Indonesia dan Thailand berencana membentuk Joint Trade Committee (JTC) atau Komite Perdagangan Gabungan sebagai upaya meningkatkan perdagangan dan investasi kedua negara.
Rencana itu disampaikan Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul saat melakukan pertemuan bilateral dengan Presiden Prabowo Subianto dalam kunjungan kenegaraannya di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (3/8).
Anutin mengatakan Indonesia dan Thailand sebagai dua negara utama di ASEAN perlu mempererat kerja sama untuk memperluas hubungan bilateral dan mendorong kemajuan kawasan. Ia menyebut Indonesia merupakan mitra dagang terbesar keempat Thailand di ASEAN, namun dengan besarnya perekonomian kedua negara, hubungan dagang tersebut dinilai masih dapat ditingkatkan.
“Indonesia adalah mitra dagang terbesar keempat Thailand di ASEAN, dan kami percaya bahwa Indonesia seharusnya menjadi yang pertama. Mengingat besarnya perekonomian kedua negara, kita harus berupaya lebih untuk meningkatkan volume perdagangan ini,” kata Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul saat melakukan pertemuan bilateral dengan Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (3/8).
Ia mengungkapkan nilai perdagangan bilateral Indonesia-Thailand saat ini telah mencapai sekitar USD 20 miliar atau setara Rp 359,94 triliun (kurs dolar Rp 17.997). Meski demikian, masih terdapat ruang yang besar untuk meningkatkan nilai perdagangan kedua negara.
Menurut Anutin, Thailand siap menjadi tuan rumah pertemuan perdana JTC Thailand-Indonesia di tingkat menteri perdagangan. Forum tersebut nantinya akan difokuskan untuk menyusun target perdagangan baru serta memperluas kerja sama investasi.
Selain pembentukan komite perdagangan, Thailand juga mengusulkan penguatan kerja sama di sejumlah sektor strategis. Di bidang ketahanan pangan, Thailand menyatakan siap menjadi pemasok beras berkualitas tinggi bagi Indonesia, sekaligus mendorong peningkatan ekspor produk daging, susu, dan mesin pertanian ke Indonesia.
Di sektor perikanan, Anutin berharap kedua negara segera menyelesaikan komunike bersama mengenai kerja sama pemberantasan penangkapan ikan ilegal, tidak dilaporkan, dan tidak diatur (illegal, unreported, and unregulated/IUU fishing). Kesepakatan itu dinilai dapat membuka peluang usaha patungan di sektor perikanan.
Sementara di industri halal, Thailand mengusulkan pengembangan standar halal regional, penyelesaian nota kesepahaman (MoU) industri halal, serta pembaruan perjanjian pengakuan timbal balik sertifikasi halal yang akan berakhir pada November 2027..
Tak hanya itu, Thailand juga mengusulkan agar kedua negara menghidupkan kembali Thailand-Indonesia Energy Forum yang terakhir digelar pada 2014. Forum tersebut diharapkan dapat memperkuat kerja sama di sektor energi, mulai dari gas alam, batu bara, hingga pengembangan energi masa depan.
“Saya (Anutin) ingin mengusulkan agar kita melanjutkan kembali Forum Energi Thailand-Indonesia, yang terakhir diadakan pada tahun 2014 dan sudah 12 tahun yang lalu di Bangkok. Jadi, kita harus melanjutkan pertemuan itu lagi untuk meningkatkan kerja sama energi yang mencakup gas alam, batubara, dan sumber energi masa depan,” ujarnya.






Komentar (0)