Kemuliaan Tak Mencari Nama

harianfajar
8 jam lalu
Cover Berita

Oleh: Herman Kajang*

Ada satu pemandangan yang tak pernah saya temukan di tempat lain selain di jalan menuju Karbala.

Di sini, manusia tidak berlomba menjadi orang penting. Mereka berlomba menemukan sekecil apa pun kesempatan untuk berkhidmat.

Semakin lama saya berjalan, semakin saya sadar bahwa jutaan peziarah ini sesungguhnya sedang dipikul oleh jutaan manusia lainnya. Manusia yang mungkin tak akan pernah dikenal, tak akan pernah disebut namanya, tetapi diam-diam menjadi bagian dari sampainya langkah para tamu Imam Husain.

Hal ini yang paling sulit saya ceritakan. Bukan karena tak ada kata-kata, tapi karena kata-kata terasa terlalu sempit untuk menjelaskan sebuah jalan sepanjang puluhan kilometer, ketika di jalan itu jutaan manusia tidak sedang berlomba menjadi yang paling terdepan, tetapi berlomba agar jangan sampai tertinggal dalam satu kemuliaan yakni, berkhidmat kepada tamu-tamu cucu nabinya.

Seolah-olah setiap orang takut pulang tanpa pernah menyentuh kehormatan menjadi pelayan bagi tamu-tamu Husain.

Maka jalan sepanjang puluhan kilometer itu berubah menjadi samudra pengabdian.

Tentara menjaga setiap simpang, bukan untuk menunjukkan kuasa, melainkan agar setiap langkah peziarah tiba di tujuan dengan selamat. Petugas kebersihan memunguti sisa-sisa perjalanan tanpa sedikit pun merasa sedang mengerjakan sesuatu yang rendah. Di sudut jalan, jarum seorang penjahit terus menari menyambung pakaian yang koyak. Di sebelahnya, tangan-tangan renta menjahit kembali sandal peziarah yang putus, seakan setiap simpul benang adalah doa agar langkah itu tidak berhenti di tengah jalan.

Beberapa meter kemudian, seorang tukang urut menundukkan tubuhnya di hadapan telapak kaki yang melepuh. Ia mengusap perlahan, memijat dengan pelan, mengembalikan tenaga peziarah yang telah menghabiskan ribuan langkah demi sebuah cinta. Tak ada harga. Tak ada tawar-menawar. Yang berpindah dari tangannya bukan sekadar pijatan, melainkan keikhlasan. Baginya, setiap kaki yang melangkah menuju Husain pantas dibantu agar tetap kuat.

Di mana-mana, asap dapur mengepul tanpa henti. Tangan-tangan yang tak pernah dikenal, memasak sejak dini hari. Panci-panci raksasa mendidih. Roti dibakar. Nasi ditanak. Teh diseduh. Air dingin disiapkan. Tak ada harga. Tak ada kasir. Tak ada syarat selain satu kalimat yang terus hidup di dalam hati mereka: “Jangan biarkan tamu Husain kekurangan.”

Namun yang paling membuat dada saya sesak justru bukan itu.

Yang paling saya ingat adalah anak-anak kecil.
Dengan wajah yang masih lugu, mereka berdiri di pinggir jalan sambil membawa buah, biskuit, atau sebotol air mineral yang hampir lebih besar daripada lengannya sendiri.

Mereka melambai-lambai. Memanggil setiap peziarah., “Ambillah… ambillah…”

Bahkan ketika kita menolak dengan halus karena baru saja makan, mereka tidak menyerah. Mereka berlari kecil mengejar sambil terus menyodorkan apa yang mereka bawa. Seolah-olah mereka takut kehilangan kesempatan untuk memberi.

Saya melihat seorang anak mengangkat satu baki air mineral ke tengah jalan. Setiap botol habis berpindah tangan, ia segera berlari kembali ke tendanya. Tak lama kemudian ia datang lagi dengan kemasan air gelas dingin yang baru. Habis lagi. Ia berlari lagi. Begitu terus.

Tak ada yang memintanya. Tak ada yang membayarnya. Tetapi wajahnya memancarkan kebahagiaan yang sulit dijelaskan.

Lalu di antara keramaian itu, saya melihat seorang lelaki tua berdiri hanya dengan sebotol kecil parfum di genggamannya.
Tak ada dapur besar.
Tak ada tenda megah.
Tak ada hidangan berlimpah.
Ia tidak mempunyai ribuan porsi makanan.
Ia tak mampu menyediakan tempat istirahat.
Yang ia punya hanyalah setetes harum.

Hanya setetes wewangian yang ia usapkan ke telapak tangan setiap peziarah yang lewat.

Setetes…… Sesederhana embun yang jatuh sebelum fajar. Namun entah mengapa, saya merasa lelaki itu sedang mempersembahkan seluruh hidupnya.

Saya memandangnya lama.

Tiba-tiba saya merasa, mungkin di hadapan Allah, setetes parfum itu tidak lebih kecil daripada sepanci makanan. Karena yang sedang dinilai bukan besarnya pemberian.
Melainkan besarnya kerinduan untuk ikut mengambil bagian.

Sebab di Karbala, setiap orang mencari celah menuju berkah. Kalau memiliki rumah, ia membuka rumahnya. Kalau memiliki dapur, ia menyalakan apinya. Kalau memiliki tenaga, ia mengangkat beban orang lain. Kalau memiliki ilmu, ia mengobati. Kalau memiliki keahlian, ia memperbaiki. Kalau memiliki sapu, ia membersihkan. Kalau memiliki tangan yang kuat, ia memijat. Kalau hanya memiliki sebotol parfum, ia membagikan harum. Kalau hanya memiliki sebutir kurma, ia membelahnya agar bisa dinikmati orang lain.

Bahkan anak-anak yang belum mengenal arti pengorbanan pun telah diajari satu pelajaran yang tak diajarkan di banyak sekolah, yakni kebahagiaan terbesar bukan ketika menerima, melainkan ketika berhasil memberi.

Barangkali itulah rahasia yang membuat jalan menuju Karbala terasa begitu hidup. Semua orang sedang melakukan pekerjaan yang berbeda. Namun mereka sedang mengucapkan doa yang sama.

“Ya Allah… jangan biarkan aku hanya menjadi penonton. Berilah aku satu bagian, sekecil apa pun, untuk melayani tamu-tamu Husain.”

Dari perjalanan ini, sebuah pelajaran penting bahwa keberkahan tidak selalu turun kepada mereka yang memberi paling banyak. Sering kali ia singgah kepada mereka yang paling takut pulang tanpa sempat memberi apa-apa. (*)

*Penulis adalah aktivis Kopel Indonesia


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Jaga Stabilitas Kawasan, Prabowo Dorong Peningkatan Kerja Sama Pertahanan dengan Tailan
• 7 jam lalu
0
thumb
Kinerja Keuangan Menguat, Askrindo Bukukan Laba Rp1,69 Triliun Sepanjang 2025
• 19 jam lalu
0
thumb
Produksi Padi dan Jagung Semester I 2026 Naik, Ini Catatan BPS
• 16 jam lalu
0
thumb
Prabowo Gelar Pertemuan 4 Mata dengan PM Thailand di Istana Jakarta
• 11 jam lalu
0
thumb
BPS Catat pada Juli 2026 RI Alami Deflasi 0,14 Persen
• 18 jam lalu
0
Berhasil disimpan.