Bahlil Senang Elektabilitas Golkar 10,8%, tapi Minta Kader Tingkatkan Kapasitas

kumparan.com
11 jam lalu
Cover Berita

Ketua Umum DPP Partai Golkar Bahlil Lahadalia mengaku senang dengan tren kenaikan elektabilitas Partai Golkar berdasarkan hasil survei yang beredar belakangan ini. Menurut Bahlil, capaian tersebut merupakan buah dari kerja kolektif dan kekompakan seluruh kader partai, mulai dari pengurus pusat hingga daerah.

Bahlil menyinggung hasil survei Indikator Politik Indonesia yang beredar di media sosial. Meski ia mengakui survei tersebut dibantah sebagai publikasi resmi, Bahlil meyakini hasil yang beredar kemungkinan besar benar.

“Informasi yang kedua adalah dari sebuah proses dinamika kita, hasil survei yang dikeluarkan oleh Burhanuddin Muhtadi, tapi dia membantah, tapi saya tahu itu kemungkinan besar benar, itu, bahwa survei Partai Golkar sekalipun dengan dinamika konon cerita katanya kita ini kan pemimpin yang milenial, sekarang kita sudah punya partai kita surveinya 10,8%," kata Bahlil saat membuka kegiatan Training of Trainers (ToT) Akademi Partai Golkar di Kantor DPP Partai Golkar, Jakarta, Senin (3/8).

"PDIP kurang lebih sekitar 13 sekian hampir 14, Gerindra itu dalam survei Burhanuddin Muhtadi, 18 atau 19 lah, kira-kira begitu,” tambahnya.

Bahlil kemudian membandingkan capaian elektabilitas Golkar saat ini dengan tren survei partainya pada periode-periode sebelumnya. Menurut dia, sejak era reformasi, elektabilitas Golkar pada dua tahun setelah pemilu umumnya masih berada di kisaran satu digit.

“Dalam sejarah Partai Golkar pasca reformasi katakanlah kita tarik 2010 ke sini, selalu survei kita itu pasca pemilu 2 tahun, itu rata-rata di 6, 7, 8 maksimal di 9%. Tapi biasanya kan survei Partai Golkar itu antara hasil survei dengan realisasi di Pileg itu lebih tinggi realisasinya. Kalau yang lain realisasinya lebih kecil daripada hasil survei. Jadi kalau kita mau bandingkan sekarang survei partai kita biasanya itu 2 minggu sebelum Pileg itu baru double digit,” ujarnya.

Ia juga mengingat kembali hasil survei menjelang Pemilu Legislatif 2024. Menurutnya, saat itu elektabilitas Partai Golkar baru menyentuh angka dua digit sekitar tiga pekan sebelum hari pemungutan suara.

“Saya kebetulan kemarin cek lagi survei Partai Golkar di pileg 2024, 3 minggu sebelum pileg itu baru kita 10,7%. Nah sekarang kita sudah 10,8%,” kata Bahlil.

Bahlil menilai kenaikan elektabilitas tersebut merupakan cerminan dari kerja kolektif yang dilakukan seluruh kader Partai Golkar. Ia mengatakan, kekompakan partainya mendapat penilaian positif dari masyarakat.

“Apa yang saya mau sampaikan, bahwa kerja-kerja kita, kerja-kerja kolektif kita, kekompakan kita dari DPP sampai ke tingkat daerah itu ternyata mendapat respon yang cukup baik yang kemudian dinilai oleh publik. Nah, ini yang kemudian yang menjadi apa ya, saya senang saja gitu, sekalipun agenda kita banyak di pemerintah,” ujarnya.

Meski demikian, Bahlil mengingatkan Partai Golkar tidak boleh hanya berorientasi pada perolehan kursi semata. Menurutnya, penguatan kaderisasi tetap menjadi fondasi utama dalam membangun partai.

“Akademi Partai Golkar merupakan suatu hasil keputusan dan perintah MUNAS. Perintah MUNAS yang kemudian kita masukkan di dalam anggaran dasar anggaran rumah tangga dan program kerja diperkuat di Rapimnas,” kata Bahlil.

Menurutnya, keberadaan Akademi Partai Golkar bertujuan menghidupkan kembali pola kaderisasi yang selama ini diterapkan para pendahulu partai.

“Yang tujuannya tidak lain adalah bagaimana kita mengembalikan pola-pola yang telah ditanamkan dan diajarkan oleh para pendahulu kita dalam mekanisme kepemimpinan di Partai Golkar,” ujarnya.

Bahlil juga mengakui tujuan setiap partai politik adalah memenangkan kontestasi politik dan memperoleh kekuasaan melalui parlemen maupun eksekutif. Namun, ia mengingatkan agar orientasi tersebut tidak mengabaikan nilai-nilai dasar perjuangan partai.

