Saat Menyambung Hidup di Ujung Setrum, Dipaksa Menjadi Pelaku ”Love Scamming”

kompas.id
8 jam lalu
Cover Berita

Bagi Bumbum (26), api las dan percikan besi adalah kawan sehari-harinya selama 3,5 tahun bekerja sebagai welder (pengelas) profesional di sebuah perusahaan asing di Kepulauan Riau. Dengan gaji mencapai Rp 9 juta-Rp 10 juta per bulan, pemuda lulusan SMA tahun 2017 ini sebenarnya memiliki karier yang mapan untuk menopang keluarganya sebagai anak sulung dari empat bersaudara.

Namun, sebuah tawaran kerja di Facebook yang menjanjikan posisi serupa di Taiwan dengan gaji sekitar Rp 35 juta, menjadi awal dari perjalanan traumatis yang hampir merenggut nyawanya. Alih-alih bekerja di Taiwan, Bumbum justru terjebak dalam sindikat perdagangan orang di Kamboja.

Lamaran kerja yang dikiranya resmi, ternyata bodong. Tanggal 13 Maret 2024 merupakan tanggal tak terlupakan bagi Bumbun. Setelah dinyatakan diterima untuk bekerja di Taiwan, dia diminta berangkat, dengan menyeberang dari Batam ke Singapura menggunakan kapal feri, lalu melanjutkan penerbangan dari Bandara Changi.

Di Singapura, dia diberikan tiket. Ternyata tiket tersebut menuju Phnom Penh, Kamboja. Saat itu, ia tidak menyadari jika tujuannya adalah Kamboja, karena mengira sedang dalam perjalanan menuju Taiwan. Dia baru menyadari saat tiba di Bandara Phnom Penh.

Babak penderitaannya dimulai sejak kaki Bumbum melangkah keluar dari Bandara Phnom Penh, dan dijemput mobil Alphard. Saat masuk mobil sudah ada dua orang lain di dalam. Ia diminta duduk di tengah. Di tengah jalan, dia terbangun, tiba-tiba dia dibekap. ”Bangun-bangun, saya tiba-tiba sudah di dalam ruangan, cuma pakai celana dalam saja, tangan saya diborgol,” kenang Bumbum tentang hari pertamanya di Kamboja yang diceritakan kepada Kompas, Jumat (31/7/2026) malam.

Baca JugaSumatera Utara Jadi Simpul Perdagangan Orang, Korban Rawan Terjerat Jadi PSK

Selama tujuh hari pertama, Bumbum disekap di ruang isolasi tanpa diperbolehkan mandi, hanya diberi makan seadanya, dan berkali-kali dipukul serta disetrum tanpa alasan yang jelas. Para penyiksanya adalah warga negara asing. Terkadang, yang memukul, sesama warga Indonesia yang menjadi leader di perusahaan tersebut.

Setelah masa isolasi berakhir, dia dipaksa bekerja sebagai admin love scamming, yakni  menipu pria-pria kaya di Indonesia agar mau berinvestasi di toko daring bodong. Dia harus menjalani hari-hari penuh siksaan di daerah Koh Kong yang disebutnya sebagai ”neraka terakhir”.

Kekerasan fisik yang brutal menjadi makanan sehari-hari. Jika tidak mencapai target atau mencoba membangkang, para pekerja termasuk Bumbum akan disetrum, disuruh lari puluhan kali keliling lapangan, hingga dipukul bokongnya menggunakan pipa paralon yang diisi pasir.

Selama sembilan bulan, Bumbum hidup dalam ketakutan. Ia sempat kehilangan harapan dan nyaris memilih untuk mengakhiri hidupnya di bulan keenam karena frustrasi. Beruntung, ia diingatkan oleh seorang rekan kerja untuk tetap bertahan.

Kekerasan fisik yang brutal jadi makanan sehari-hari. Jika tidak mencapai target atau mencoba membangkang, para pekerja termasuk Bumbum akan disetrum.

