Viral SPG GIIAS Direkam Diam-diam, Menteri Komdigi Sebut Langgar UU PDP

katadata.co.id
1 jam lalu
Cover Berita

Viral di media sosial (medsos) Sales Promotion Girl atau SPG yang bertugas di salah satu booth ajang Gaikindo Indonesia International Auto Show ( GIIAS ) menyatakan tidak mengetahui bahwa dirinya menjadi objek utama konten salah satu influenser setelah video itu beredar di internet. Kementerian Komunikasi dan Digital atau Komdigi pun buka suara.

Menteri Komdigi Meutya Hafid mengatakan perekaman tanpa persetujuan seseorang meskipun dilakukan di ruang publik dapat berimplikasi pada pelanggaran aturan. “Pada prinsipnya, kita perlu sekali mengingatkan bahwa ini pelanggaran terhadap Undang-undang Pelindungan Data Pribadi (PDP). Kedua, iji pelanggaran terhadap etika,” katanya di Gedung Kementerian Komdigi, Senin (3/8).

Ia menjelaskan, setiap orang harus menghormati hak privasi orang lain. Aturan ini berlaku termasuk ketika membuat konten di tempat umum. “Jadi tidak boleh ada orang yang merekam tanpa izin meskipun di ranah publik,” ujarnya.

Ia mengatakan kasus yang terjadi di GIIAS memiliki kesamaan dengan fenomena lain yang terjadi di belakang marak. Salah satunya seperti orang yang sedang berolahraga di jalan raya atau beraktivitas di ruang publik kemudian direkam tanpa persetujuan dan videonya diunggah ke media sosial.

“Jadi kami akan memperlakukan ini sebagai hal yang sama,” katanya.

Ia menambahkan, Kementerian Komdigi telah menerima banyak masukan dari masyarakat terkait maraknya melakukan praktik perekaman tanpa izin. Menurutnya, tindakan tersebut tidak hanya berpotensi melanggar hukum, tetapi juga dapat merugikan korban, terutama perempuan dan anak-anak.

“Jadi sekali lagi penegakan hukumnya dari teman-teman kepolisian. Kaminmengingatkan bahwa di situ ada pelanggaran terhadap UU PDP, di situ ada juga pelanggaran terhadap etika,” ujarnya.

Ia menyatakan perlindungan terhadap perempuan dan anak dari praktik perekaman tanpa persetujuan harus menjadi perhatian bersama. Meutya memastikan Kementerian Komdigi akan meninjau masalah tersebut melalui langkah-langkah di internal kementerian sesuai kewenangannya.

Kasus itu mencuat setelah SPG bercerita melalui akun  Thread @leonnyluhendo bahwa ia baru mengetahui dirinya menjadi objek utama konten setelah video itu beredar di medsos.

Ia bercerita, dua kreator konten awalnya mendatangi  booth  tempat ia bekerja dan bertanya mengenai spesifikasi kendaraan. Setelah itu, percakapan berlanjut ke pertanyaan yang bersifat pribadi, seperti nama dan usia.

Karena menganggap percakapan itu masih dalam batas wajar, ia menjawab seluruh pertanyaan dengan sopan. Belakangan ia baru menyadari bahwa selama interaksi berlangsung dirinya tersingkir tanpa sepengetahuannya. Saya menduga salah satu kamera disembunyikan di dalam kacamata sehingga proses perekaman tidak terlihat.

Ia juga sempat memperlihatkan ponsel yang sedang merekam dari arah belakang di akhir percakapan. Namun, ia mengira kamera iyu hanya digunakan untuk merekam area booth dan kendaraan yang dipamerkan, bukan dirinya sebagai objek utama konten.

Setelah video itu diunggah dengan narasi "Cara Deketin Cewek", perempuan itu merasa tidak nyaman karena tidak pernah memberikan izin untuk direkam maupun dijadikan materi konten di medsos.

Kasus ini kemudian memicu di media sosial. Banyak warganet yang menyoroti etika pembuatan konten dengan merekam seseorang tanpa persetujuan, terutama ketika identitas orang tersebut menjadi fokus utama video.

Kreator konten Emanuel Bryan atau yang dikenal dengan akun media sosial Instagram  @ebemartono  diduga sebagai pembuat video tersebut. Menyusul ramainya kritik, Emanuel mengunggah video permintaan maaf dan memberikan penjelasan mengenai kronologi dari sudut pandangnya.

"Saya ingin minta maaf atas semua kesalahan yang timbul dari kelakuan saya. Saya tidak mengizinkan, saya hanya mau minta maaf atas semua pihak yang merasa dirugikan," ujar Emanuel dalam video tersebut.

Ia juga mengakui seharusnya tidak menyampaikan sejumlah komentar terkait biaya produksi maupun pernyataan lain yang sempat ditulisnya di kolom komentar media sosial. Menurut Emanuel, konsep konten yang dibuatnya berawal dari keisengan untuk berkenalan dengan orang-orang baru, mulai dari wisatawan asing, perempuan, hingga orang yang ditemuinya di ruang publik.

Ia mengaku banyak menerima komentar dari pengikutnya yang merasa terinspirasi untuk lebih percaya diri dalam berinteraksi dengan orang lain. Menurutnya, hal itu menjadi alasan dirinya terus membuat konten serupa.

“Niatnya saya tidak ada niat negatif apa pun, hanya untuk menginspirasi,” kata Emanuel.

Meski demikian, ia mengakui munculnya berbagai kritik dan tuduhan terhadap kontennya. Emanuel menegaskan tidak bermaksud mengizinkan tindakannya dan berjanji akan lebih berhati-hati dalam membuat maupun mengunggah konten ke depan.

"Ke depannya saya akan lebih hati-hati lagi dalam memposting video konten yang saya buat. Saya akan membenahi diri dan meluruskan semua yang terjadi," ujarnya.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
15 Wisatawan Tersengat Ubur-Ubur saat Berwisata di Pantai Selatan Gunungkidul
• 14 jam lalu
0
thumb
Persib Dipastikan Tanpa Mariano Peralta di Semifinal Piala Presiden 2026, Igor Tolic: Dia Belum Siap
• 2 jam lalu
0
thumb
Empat Jenazah Warga Sipil Korban Serangan KKB di Tolikara Teridentifikasi
• 1 jam lalu
0
thumb
Prediksi Starting XI Timnas Indonesia Vs Vietnam di Piala AFF 2026: Kekuatan Penuh Garuda, Segel Semifinal!
• 3 jam lalu
0
thumb
Buat Perubahan Perilaku, Makassar Perkuat Pemilahan Sampah sebagai Budaya Rumah Tangga
• 20 jam lalu
0
Berhasil disimpan.