Kumamoto: Korban tewas akibat gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,1 yang mengguncang Prefektur Kumamoto, Jepang barat daya, pekan lalu bertambah menjadi 38 orang, dengan ribuan warga masih bertahan di tempat-tempat pengungsian.
Stasiun televisi pemerintah NHK melaporkan pada Minggu, 2 Agustus 2026, bahwa otoritas telah mengonfirmasi 36 korban meninggal dunia. Dua kematian lainnya masih diselidiki untuk memastikan apakah berkaitan langsung dengan gempa yang terjadi pada Selasa lalu.
Hingga kini, lebih dari 9.200 orang masih mengungsi di sekitar 210 lokasi penampungan darurat. Selain itu, lebih dari 3.400 rumah dilaporkan mengalami kerusakan akibat guncangan kuat tersebut.
Gangguan layanan dasar juga masih terjadi. Pasokan air bersih belum pulih di lebih dari 69.000 rumah tangga dan tempat usaha di Kumamoto, sementara sejumlah fasilitas kesehatan yang terdampak gempa masih berupaya memulihkan layanan.
Cuaca panas turut memperumit kondisi di lapangan. Pejabat setempat menyatakan sekitar 30 orang yang diduga mengalami gejala sengatan panas (heatstroke) dilarikan ke rumah sakit pada Sabtu, ketika suhu di beberapa wilayah Kumamoto melampaui 37 derajat Celsius.
Pemerintah daerah mengingatkan bahwa skala kerusakan secara keseluruhan belum sepenuhnya diketahui. Jumlah bangunan yang rusak diperkirakan masih dapat bertambah seiring berlanjutnya proses inspeksi.
Di sisi lain, pemerintah Prefektur Kumamoto mengumumkan operasi pencarian dan penyelamatan di pusat perbelanjaan Aeon telah berakhir pada Sabtu. Ledakan yang terjadi di mal tersebut sesaat setelah gempa menewaskan tujuh pekerja dan menyebabkan lima orang lainnya mengalami luka-luka.
Jepang merupakan salah satu negara paling rawan gempa di dunia karena berada di kawasan Cincin Api Pasifik (Pacific Ring of Fire). Negara itu mengalami sekitar 20 persen dari total gempa bumi berkekuatan magnitudo 6,0 atau lebih yang terjadi di seluruh dunia.
Baca juga: Tanah di Kumamoto Bergeser 84 Sentimeter Akibat Gempa





Komentar (0)