Baca JugaInfo dari Facebook Dijanjikan Kerja di Malaysia, Malah Dijadikan Penipu di Kamboja

Memasuki bulan ketiga bekerja, Bumbum secara sembunyi-sembunyi melaporkan kondisinya melalui situs Peduli WNI, Kementerian Luar Negeri, setelah menonton tutorial di Youtube. Dia sempat mendapat jawaban lewat Whatsapp. Setelah itu, dia dalam penantian hingga sekitar tujuh bulan.

Penyelamatan akhirnya datang pada Desember 2024 setelah pihak KBRI di Kamboja berkoordinasi dengan kepolisian setempat. Tempat kerjanya didatangi polisi Kamboja, di malam hari sekitar pukul 21.00 saat Bumbum dan rekan-rekannya masih bekerja.

Sebelum dilepaskan, Bumbum dan 15 rekan lainnya sempat dipukul oleh bos dari China. Setelah dijemput polisi Kamboja, mereka meninggalkan gerbang perusahaan. Berjalan sekitar 1 kilomater, mereka dilepas di tengah hutan. Hanya bermodalkan cahaya telepon seluler, mereka berjalan kaki di kegelapan selama 4 jam melewati jalan setapak di pinggir jurang.

Mereka akhirnya berhasil menemukan warga lokal yang baik hati, yang membantu mengantar mereka ke Phnom Penh dengan biaya seadanya. Tiba di KBRI di Kamboja, bukannya dipulangkan, Bumbum justru dibilang melanggar keimigrasian. Sebab, paspornya sudah mati sekitar lima bulan. Pilihannya membayar denda Rp 1.500 dolar AS atau dideportasi.

Karena tak punya uang, dia memilih dideportasi. Setelah penantian panjang selama hampir setahun di Kamboja, bekerja di restoran dan menjaga orang sakit, Bumbum akhirnya dideportasi ke Indonesia pada 11 November 2025. Ia bertemu orangtuanya yang selama sembilan bulan kehilangan kontak dengannya, dan mencoba menata hidupnya kembali dengan bantuan Yayasan Embun Pelangi.

Terkunci di balik pintu apartemen

Cerita serupa juga dialami RNF (19), pemuda asal Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Di tengah hari-harinya yang kosong karena menganggur, lulusan SMP ini membaca sebuah unggahan di media sosial Facebook pada awal September 2025 yang menawarkan posisi sebagai staf administrasi di Malaysia dengan gaji lebih dari Rp 10 juta per bulan.

RNF yang putus sekolah saat kelas II SMA pun tidak berpikir panjang. Baginya, tawaran itu adalah kesempatan emas untuk membantu ayah dan neneknya, sekaligus menyamai kesuksesan ibunya yang sudah lama bekerja sebagai pekerja migran di Timur Tengah.

Baca JugaPerdagangan Orang Berubah, Saatnya Memperbarui UU TPPO

Proses rekrutmen berlangsung sangat cepat. Perekrut tidak menanyakan kualifikasi atau kemampuan kerjanya, tetapi langsung mengatur pembuatan paspor hingga tiket pesawat. Namun, ada satu syarat mutlak yang harus dipenuhi RNF, yakni ia harus mahir berbohong.

Perekrut juga membekali RNF dengan naskah palsu jika sewaktu-waktu petugas imigrasi atau keluarga bertanya tentang tujuannya. ”Saya diminta menjawab hendak menimba ilmu di salah satu akademi sepak bola di Medan,” kenang RNF.

Pada September 2025, RNF bersama empat calon pekerja lainnya terbang dari Jakarta menuju Medan. Kemudian berlanjut ke Malaysia. Namun, mereka tidak berhenti di Malaysia, tetapi melanjutkan perjalanan ke Phnom Penh. Setibanya di bandara, mereka malah dijemput sebuah mobil untuk menempuh perjalanan darat yang melelahkan selama 8 jam, dan berhenti di depan sebuah gedung bertingkat seperti apartemen.

