Jakarta, tvOnenews.com - Rupiah menguat ke Rp18.008 per dolar Amerika Serikat (AS). Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS diprediksi masih akan bergerak melemah pada perdagangan hari ini, Senin, 3 Agustus 2026.
Berdasarkan data Jisdor BI, kurs rupiah terhadap dolar AS berada di level Rp18.058 per dolar AS pada Jumat, 31 Juli 2026.
Posisi rupiah menguat 20 poin dari kurs sebelumnya di level Rp18.078 per dolar AS pada Kamis, 30 Juli 2026.
Perdagangan di pasar spot pada Senin, 3 Agustus 2026 hingga pukul 09.01 WIB rupiah ditransaksikan di Rp18.008 per dolar AS.
Posisi rupiah menguat 14 poin atau 0,08 persen dari posisi sebelumnya di level Rp18.022 per dolar AS.
Dalam riset hariannya, Pengamat Ekonomi dan Pasar Uang Ibrahim Assuaibi mengatakan pelaku pasar akan mencermati sejumlah indikator ekonomi Indonesia, mulai dari neraca perdagangan, inflasi, PMI manufaktur, cadangan devisa, hingga Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang dinilai berpotensi memberikan tekanan tambahan terhadap rupiah.
"Pasar akan melihat tentang banyaknya data yang akan dirilis di Amerika, dan di Indonesia terutama soal neraca perdagangan yang kemungkinan besar neraca perdagangan di bulan Juni ini akan terjadi defisit," ujarnya, Senin (3/8/2026). Selain itu, kata dia, inflasi domestik diperkirakan akan melandai karena dampak intervensi pasar terhadap harga pangan.
Untuk Inflasi, Ibrahim menyebut kemungkinan besar akan melandai karena harga-harga relatif lebih turun akibat adanya intervensi pasar yang bisa saja berada di bawah 3,34 persen.
Di sektor industri, aktivitas manufaktur Indonesia diperkirakan masih belum mampu keluar dari zona kontraksi.
Data PMI Manufaktur Indonesia kemungkinan besar masih akan terkontraksi di bawah 50 walaupun kemungkinan besar di bulan Juli di atas 46,9 meskipun masih terkontraksi.
Hal ini mengindikasikan bahwa tenaga kerja menurun drastis karena PHK di mana-mana.
Dia juga memproyeksikan cadangan devisa Indonesia akan mengalami penurunan dibandingkan bulan Juni sebelumnya.
Menurut dia, tingkat cadangan devisa tersebut belum memenuhi standar yang umumnya menjadi acuan bagi negara dengan peringkat utang kategori investment grade.
Di samping itu, dia menilai daya beli masyarakat masih menghadapi tekanan yang tercermin dari tren penurunan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK).





Komentar (0)