Diperbarui, Kompas100 Jadi Acuan Arah Sektor dan Emiten Unggulan

kompas.id
19 jam lalu
Cover Berita

Mulai Senin, 3 Agustus 2026, wajah Indeks Kompas100 resmi berubah. Hasil evaluasi mayor atau rebalancing periode Juli 2026 efektif berlaku, membawa sederet emiten baru ke jajaran papan atas sekaligus menyeleksi ketat anggota yang harus terdepak dari daftar.

Indeks Kompas100 merupakan indeks harga saham yang dihitung dan dipublikasikan secara bersama oleh Bursa Efek Indonesia (BEI) bersama Kompas Gramedia Group sejak resmi diluncurkan pada 13 Juli 2007.

Pengocokan ulang ini bukan sekadar rutinitas administratif tahunan. Di tengah gelombang ketidakpastian pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), investor diajak menyusuri kembali peta kekuatan korporasi nasional secara lebih jernih dan obyektif.

Pada Senin (27/7/2026), terdapat sembilan emiten baru yang masuk menggantikan sembilan emiten lama yang tereliminasi. Sebanyak sembilan penghuni baru Indeks Kompas100 untuk periode Agustus 2026 hingga Januari 2027 tersebut meliputi PT Gudang Garam Tbk (GGRM), PT RMK Energy Tbk (RMKE), PT Sanurhasta Mitra Tbk (MINA).

Ada pula PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP), Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS), Indokripto Koin Semesta Tbk (COIN), PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR), PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk (BIPI), serta PT BFI Finance Indonesia Tbk (BFIN).

Sebaliknya, sembilan emiten yang terpaksa keluar dari jajaran indeks ini adalah PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Bank BTPN Syariah Tbk (BTPS), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT MD Entertainment Tbk (FILM), PT HM Sampoerna Tbk (HMSP).

Mereka yang juga keluar adalah PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP), PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL), PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO), dan PT Transcoal Pacific Tbk (TCPI).

Baca JugaEvaluasi Indeks Kompas100, Saham Kripto dan Dominasi Saham Komoditas Beri Warna Baru

Pembaruan konstituen ini berlaku efektif hingga major review berikutnya pada 29 Januari 2027. Sementara itu, untuk periode efektif jumlah saham penghitungan indeks akan berlaku hingga 30 Oktober 2026 saat dilakukan minor review.

Evaluasi Indeks Kompas100 sendiri secara konsisten digelar empat kali dalam setahun: evaluasi mayor di bulan Januari dan Juli, serta evaluasi minor pada April dan Oktober.

Direktur Pengembangan BEI, Iding Pardi, kepada Kompas, Senin (27/7/2026), mengatakan, proses penyaringan konstituen Indeks Kompas100 dilakukan secara rigit demi menjaga kredibilitas dan likuiditas pasar. Universe pembentukan indeks ini diambil dari 150 saham yang telah tercatat di bursa lebih dari enam bulan dengan nilai transaksi tertinggi di pasar reguler selama 12 bulan terakhir.

Metodologi penghitungannya menggunakan Capped Free Float Adjusted Market Capitalization Weighted. Pendekatan ini menerapkan pembobotan berdasarkan jumlah saham publik yang benar-benar aktif diperdagangkan (free float), dengan batas pembobotan tertinggi (capping) diset sebesar 9 persen untuk tiap saham dalam setiap periode evaluasi.

Free float didefinisikan secara presisi sebagai saham scripless yang dimiliki investor dengan porsi kepemilikan di bawah 5 persen, di luar kepemilikan manajemen dan saham treasury.

Baca JugaBEI Susun Ulang Indeks Kompas100, Saham dengan Kepemilikan Terkonsentrasi Didepak

”Dengan mempertimbangkan aspek likuiditas dan fundamental serta saham yang masuk high shareholding concentration (HSC), terdapat 9 saham yang keluar dan masuk indeks,” ujar Iding.

Penggunaan kriteria HSC merupakan langkah teranyar otoritas bursa untuk memperkuat transparansi perdagangan. Instrumen ini bertugas menyaring saham-saham yang kepemilikannya terlalu terkonsentrasi pada segelintir pihak tertentu sehingga rentan terhadap anomali pembentukan harga.

Saham berkapitalisasi besar yang masuk kategori HSC kali ini, seperti BREN dan DSSA, harus rela tergeser dari keanggotaan Indeks Kompas100 demi mengedepankan kualitas proteksi bagi investor publik.

Pascapengocokan ulang ini, jajaran papan atas indeks diisi oleh saham berkapitalisasi besar dari sektor perbankan. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) kokoh menduduki posisi puncak dengan bobot masing-masing menyentuh batas maksimum sebesar 9,00 persen.

Perubahan penghuni dan pembobotan secara langsung mengubah lanskap porsi sektoral di dalam Indeks Kompas100. Sektor barang baku mencatatkan lonjakan bobot paling tajam, yakni melonjak 2,34 persen menjadi 21,88 persen.