RNF dan temannya dibawa ke salah satu ruangan dengan puluhan komputer yang dioperasikan warga Indonesia untuk sindikat love scamming. Di sana, setiap hari RNF dipaksa mencari 1-2 nomor telepon calon korban melalui Facebook dan Instagram, untuk diperas melalui hubungan asmara palsu dan video asusila.

RNF pernah dipaksa mengangkat galon air 18 kilogram dari lantai 1 hingga lantai 10 melalui tangga serta berkali-kali dipukul.

Selama di perusahaan itu, dia harus berbagi kamar sempit berukuran 4 x 5 meter dengan tujuh orang lainnya. ”Kurang lebih 50 warga Indonesia ada di lantai itu. Jatah makan hanya dua kali sehari, sementara mereka harus bekerja sejak pagi hingga malam hari,” ungkapnya. 

Jika tidak mencapai target, akan mendapat hukuman fisik. RNF pernah dipaksa mengangkat galon air 18 kilogram dari lantai 1 hingga lantai 10 melalui tangga serta berkali-kali dipukul. ”Yang menyedihkan, orang yang memukul saya juga warga Indonesia. Ia melakukan itu karena terpaksa. Jika tidak, ia yang dihukum,” tuturnya, pilu.

Baca JugaPenipuan Daring Jadi Perhatian Kemenlu, Ratusan Korban TPPO Dipulangkan

Setelah bekerja sebulan tanpa upah, RNF akhirnya nekat merekam video penderitaannya dari kamar mandi dan mengirimkannya ke keluarga hingga viral di media sosial. Keluarganya melalui media massa meminta pemerintah menyelamatkan RNF.

Video RNF diketahui perusahaannya di Kamboja. Ia dipaksa membuat video klarifikasi dan sempat dipukul. Beberapa hari kemudian, RNF kemudian dibawa keluar perusahaan dan ditinggalkan di depan kantor KBRI Phnom Penh sekitar pukul 02.00 dini hari. Ia sempat tinggal di sana selama beberapa hari, hingga akhirnya pulang ke Tanah Air pada 22 November 2025.

Bumbum dan RNF hanyalah sebagian kecil dari anak muda yang menjadi korban TPPO ke Kamboja. Ada banyak yang menjadi korban, tetapi mengalami trauma dan tidak sanggup berbicara ke publik.

Dari sisi pemerintah, Direktur Pelindungan Warga Negara Indonesia, Kementerian Luar Negeri, Heni Hamidah, menegaskan, perkembangan industri penipuan daring yang sangat pesat secara global, sehingga menghasilkan keuntungan yang sangat besar bagi jaringan kriminal. Besarnya keuntungan inilah yang mendorong sindikat untuk terus merekrut pekerja dari berbagai negara, termasuk Indonesia.

”Di sisi lain, modus perekrutan semakin canggih. Tawaran pekerjaan dipromosikan sebagai pekerjaan di sektor digital, pemasaran daring, atau layanan pelanggan yang terlihat menarik bagi generasi muda dibandingkan dengan pekerjaan sektor informal atau pekerjaan manual,” ujar Heni.

Namun, setiba di negara tujuan, tidak sedikit dari mereka bekerja dalam aktivitas penipuan daring, baik karena tertipu maupun sengaja, sehingga mengalami eksploitasi.

 


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Super League 2026/2027 Jadi Momen Pembuktian Andik Vermansah Kembali ke Kasta Teratas Bersama Garudayaksa FC
• 16 jam lalu
0
thumb
Kevin Durant: Philadelphia 76ers Kandidat Juara NBA 2027
• 14 jam lalu
0
thumb
Ketergantungan pada Dua Pelanggan Warnai Kinerja BESS Semester I/2026
• 14 jam lalu
0
thumb
Raegitazoro Tuangkan Emosi dalam Peragaan Koleksi Lumen di JF3 2026
• 5 jam lalu
0
thumb
Pendapatan Melesat 121 Persen, GULA Cetak Laba pada Semester I-2026
• 6 jam lalu
0
Berhasil disimpan.