Jakarta (ANTARA) - Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono alias AHY mengatakan bahwa kekayaan budaya Nusantara harus terus dijaga dan diwariskan kepada generasi mendatang, saat membuka lomba Karapan Sapi di Bangkalan, Jawa Timur, dalam rangka menjelang Hari Ulang Tahun (HUT) ke-25 Partai Demokrat.
Menurut dia, Karapan Sapi bukan sekadar tradisi masyarakat Madura, melainkan juga milik Indonesia. Di tengah zaman yang semakin modern dan digital, menurut dia, budaya dan tradisi seperti itu justru semakin penting untuk terus dilestarikan.
"Siapa lagi kalau bukan kita yang menjaganya,” kata AHY dalam keterangan tertulisnya yang diterima di Jakarta, Minggu.
Dia mengatakan bahwa bangsa memiliki tradisi yang menjadi identitasnya. Sebagaimana rodeo di Amerika Serikat atau matador di Spanyol, Karapan Sapi merupakan warisan budaya khas Indonesia yang memiliki nilai historis, sosial, sekaligus ekonomi yang besar.
Karena itu, dia berharap penyelenggaraan Karapan Sapi tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga mempererat silaturahmi serta memperkuat persatuan masyarakat.
“Di tengah kompetisi dan persaingan, kita harus tetap bersatu. Persatuan adalah modal utama untuk membangun Indonesia yang semakin maju,” katanya.
Dia juga menilai tradisi Karapan Sapi mencerminkan karakter masyarakat Madura yang selama ini dikenal memiliki etos kerja tinggi, keberanian menghadapi tantangan, serta menjunjung tinggi kehormatan.
“Tiga nilai itu sangat kuat tercermin dalam Karapan Sapi, yaitu kerja keras, keberanian menghadapi perubahan, dan kehormatan,” kata dia.
Selain melestarikan budaya, dia menilai penyelenggaraan Karapan Sapi itu juga memberikan dampak ekonomi yang nyata bagi masyarakat. Pasalnya, ribuan warga memadati arena lomba, melibatkan pelaku UMKM, seniman, pelaku ekonomi kreatif, generasi muda, hingga kaum perempuan.
“Kegiatan seperti ini menggerakkan ekonomi lokal, membuka peluang usaha bagi UMKM, sekaligus meningkatkan daya tarik pariwisata daerah,” katanya.
Lomba Karapan Sapi yang bertajuk "Piala AHY" tahun ini diikuti 48 pasang sapi dari empat kabupaten di Pulau Madura, yaitu Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep, serta 16 pasang sapi kategori Galatama. Perlombaan berlangsung dalam lima babak, mulai dari penyisihan hingga final.
Menurut dia, Karapan Sapi bukan sekadar tradisi masyarakat Madura, melainkan juga milik Indonesia. Di tengah zaman yang semakin modern dan digital, menurut dia, budaya dan tradisi seperti itu justru semakin penting untuk terus dilestarikan.
"Siapa lagi kalau bukan kita yang menjaganya,” kata AHY dalam keterangan tertulisnya yang diterima di Jakarta, Minggu.
Dia mengatakan bahwa bangsa memiliki tradisi yang menjadi identitasnya. Sebagaimana rodeo di Amerika Serikat atau matador di Spanyol, Karapan Sapi merupakan warisan budaya khas Indonesia yang memiliki nilai historis, sosial, sekaligus ekonomi yang besar.
Karena itu, dia berharap penyelenggaraan Karapan Sapi tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga mempererat silaturahmi serta memperkuat persatuan masyarakat.
“Di tengah kompetisi dan persaingan, kita harus tetap bersatu. Persatuan adalah modal utama untuk membangun Indonesia yang semakin maju,” katanya.
Dia juga menilai tradisi Karapan Sapi mencerminkan karakter masyarakat Madura yang selama ini dikenal memiliki etos kerja tinggi, keberanian menghadapi tantangan, serta menjunjung tinggi kehormatan.
“Tiga nilai itu sangat kuat tercermin dalam Karapan Sapi, yaitu kerja keras, keberanian menghadapi perubahan, dan kehormatan,” kata dia.
Selain melestarikan budaya, dia menilai penyelenggaraan Karapan Sapi itu juga memberikan dampak ekonomi yang nyata bagi masyarakat. Pasalnya, ribuan warga memadati arena lomba, melibatkan pelaku UMKM, seniman, pelaku ekonomi kreatif, generasi muda, hingga kaum perempuan.
“Kegiatan seperti ini menggerakkan ekonomi lokal, membuka peluang usaha bagi UMKM, sekaligus meningkatkan daya tarik pariwisata daerah,” katanya.
Lomba Karapan Sapi yang bertajuk "Piala AHY" tahun ini diikuti 48 pasang sapi dari empat kabupaten di Pulau Madura, yaitu Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep, serta 16 pasang sapi kategori Galatama. Perlombaan berlangsung dalam lima babak, mulai dari penyisihan hingga final.






Komentar (0)