Perhutani: Hampir Seluruh Karhutla Bondowoso-Situbondo Dipicu Ulah Manusia

beritajatim.com
3 jam lalu
Cover Berita

Bondowoso (beritajatim.com) – Administratur Perhutani KPH Bondowoso, Misbakhul Munir, menyebut hampir seluruh kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah kerja Perhutani Bondowoso-Situbondo dipicu oleh aktivitas manusia. Sementara itu, kemungkinan kebakaran akibat faktor alam dinilai sangat kecil.

Menurut Munir, kawasan hutan Arak-Arak di Desa Gunung Malang, Kecamatan Suboh, Situbondo, merupakan salah satu titik yang rawan terjadi kebakaran.

Selain itu, kawasan Blawan di Kecamatan Ijen, Bondowoso, juga menjadi wilayah yang selama ini mendapat perhatian khusus karena memiliki tingkat kerawanan tinggi.

“Selain Arak-Arak, yang paling sering juga Blawan. Alhamdulillah sejak saya menjabat dua tahun terakhir belum pernah terjadi kebakaran besar di sana. Mudah-mudahan tahun ini juga tidak terjadi,” ujarnya, Senin (3/8/2026).

Ia menjelaskan, musim kemarau yang diperkuat fenomena El Nino membuat suhu udara meningkat dan menyebabkan daun-daun jati berguguran. Tumpukan daun kering di lantai hutan menjadi bahan bakar yang sangat mudah terbakar apabila terkena percikan api.

“Cuaca sekarang sangat panas. Daun jati kering itu sangat mudah terbakar. Orang membuang puntung rokok sembarangan atau membuat api kemudian ditinggalkan saja sudah bisa memicu kebakaran,” katanya.

Misbakhul menegaskan, berdasarkan pengalaman di lapangan, faktor alam hampir tidak pernah menjadi penyebab utama kebakaran hutan.

“Kalau faktor alam seperti gesekan pohon atau batu, persentasenya sangat kecil. Hampir pasti karena aktivitas manusia, baik puntung rokok maupun orang yang membakar sesuatu di pinggir jalan,” tegasnya.

Ia menambahkan, waktu paling rawan terjadinya kebakaran justru berlangsung pada sore hingga dini hari. “Kalau melihat kejadian-kejadian sebelumnya, yang paling rawan itu sekitar pukul 17.00 WIB sampai subuh. Kalau siang justru relatif jarang terjadi,” ungkapnya.

Untuk menekan risiko kebakaran, Perhutani telah memasang berbagai papan peringatan di kawasan hutan yang berisi larangan membuang puntung rokok, membuang sampah sembarangan, hingga imbauan agar tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu api.

Selain itu, Perhutani juga menggandeng pemerintah desa melalui pembentukan Masyarakat Peduli Api. Kelompok tersebut dilibatkan dalam upaya deteksi dini, pelaporan, hingga membantu proses pemadaman ketika terjadi kebakaran.

“Setiap BKPH juga memiliki posko bencana. Saat terjadi kebakaran, masyarakat ikut membantu BPBD memadamkan api dan segera melaporkan jika melihat titik api,” jelasnya.

Khusus bagi wisatawan yang berkunjung ke kawasan Blawan, Misbakhul meminta agar memastikan api unggun benar-benar padam sebelum meninggalkan lokasi. Ia juga mengingatkan masyarakat yang membuka lahan agar tidak membakar sisa vegetasi karena dapat memicu kebakaran yang lebih luas.

Di sisi lain, ia mengungkapkan bahwa motif kebakaran hutan tidak selalu karena kelalaian. Berdasarkan pengalamannya, terdapat pula kasus yang diduga dilakukan secara sengaja oleh oknum tertentu maupun dipicu oleh tindakan orang dengan gangguan jiwa (ODGJ).

“Ada yang sengaja membakar karena iseng atau ingin menguji petugas. Ada juga yang dilakukan ODGJ yang menyalakan api lalu ditinggalkan. Karena itu saya mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama menjaga hutan. Jangan sampai menyebabkan kebakaran, baik karena sengaja maupun tidak sengaja,” pungkasnya. (awi/kun)


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Alih-Alih Bubarkan Anak Motor, Satlantas Polresta Bandung Malah Ngajak Ngopi Saat Patroli Malam
• 13 jam lalu
0
thumb
Spider Man: Brand New Day raih capaian mengagumkan pada akhir pekan
• 22 jam lalu
0
thumb
Pesan Tersembunyi di Balik Harga Big Mac Indonesia Termurah di Dunia
• 20 jam lalu
0
thumb
5 Berita Populer: Rizky Febian soal Teddy; David Jonsson Mirip Chadwick Boseman
• 12 jam lalu
0
thumb
Ikuti Jejak Pertamina, Bulog Ingin Berlakukan Beras Satu Harga
• 39 menit lalu
0
Berhasil disimpan.