Sektor konsumer siklikal menanjak 1,68 persen menjadi 8,07 persen. Kenaikan porsi bobot juga merambah sektor teknologi yang kini menjadi 2,61 persen, perindustrian menjadi 9,11 persen, serta sektor konsumer nonsiklikal menjadi 2,69 persen.

Indeks Kompas100 mencatatkan total kapitalisasi pasar penuh (”full market cap”) mencapai Rp 5.630,23 triliun dengan nilai kapitalisasi pasar ”free float” yang disesuaikan sebesar Rp 1.623,45 triliun.

Di sisi lain, sektor infrastruktur mengalami penurunan bobot paling signifikan, yakni tergerus 3,69 persen menjadi tinggal 8,96 persen. Porsi sektor energi melorot 3,54 persen menjadi 12,20 persen. Adapun sektor kesehatan serta sektor properti dan real estat masing-masing bertengger di porsi 1,31 persen dan 1,18 persen.

Melihat potret per Juni 2026 tepat sebelum rebalancing, Indeks Kompas100 mencatatkan total kapitalisasi pasar penuh (full market cap) mencapai Rp 5.630,23 triliun dengan nilai kapitalisasi pasar free float yang disesuaikan sebesar Rp 1.623,45 triliun. Angka ini mencerminkan rasio free float yang cukup sehat sebesar 28,83 persen.

Dari sudut pandang valuasi, Indeks Kompas100 menawarkan gambaran yang relatif atraktif. Indeks ini mencatatkan price to earnings ratio (PER) median pada level 9,03 kali serta price to book value (PBV) median sebesar 1,07 kali.

Langkah penyegaran konstituen ini terbilang sangat krusial sebab terjadi di tengah dinamika pasar saham domestik yang tidak sedang baik-baik saja. Sepanjang semester I-2026, bursa saham mengalami tekanan koreksi yang cukup dalam.

Sejak awal 2026 hingga Senin (27/7/2026), Indeks Kompas100 terkoreksi sebesar 33 persen dari posisi 1.193 merosot ke level 806. Tren penurunan ini sejalan dengan pelemahan IHSG dan Indeks LQ45 yang sama-sama terkoreksi sekitar 29 persen pada periode yang sama.

Namun, jika ditarik garis rentang panjang sejak tanggal dasarnya pada 2 Januari 2002, Indeks Kompas100 masih membuktikan ketangguhannya sebagai cermin pertumbuhan ekonomi nasional dengan akumulasi pertumbuhan jangka panjang yang tetap impresif, yakni mencapai +627,91 persen.

Indonesia's Head of Research DBS Group Research, William Simadiputra, menilai keberadaan indeks saham semacam ini memiliki posisi tawar yang unik bagi para pengelola dana dan pemodal institusi.

”Indeks saham itu merupakan salah satu benchmark alternatif terutama saat terjadi performance gap antara saham yang likuid dan tidak likuid. Namun, dengan reformasi bursa saat ini, harusnya itu juga menutup gap karena komposit indeks dengan saham-saham yang kurang likuid,” kata William.

Bangun ekosistem

Mengenai upaya agar Indeks Kompas100 dapat semakin menonjol dan memiliki daya pikat kuat di tengah maraknya pilihan indeks di bursa, William menyarankan agar kriteria penyaringan konstituen terus diasah pada aspek keterjangkauan bagi investor global.

”Kalau saya lihat, sih, mungkin lebih diperhatikan kriteria likuiditas, investability, dan accessibility-nya buat institutional investor asing di mana ini dapat menaikkan dari pamor indeks tersebut,” tambah William.

Pandangan mengenai penguatan daya saing indeks tersebut sejalan dengan visi otoritas bursa. BEI berharap agar Kompas100 memiliki diferensiasi yang jelas dibandingkan dengan indeks utama seperti LQ45 dan IDX80. Dengan penyempurnaan ini, Indeks Kompas100 dapat fokus menjadi investable index, bukan hanya sekadar media index atau benchmark publikasi.

Indeks Kompas100 juga diharapkan dapat lebih mendorong penerbitan produk investasi lain seperti ETF (Exchange Traded Fund), Index Fund, dan produk derivatif yang menggunakan Kompas100 sebagai underlying atau aset acuan, sekaligus meningkatkan utilisasi oleh Manajer Investasi sebagai benchmark kinerja portofolio.

”Semoga indeks Kompas100 dapat menjadi acuan bagi investor pasar modal Indonesia,” kata Iding Pardi.

Editor Senior Kontan sekaligus bagian dari Tim Pengembangan Kompas100 KG Media, Cipta Wahyana, Minggu (2/8/2026), menyatakan, momentum evaluasi anggota indeks ini bukan sebatas rutinitas pergantian daftar nama saham semata.

