mulianya. (Aldo Fernando)


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
KPK Limpahkan Berkas Perkara Yaqut Cholil, Pengacara: Aspek Hukum Kerugian Negara Perlu Diuji
• 18 jam lalu
0
thumb
Gandeng Perusahaan Cina, Lampung Bakal Luncurkan Satelit Berteknologi AI
• 16 jam lalu
0
thumb
Dubes China Dukung Transformasi Transmigrasi Indonesia
• 12 jam lalu
0
thumb
Perbedaan Matcha dan Green Tea
• 15 jam lalu
0
thumb
Karhutla di Spokane Washington Meluas, 60 Ribu Warga Dievakuasi
• 7 jam lalu
0
Berhasil disimpan.