Tangisan yang mendadak berhenti, tubuh kaku, lalu tangan dan kaki bergerak tak terkendali. Pemandangan ini menjadi salah satu mimpi buruk bagi banyak orangtua ketika anak mengalami demam kejang atau yang awam dikenal sebagai step.
Sebagian besar kejang demam terjadi pada usia 6 bulan sampai 5 tahun. Gejala step dimulai dengan suhu tubuh yang naik secara drastis di atas 38 derajat celsius. Gejala berikutnya dapat berupa hilangnya kesadaran, tangan dan kaki gemetar atau kaku, serta mata mendelik ke atas. Setelah kejang mereda, anak menjadi lemas.
Penyebab utama step adalah respons otak anak terhadap kenaikan suhu tubuh yang cepat. Otak anak-anak, terutama pada usia muda, masih dalam tahap perkembangan dan lebih sensitif terhadap perubahan suhu.
Kondisi ini bukan disebabkan oleh infeksi langsung pada otak, melainkan akibat dari demam yang dipicu oleh berbagai infeksi umum seperti flu, pilek, infeksi telinga, atau infeksi saluran kemih.
Meski terlihat mengerikan, step pada umumnya tidak berbahaya, tidak merusak otak, tidak mengganggu kecerdasan anak, dan akan menghilang sendiri seiring bertambahnya usia. Namun, kondisi ini tetap harus diwaspadai karena penanganan yang terlambat atau tidak tepat dapat meningkatkan risiko komplikasi, terutama jika kejang berlangsung lama.
Inovasi tidak selalu harus berasal dari teknologi yang rumit atau berbiaya tinggi.
Penanganannya sering kali terlambat karena orangtua tidak terbangun ketika anak mengalami step di malam hari. Padahal, pencegahan step yang pertama harus dengan usaha menurunkan suhu tubuh apabila anak demam dengan memberikan obat penurun panas.
Untuk itu, dua pelajar asal Jakarta, Kathleen Victoria dan Kimberly Georgia, menciptakan termometer pemantauan suhu tubuh bayi demam yang dikembangkan sebagai upaya mendukung pemantauan kondisi bayi. Inovasi ini bertujuan membantu tenaga kesehatan maupun orangtua dalam melakukan pemantauan dan deteksi dini terhadap perubahan suhu tubuh bayi demam.
”Alat yang kami beri nama BebeTemp ini bisa meningkatkan keselamatan bayi melalui deteksi dini terhadap perubahan suhu tubuh yang tidak normal sehingga penanganan medis bisa dilakukan dengan cepat sebelum kondisi lebih serius dan mengancam nyawa anak,” kata Kathleen saat ditemui di Jakarta, Jumat (31/7/2026).
Cara kerja alat ini amat sederhana, sebuah monitor kecil terhubung dengan kabel sensor suhu yang ditempelkan pada badan anak ketika tidur akan memantau suhu tubuh anak. Ketika suhunya turun di bawah 36 derajat celsius atau naik di atas 38 derajat celsius, alarm akan berbunyi memperingati orangtua agar segera bersiap merawat anaknya.
Mereka menciptakan alat ini berawal dari keresahannya melihat ibunya yang terlihat lelah ketika merawat adiknya yang demam. Mereka berharap temuan sederhana ini bisa bermanfaat bagi banyak orang.
”Ini berbeda dengan termometer konvensional yang hanya memberikan hasil pengukuran sesaat. Alat ini memungkinkan pemantauan suhu secara real time agar tindakan bisa dilakukan lebih cepat dan memudahkan orangtua agar tidak harus terus-menerus memeriksa suhu bayi sepanjang malam,” kata Kimberly.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menilai, alat ini adalah contoh bahwa solusi bagi permasalahan kesehatan dapat lahir dari kepedulian terhadap persoalan yang dihadapi masyarakat sehari-hari. Inovasi tidak selalu harus berasal dari teknologi yang rumit atau berbiaya tinggi, tetapi dapat dimulai dari ide sederhana yang memberikan manfaat nyata bagi tenaga kesehatan maupun orang tua dalam memantau kondisi bayi.
”Alat ini penting karena kesehatan bukan hanya soal mengobati, melainkan juga mencegah sebelum terlambat. Lewat inovasi ini perubahan suhu bayi dapat dipantau secara real time dan menjamin penanganan medis tepat waktu,” ujar Budi.
Pada tahap awal, alat ini akan diproduksi sebanyak 100 unit dan dibagikan kepada anak-anak yang lahir dan dirawat di Rumah Sakit Anak dan Bunda (RSAB) Harapan Kita, Jakarta. Desain yang sederhana, terjangkau, dan mudah digunakan memungkinkan pemantauan suhu dilakukan secara berkesinambungan, baik di rumah maupun di fasilitas pelayanan kesehatan.
Direktur Utama RSAB Harapan Kita, Reni Wigati menjelaskan, alat ini nantinya diberikan utamanya kepada pasien anak yang mengalami kejang berulang. Orangtuanya juga akan dipantau dalam penggunaan alat ini dan jika berdampak baik bukan tidak mungkin alat ini akan diproduksi lebih banyak.
"Jadi nanti kami akan berikan kepada orangtuanya, tiga bulan dan enam bulan kami akan hubungi berkala untuk kami tanyakan kepuasan orangtuanya pada alat ini. Inovasi terkadang tidak perlu yang canggih-canggih," ucap Reni.
Pada tahap awal, alat ini akan diproduksi sebanyak 100 unit dan dibagikan kepada anak-anak yang lahir dan dirawat di Rumah Sakit Anak dan Bunda (RSAB) Harapan Kita
Reni menjelaskan, saat anak mengalami demam kejang, hal terpenting adalah tetap tenang. Orangtua disarankan membaringkan anak di tempat yang datar dan aman, memiringkan tubuhnya agar jalan napas tetap terbuka, melonggarkan pakaian, serta tidak memasukkan sendok, jari, makanan, maupun minuman ke dalam mulut anak. Orangtua juga sebaiknya mencatat berapa lama kejang berlangsung sebagai informasi penting bagi tenaga medis.
Anak harus segera dibawa ke fasilitas kesehatan apabila kejang berlangsung lebih dari lima menit, terjadi berulang dalam satu hari, anak sulit dibangunkan setelah kejang berhenti, atau disertai sesak napas dan warna kulit membiru. Kondisi tersebut memerlukan penanganan medis segera untuk mencegah komplikasi yang lebih serius.






Komentar (0)