“Hari ini kita semua terjebak, menurut saya, dalam satu kecenderungan hasil pemilu untuk mendapatkan kursi yang banyak, itu betul. Karena tujuan kita berpartai merebut kekuasaan dan representasi merebut kekuasaan itu adalah bagaimana kita mendapatkan kursi sebanyak-banyaknya di parlemen dan merebut kekuasaan di eksekutif. Karena enggak akan mungkin sebuah ajaran doktrin karya-kekaryaan kita lakukan tanpa ada kekuasaan,” katanya.

Kapasitas Harus Ditingkatkan

Bahlil juga menyampaikan evaluasi terhadap kualitas kader Partai Golkar. Meski menilai kualitas kader Golkar lebih baik dibanding rata-rata partai lain, ia mengaku belum puas dengan kapasitas para kader yang saat ini duduk di parlemen.

“Tetapi izinkan saya, ini sebagai otokritik kita, dalam pengalaman saya menjadi Ketua Umum Partai Golkar hampir 2 tahun kurang 17 hari. Saya terpilih jadi Ketua Umum itu tanggal 20 Agustus 2024. Hari ini tanggal 3 Agustus, berarti 17 hari lagi baru saya genap 2 tahun menjadi Ketua Umum Partai Golkar. Dalam pengalaman itu saya melihat tidak berlebihan kalau saya mengatakan bahwa kualitas kader Partai Golkar ini jauh lebih baik di atas rata-rata ketimbang yang lain. Namun, menurut saya, itu saya tidak puas,” ujarnya.

Ia menilai masih banyak anggota Fraksi Partai Golkar di DPR RI yang perlu meningkatkan kapasitasnya.

“Menurut saya, adalah 102 kursi yang ada kita di parlemen, ini masih banyak yang butuh kita upgrade bersama-sama, kita belajar bersama-sama. Saya ingin bagaimana ketika Bang Ical (Aburizal Bakrie) menjadi Ketua Umum, waktu itu Bang Rambe Kamarul Zaman sebagai Pimpinan Komisi II, mana Bang Rambe tadi? Nah. Bagaimana Bang Zainudin Amali dan para senior-senior semua? Itu menjadi singa forum," kata Menteri ESDM itu.

"Bagaimana Bang Andi Mattalatta ketika menjadi ketua fraksi melakukan orkestra distribusi anggota DPR di masing-masing komisi, kemudian mereka menjadi leader. Nah, itu terjadi karena memang ada by process, bukan semata-mata langsung jadi begitu,” kata Bahlil.

Untuk menggambarkan pentingnya kaderisasi, Bahlil kemudian mengibaratkan Partai Golkar sebagai pohon beringin yang memiliki akar kuat.

“Saya menganalogikan Partai Golkar ini lambang kita ini beringin. Pohon beringin itu rindang, pohonnya bagus, tapi jauh lebih dari itu akarnya. Coba teman-teman membayangkan pohon yang kita tanam dari kecil, dari nol, itu hasilnya akan berbeda dengan ketika kita mengambil pohon beringin dari punya orang atau yang tidak tertanam dalam rumah sendiri, kemudian kita taruh. Pohonnya mungkin bagus, tapi akarnya yang kurang kuat,” ujarnya.

Menurut Bahlil, pemahaman terhadap nilai-nilai dasar perjuangan partai menjadi bekal penting agar kader tidak terjebak dalam pragmatisme politik.

“Analogi sederhana ini saya ingin memakai untuk kemudian bagaimana kita memahami secara kafah nilai-nilai dasar dalam perjuangan partai. Ketika kita tidak memahami nilai-nilai dasar kita, maka sistem politik yang kita pakai, ya mohon maaf, pragmatisme politik itu penting, tapi kalau itu terus yang dikedepankan tanpa ada sebuah nilai yang diperjuangkan secara kafah, itu pasti akan terjadi distorsi tujuan,” ujar Bahlil.

“Nah, ini yang menjadi pikiran saya, kalau bisa ini yang harus kita lakukan. Yang ngono sih ngono, tapi jangan ojo ngono, gitu lho,” pungkasnya.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Prabowo dan PM Thailand bertemu empat mata di Istana Merdeka
• 10 jam lalu
0
thumb
Kedutaan Iran Respons soal Isu Punya Nuklir, Beri Pernyataan Ini
• 4 jam lalu
0
thumb
Pemuda yang Terbawa Arus di Kali BKB Ditemukan Tewas, Terseret Sejauh 1,5 Km
• 18 jam lalu
0
thumb
Prabowo: Indonesia & Thailand Sepakat Perkuat Penegakan Hukum
• 5 jam lalu
0
thumb
OJK Ketemu 100 Investor Global, Pede IHSG Akan Membaik
• 1 jam lalu
0
Berhasil disimpan.