”Harapan utama kami, evaluasi anggota (rebalancing) Kompas100 tidak dilihat sekadar sebagai pergantian daftar saham, tetapi sebagai momentum untuk membantu investor membaca dinamika pasar,” ujar Cipta.

Menurut Cipta, di tengah tingginya gelombang ketidakpastian ekonomi, baik tekanan suku bunga tinggi, kejutan nilai tukar, maupun dinamika geopolitik, investor membutuhkan semacam radar yang presisi untuk memilah saham mana saja yang berukuran besar, memiliki transaksi likuid, serta ditopang oleh fundamental yang sehat.

”Kompas100 ingin memperkuat posisinya sebagai radar saham unggulan di Indonesia. Indeks ini bukan alat untuk ’menebak’ saham mana yang pasti naik atau menjadi rekomendasi beli-jual. Namun, rebalancing Kompas100 menjadi sinyal awal bagi investor sektor mana yang sedang naik kelas, emiten mana yang semakin likuid, saham mana yang mulai masuk radar, dan risiko apa yang perlu dicermati,” kata Cipta.

Cipta juga menjelaskan bahwa keberadaan Kompas100 memang tidak diposisikan untuk bersaing secara langsung dengan indeks utama bursa. Jika IHSG berfungsi menyajikan potret paling luas atas seluruh saham, serta LQ45 dan IDX80 memilih cakupan saham unggulan yang lebih sempit dan amat selektif, maka Kompas100 mengambil peran di tengah, yakni menyediakan cakupan 100 saham.

Rentang ini dinilai paling ideal untuk membaca pergeseran rotasi antarsektor serta geliat korporasi menengah-besar secara lebih kaya.

Pembeda paling utama terletak pada aspek sintesis antara kekuatan data bursa dan narasi jurnalistik. Kompas100 memadukan metodologi kuantitatif pasar modal dengan kekuatan Kompas sebagai institusi media tepercaya yang matang dalam membangun narasi, wawasan, literasi publik, hingga ruang dialog.

Oleh karena itu, menurut Cipta, diferensiasi Kompas100 ke depan bertumpu pada tiga pilar utama, yakni Indeks, Wawasan (Insight), dan Forum. Sebagai Indeks, Kompas100 menjadi acuan 100 saham unggulan.

Sebagai Insight, Kompas100 tidak berhenti pada daftar saham, tetapi menyajikan wawasan terkini tentang dinamika pasar, rotasi sektor, arah korporasi, hingga peluang maupun risiko baru di pasar saham Indonesia. Terakhir, sebagai Forum, Kompas100 menjadi ruang pertemuan investor, emiten, analis, regulator, dan eksekutif korporasi.

Guna mewujudkan hal tersebut, KG Media tengah merancang tiga pilar pengembangan ekosistem. Pertama, memperkuat merek dan infrastruktur informasi melalui revitalisasi portal khusus Kompas100 serta pemaksimalan eksposur di seluruh jaringan media KG Media.

”Ke depan, setiap rebalancing Kompas100 akan menjadi ritual pasar modal yang kaya informasi. Semuanya akan diulas dalam berita mendalam ataupun laporan khusus yang disajikan oleh media-media dalam kelompok KG,” kata Cipta.

Kedua, penguatan kapasitas rebalancing intelligence. Setiap pasca-evaluasi akan disajikan analisis tajam yang membedah stable leaders (emiten jangkar yang konsisten), rising stars (emiten baru yang potensial), hingga memetakan potensi risiko sektoral yang tersembunyi.

Ketiga, pilar pembentukan komunitas dan kepemimpinan gagasan. Ruang interaksi para pimpinan perusahaan akan diwadahi lewat program CEO Talk, Sectoral Update, hingga agenda tahunan CEO Forum. Sementara bagi investor, akan diselenggarakan agenda berkala seperti Investor Day dan Market Outlook.

Mengenai potensi penerbitan produk turunan investasi, seperti reksa dana indeks, ETF, hingga derivatif beraset acuan Kompas100, pihak pengelola memandangnya sebagai peluang tahap lanjut yang prospektif. Bagaimanapun, ini perlu dibangun secara hati-hati, terukur, dan kredibel demi menjaga kepercayaan publik.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Kebiasaan Orang yang Tidak Bisa Dipercaya
• 8 jam lalu
0
thumb
Satgas Pangan Tetapkan 39 Tersangka Mafia Beras, Kerugian Negara Capai Ratusan Triliun
• 19 jam lalu
0
thumb
Daftar Jalan Dialihkan Saat Kunjungan PM Thailand ke Jakarta
• 13 jam lalu
0
thumb
Sudaryono Vows Zero Tolerance After Hundreds Hospitalized with Suspected Food Poisoning
• 9 jam lalu
0
thumb
Dikaitkan dengan Arsenal, Vinicius Junior Ternyata Terpesona Stadion Liverpool
• 17 jam lalu
0
Berhasil disimpan.